Cerita Panas

Tukang Sampah: “Aku Pernah Perkosa Gadis Abg Cantik” Part 2

“Dengar cantik aku tidak peduli kalau kamu masih perawan atau bahkan sedang datang bulan, ketahui lah bahwa bapak bahkan lebih suka kalau kamu sedang mens” ” Jadi siapkan dirimu, belajarlah untuk menikmati hal ini” bentakku dengan kasar.

Kupaksakan badannya untuk merebah, agar lebih mudah aku menjamah badannya”ayook nikmati saja cantik, jangan melawan atau bapak akan lebih kasar lagi sama kamu” ancamku

Tapi dia tetap saja meronta dan berusaha memukulku, akhirnya aku mengambil bantal yang ada di sebelah kepalanya dan kulepaskan sarung bantalnya.

Akupun membekap mulut Fanny dengan sarung bantal orang tuanya, dan serta merta membungkam mulut mungil dara belia cantik ini.

Baca Juga: Cerita Sex dengan Sekertaris di Kantor

“Mmmpphh..!”, hanya suara itu yang terdengar di balik rontaannya melawan niat busuk bapak- bapak tukang sampah yang telah kurasuki ini, namun apalah dayanya karena sebentar saja
mulutnya telah tersumpal akupun kini menelikung kedua belah tangan si Fanny ke belakang punggungnya dan mengikatnya dengan sarung bantal lainnya yang Sekejap saja Fanny itu telah kubuat berdaya oleh mereka dan hanya menyisakan suara-suara yang tak jelas maknanya dibalik gumpalan kain yang memenuhi rongga mulutnya.

“Makanya bapak kan sudah bilang, lebih baik kamu nikmati saja terpaksa deh kamu menikmati kontol bapak ini dengan cara seperti ini hehehehe.” tertawaku menyeringai dapat kulihat matanya seakan tak percaya akan apa yang menimpa dirinya hari ini.

“Hahaha.. beruntung sekali dapat gadis perawan sedang mens pula..”, seringai aku memandangi korbanku yang sudah tidak berdaya ini.

Kuangkat kedua belah kaki gadis itu yang masih memakai sendal rumahan ia masih berusaha menendang-nendang kakinya, tetapi kutangkap dan kuciumi kaki-kaki indah miliknya sambil kuciumi aku mencuri pandang memperhatikan Fanny itu terkangkang di atas ranjang orang tuanya sendiri. tidak berdaya dan sangat amat menggoda kejantanan yang melihatnya, dia memakai celana dalam khas abg berwarna hijau muda, dengan renda-renda kecil di sampingnya..

Tetapi yang paling menarik perhatianku, adalah benda yang berada di menempel dibalik celana dalamnya, benda tersebut berwarna putih dan sebagian benda tersebut menempel di bagian luar celana dalam Fanny, ya itu adalah pembalutnya ternyata benar kalau dia sedang mens.

Pelan-pelan kudekatkan tanganku untuk mengusap bagian dalam pahanya yang mulus ini, Fanny terlihat pasrah dia pasti sudah merasa percuma untuk melawan. Makin lama makin kugeser tanganku tepat dia atas memeknya yang masih tertutup oleh celana dalam dan softexnya.

Fanny langsung membanting-bantingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan serta berharap untuk bisa lepas dari keadaannya yang telah terikat erat kedua tangannya ke belakang punggungnya itu.

Dari jari kakinya yang sedang kuciumi itu aku melihat derai air mata gadis itu mulai menetes membasahi kedua pipinya yang putih mulus membuyarkan dandanan tipis di wajahnya yang manis di pandang itu. semakin sibuk kuelus-elus paha dan memek Gadis cantik ini yang masih Celdam dan Softexnya dan aku sangat menikmati setiap sentuhan jarinya pada permukaan kulit paha sang dara cantik ini, sesekali kumasukan jariku ke dalam celah antara vagina dan softexnya,kurasakan jariku terasa basah dan hangat walaupun belum kumasukan jariku ini ke liang kenikmatannya, mungkin ini karena darah dia sedang mens dan dari air pipisnya ketika dia ketakutan tadi. Fanny hanya dapat terus terisak tertahan tangisnya oleh kain di mulutnya, leluasa sekali aku mencabuli korbanku ini.

sesekali juga aku sengaja mengarahkan jariku agak sedikit mengarah ke bgian atas vaginanya, aku berusaha menstimulasi clitorisnya dengan jari bapak tua ini…beberapa kali tidak kutemukan clitorisnya, belahan vagina Fanny sangat kecil…yang kurasakan dari luar hanya lipatan daging kecil yang menutupi lubang kenikmatannya, akhirnya harus ku kangkangkan kakina dengan paksa agar dapat lebih terbuka lagi memeknya yang perawan itu.

sekarang baru kurasakan daging kecil yang sering disebut itil itu ketika kugesek-gesekan jari ini, Fanny terlihat terkejut dan bergelinjak dan terlonjak badannya setiap kali jari ini bergerak pelan menyentuh ujung kulit klitorisnya. Memang dara ini masih perawan, terlihat sekali bahwa ia tidak pernah merasakan bahwa vaginanya dapat memberikan rasa seperti ini.

Ia menutup matanya erat-erat dan nafasnya makin terengah-engah karena sedang dilanda rasa kenikmatan di alat kelaminnya, makin lama makin basah vaginanya… kuhentikan gerakan jariku dan kutarik pelan-pelan jari-jari yang kuselipkan di softexnya itu,setengah jariku terlihat memerah karena darah mens’nya yang menempel tetapi ini terlalu cair untuk darah mens, aku sangat mengetahui darah mens itu seperti apa. Sepertinya ini bukan hanya darah tapi juga darah lubrikasi dari vaginanya karena terangsang…

“Cantikk….lihat nih” kuangkat jariku ke dekat mukanya… awalnya dia tidak mau membuka matanya dan membuang muka, tetapi aku memaksa dan menjambak rambutnya sampai kepalanya makin mendekat ke jariku yang berlumuran darah dan cairan kewanitaannya itu.

“ahhh…mmmmmbbbbb” teriak fanny ketika kujambak paksa.

“Heii..lonte kecil lihat jari ini…!” bentakku…fanny dengan terpaksa membuka membuka melihat jariku… ia mengerenyitkan dahinya, dan berusaha menjauh ketika melihat jariku yang berlumuran darah itu, tapi kutahan dan kutarik kepalanya sehingga ia tidak dapat menghindar.

“lihat ini cantik, bapak mau sembuhin sakit mens kamu…tapi pas bapak coba cek darah mens kamu ternyata kebiasaan ngelonte kamu keluar”

“nih lihat…!” ku makin mendekatkan jariku

“darah mens tuh ga secair ini…! dasar lonte…! baru bapak colek sedikit saja sudah kegatelan memek kamu, lihat darah mens kamu sampai menetes-netes basah seperti ini karena kamu kegatelan” kubiarkan darah mens’nya itu jatuh ke seprai ranjang orang tuanya yang berwarna putih.

“semoga saja nanti kontol bapak bisa memuaskan nafsu lonte kamu Fanny hahaha…” aku menghina dan merendahkannya dengan kata-kata ku, dengan tujuan untuk menghancurkan mentalnya. Fanny terisak terus menerus matanya sudah sembab, tapi masih terlihat cantik.

Kuhentikan aksiku sejenak, aku berdiri mencari kain untuk dapat membersihkan tanganku sambil membiarkan dia untuk beristirahat sejenak.

kubuka lemari pakaian yang ada di pojok kamar ini,ternyata ini lemari ibunya karena di dalamnya adalah kebanyakan pakaian wanita…aku peperkan jariku yang berlumuran darah ini di salah satu pakaian ibunya sambil ku angkat dan kutunjukan ke dia dengan berkata “Canttikk jorok ihh kamu darah mens’nya masa tembus ke seprai ranjang orang tuamu sih hahahaaha… masa ga mampu beli softex sih huahahaha” aku menggodanya terus…kukembalikan baju ibunya dan aku mencari bungkusan softex untuk ku tunjukan ke fanny, kutemukan di bagian dalam lemari tersebut bersama dengan celana dalam ibunya.

Merk’nya kalau tidak salah sama seperti yang tadi aku lihat di tempat sampah, mungkin merk dan jenis softex ini memang kesukaan wanita di keluarga ini.

Ketika kutarik keluar ada beberapa bungkus pembalut terjatuh dari bungkusan di dalamnya, tetapi ada benda kecil juga yang ikut terjatuh dan sepertinya bukan pembalut…

aku menyeringai melihat benda tersebut, ternyata ibunya memiliki vibrator…

“hahaha pantas kamu jadi lonte seperti ini,ternyata ibumu juga seorang lonte rupanya, lihat ini…!” kuangkat benda pink tersebut menunjukkan ke Fanny “kelonteannya ibu tidak dapat dipuaskan bapakmu sampai harus membeli alat ini..!” ejek aku, yang membuat kuping fanny panas mendengarnya…

Fanny terlihat kebingungan dengan vibrator merah muda yang kupegang, dia pasti belum mengetahui apa kegunaan alat ini.

“hehehe tenang cantik nanti bapak akan tunjukan cara memakai alat ini….” “mau ini atau softex nih” aku mengangkat vibrator di tangan kiri dan sebuah pembalut di tangan kanan.

“mending ini aja ya lebih enak nanti hahaha, jauh lebih enak daripada softex yang cuma bisa menyerap darah mens kamu hahaha” tak kutunggu jawabannya, dan kulempar pembalut itu ke lantai, dan kutaruh vibrator itu meja kecil di sebelah ranjang ayah ibunya nanti mungkin kugunakan dalam permainan cabul ini…

Sungguh sangat sepi rumah ini para orang tuanya pasti sedang sibuk mencari uang untuk anak-anaknya dan disini aku sehabis mempermainkan kemaluan anak gadis mereka dan sebentar lagi akan kuperawani anak gadis mereka ini di ranjang mereka sendiri. “hahaha bajingan sekali aku…” tertawa aku memuji kebajinganan diriku ini.

Aku beralih ke bgian dada gadis cantik ini,kuturunkan tali tanktop merah mudanya, kugeser pelan….

tanktop itupun mulai melonggar mempertunjukkan apa yang daritadi ditutupinya, halus sekali kulit fanny kurasakan tidak sengaja kurasakan dan kusentuh kulitnya…Fanny pun bergidik ketika kusentuh kulit dadanya itu.

Fanny berusaha menghindar dengan mengerak-gerakan badannya, tapi percuma karena gerakannya lemah dan tanganku pun sudah kuat mencengkram tank-top dan badan yang mungil ini.

Kuturunkan tanktop merah mudanya sampai terlihat Bra biru muda bergaris-garis dan bergambar kartun menutupi buah dadanya yang ranum itu, terlihat cocok sekali warna bra’nya itu dengan warna kulitnya yang putih merona khas ABG. Badannya sexy seperti wanita cabe-cabean tapi sekaligus memancara aura keanggunan layaknya putri,

“sungguh indah sekali makluk mu ini ya Tuhan” gumamku terpesona melihat kemolekan tubuh fanny.

Bra’nya kalau kutebak mungkin ukurannya 34B walaupun sepertinya masih agak besar sehingga seiring dengan gerakan napasnya yang setiap kali paru-parunya mengempis untuk membuang udara tercipta celah kecil antara daging buah dadanya dan penutup buah dadanya itu, sungguh pemandangan yang sangat mempesona…Fanny memejamkan mata, tidak tahan melihat tatapan mataku yang buas memandangi dan memperkosa secara visual tubuhnya yang mungil, ranum dan masih suci belum terjamah ini.

tidak sabar ingin kujamah buah dadanya ,dengan kasar langsung kutarik cup BH sebelah kanannya keatas hingga ia mengaduh di balik kain yang menyumpal mulutnya…

“Ngghhhhh….”

“awitt..awitt..ellan..llann…saaatt”…sepertinya fanny berkata agar aku pelan-pelan karena buah dadanya terasa sakit ketika BH’nya kutarik keatas dengan kasar tadi.

Payudaranya yang begitu indah bentuknya membulat mancung menantang gravitasi, padat dan berisi berikut puting susunya yang berwarna merah muda sebagaimana layaknya seorang perawan pada umumnya. Aku yang telah mencicipi banyak wanita sebelumnya harus mengakui kehalusan kulit dada gadis ini yang begitu tiada cacat cela sama sekali terpampang di hadapan seorang tukang sampah. Daging dadanya saat tersentuh oleh jari-jari tua ini begitu kenyal dan akupun tak tahan untuk itu mulai memilin-milin puting payudaranya yang mungkin selama ini belum pernah tersentuh oleh lelaki, namun kini aku dengan leluasanya mempermainkan bagian sensitif dan terlarang dari dara ini.

Seketika kelelakianku makin terangsang dan bangkit merasakan nikmatnya memelintir-lintir puting susu dari seorang gadis cantik seperti fanny ini, apalagi gadis ini begitu sempurna dimataku laksana seorang putri khayangan

belum puas kupilin-pilin puting susunya dan kuremas buah dada sebelah kanannya itu, aku pun langsung menarik keatas dengan sekuat tenaga cup Bra’nya yang masih menutupi buah dadanya yang kiri.

“Ahhhh….ahhh” erang fanny kembali, merasakan aku menarik cup bh’nya dengan paksa dan menyakiti buah dadanya yang masih belum pernah dijamah itu.

terpampanglah di depanku payudara gadis cantik ini, baik kiri dan kanan sama-sama mengairahkan mata dan kelakianku… makin sempit rasanya celana ini, melihat gadis cantik ini tidur dengan kaki setengah mengangkang mempertontonkan celana dalamnya yang masih menutupi liang kenikmatannya dan bra’nya yang sudah terangkat dari bagian tubuh yang seharusnya ditutupinya sehingga jelas terpampang buah dada kegadisannya.

Fanny tetap tidak mau memandang aku, di hatinya mungkin merasa malu dan takut.. malu bahwa bagian dirinya yang paling ditutupinya dari tatapan dunia ini sekarang sedang dinikmati oleh seorang bapak tukang sampah, bagian intim yang di idam-idamkan oleh semua laki-laki yang kenal dan melihat dirinya sekarang aku yang pertama yang melihat semuannya dan menjamahnya aku yang bahkan bukan kekasih atau temannya, dan sekaligus juga dipenuhi rasa takut yang mencekam karena dia mengetahui bahwa ini semua hanya masih sebuah permulaan dari sesuatu yang lebih lagi. “cantik…malang sekali nasib kamu, tubuh cantik ini ternyata dinikmati oleh tukang sampah seperti aku hahaha” ejek aku membuat fanny bergidik ketakutan dan makin menangis sesengukan tertahan oleh sumpalan kain di mulutnya…

Sedikit iba aku melihat fanny, sudah dicabuli (dan akan segera diperkosa hahaha)… tapi masih terikat tangannya dan mulutnya, ada baiknya kuberikan dia sedikit keringanan. “Fanny, karena kamu begitu cantik, bapak akan bantu kamu…” mata fanny langsung terlihat gembira, masih saja gadis polos ini berharapan bahwa aku akan melepaskan dia hahahaha…”gadis bodoh”gumamku…

pertama kulepaskan sumpalan ikatan kain di mulutnya, lalu kulepaskan ikatan kain di tangannya yang daritadi terikat di belakang punggungnya.
tapi
bukan berarti aku akan melepaskannya, aku hanya menggeser tangannya keatas kepalanya dan kuikat kembali kedua tangannya.

“Bapak tidak akan menyia-nyiakan tubuhmu cantiiik…” kataku sambil menyeringai…

“Fanny ga mauuu…..hukk..hukk…lepasin fanny…” “jangan perkosa saya…” “ampunin fanny…lepasinn”
tangis dirinya yang sudah tidak tersumpal oleh kain, aku hanya terus menyeringai melihatnya..

“tolonggggg..huk huk.. toll…onggg!”teriaknya, suaranya sudah serak mungkin karena daritadi menangis dan menjerit..

“Percuma cantik, bapak kenal komplek perumahan ini…siang hari seperti ini tidak akan ada yang akan mendengar teriakan kamu”

“Bapak tau tetangga sebelah kiri rumah kamu ini sudah lama dibiarkan kosong ditinggalkan pemiliknya, dan di sebelah kanan rumah kamu ini penghuninya baru akan kembali di sore menjelang malam nanti, jadi percuma saja kamu melawan dan berteriak…lebih baik kamu belajar menikmati saja proses kamu menjadi seorang wanita dewasa hahahaha”

“Aku ga mau….” ” aku ga mau…” “jangan perkosa saya pak…” Fanny berkata-kata terus menolak nasib yang akan menimpanya..

“ahhh….” “sakkittt…ahhhh” fanny terlonjak, ketika aku tiba-tiba meremas buah dadanya itu…sudah tidak sabar diriku untuk menikmati kembali tubuhnya ini.

buah dada gadis ini terasa sangat padat berisi tapi masih terasa kenyal ketika kuremas, kulitnya halus dan putih sekali shingga aku dapat melihat pembuluh darah yang berada di bawah lapisan kulitnya payudaranya ditambah dengan putingnya yang kemerahmudaan memuncaki buah dadanya seraya berdiri tegak di atas gunungan buah dadanya melawan gravitasi. walaupun buah dadanya ini relatif tidak terlalu besar tetapi amat sangat menggoda mata dan iman laki-laki yang melihatnya… sungguh sempurna gadis ini.

“Sakittt…hukk huhu hukk huk…” Fanny terus menangis sesengukan dan terus mengaduh kesakitan, aku bingung karena remasan ku ini tidak terlalu keras sampai dia bisa kesakitan.

“pelann…pelannn…sakittt…!” kaget aku mendengar fanny memerintahkan aku untuk lebih pelan dalam meremas payudaranya, sepertinya dia sudah pasrah akan nasibnya sekarang.

“kenapa cantik…bapak kan tidak terlalu keras mainin tetek kamu” tanya aku sambil tetap membiasakan dia mendengar kata-kata cabul..

“payudara aku sakittt…” lirih fanny, sambil membasuh air mata yang berlinang di matanya… “sakit opoo toh cantik?”

“Aku ga tau pak…biasa sebelum dan ketika mens payudara aku rasanya bengkak dan sakit..” “aku mungkin kanker payudara pak…makanya tolong jangan tambah penderitaan aku” jelas fanny

“Huahahaha….”aku tertawa kencang mendengar penjelasan fanny. “Fanny setiap wanita pasti merasakan teteknya ini terasa bengkak dan agak sakit kalau sedang mens, bukannya kamu punya kanker hahahaha” polos sekali gadis ini mengira dia kanker payudara..

“Sini bapak buat kamu enakan ya cantik…tetek kamu seindah ini masak kamu bilang kanker hahaha” langsung aku berinisiatif mengulum lembut puting buah dadanya sebelah kiri, sambil tanganku yang satu lagi memilin lembut buah dadanya yang sebelah kanan.

kukulum puting payudara gadis yang sedang mekar-mekarnya ini membuat gairah kejantananku semakin bangkit di antara kepolosan dan penderitaan yang tengah dialami fanny yang terpaksa belajar menikmati dan membiarkan dirinya menjadi santapan birahi lelaki tua ini. Di tengah-tengah rakusannya mulut tua ini melahap payudara indah milik fanny, sepertinya fanny mulai merasakan sedikit kenikmatan

dibuktikan dengan absen’nya suara mengaduh yang tadi terus dia keluarkan setiap kali aku menjamah gunung kembarnya ini. Kubasahi gunungan dadanya di sebelah kiri dengan air liurku dan kukombinasikan hisapan lembut dan terkadang kuat dengan tujuan kutengelamkan dirinya dalam nafsu cabul yang tidak mungkin ia mampu lawan. Tangan kiriku juga terus bergerilya menjarah kenikmatan payudaranya yang kanan, kuremas dengan lembut agar payudara yang sedang bengkak agar ini tidak semakin sakit dan tidak lupa kumainkan puting merah mudanya kugesek lembut dengan sentuhan ringan dan kadang kupercepat dengan keras gesekan itu untuk menstimulasi ujung syaraf di putingnya ini. Fanny hanya pasrah dengan tangan tetap terikat dan malahan sepertinya mulai merasakan kenikmatan yang belum pernah dirasakannya.

“emmhhh…sshhhh..hhmmmpp…” desahan fanny merdu mulai terdengar di tengah percabulan paksa ini, mengisi ruang kamar milik orang tuanya.

“slurrpp..cup..cup…slurrpp” bunyi dari mulutku yang rakus menghisap hisap puting payudaranya..

“enak kan cantik…gimana tetekmu ini sudah tidak sakit lagi kan, malahan enak kan?” tantangku…
“engg…Gakk…!..ehmmm mmhhh…gaaa…”
“mmhhh….stopp…jan..gaan…berhentiiii…payudara akuuu…mmhhh hahh hahh..”
“ahhh…hmmm..sshhh…mmmmhhh..ehhh…mmhh”
“sthhoppp…shhhhopp…mmmhh…!” “jhhangaaannn ehh..shh…heeenttii… payu…daraaahh…shhttopp..ahhh..ahhh..shhh” kugigit ringan agar ia tidak menceracau lagi,

tidak jelas apa yang ia minta di tengah nikmat dan keinginannya untuk menyudahi percabulan ini, yang jelas hatinya menolak keras tetapi tubuh dan otaknya sudah semakin tergoda dengan kenikmatan cabul ini.
Tubuh fanny itu kini menari-nari erotis di atas ranjang orang tuanya ini, sambil menahan desakan gairah yang makin mengisi tubuhnya

Terpampang di depan mataku tubuh indah gadis ini adalah dengan pakaian yang relatif masih lengkap tetapi sudah bergeser dari tempatnya, tanktopnya sekarang hnya tergulung di atas perutnya yang rata itu, bra’nya sudah bergeser ke atas dan sudah tidak lagi menutupi payudaranya, roknya juga sudah tersingkap sampai ke celana dalamnya hijaunya terlihat sepenuhnya… Semua pakaian yang ia tadi pakai untuk menghalangi pandangan nakal lelaki untuk melihat lebih jauh sekarang sudah tidak berada lagi di tempat yang semestinya.

Perlahan-lahan mulai kubangkitkan gairah gadis ini melalui zona erotis lainnya agar semakin siap sepenuhnya fanny melayani aku dalam persetubuhan ini. Aku menggeser tanganku yang daritadi memainkan payudaranya sekarang kugerakkan menuju perut gadis ini,perut yang rata dengan pusar yang menantang menghiasi lekuk liku perutnya yang begitu sensual, tidak berlama-lama ku bermain-main di perutnya tanganku langsung bergerak lagi menuju kakinya yang jenjang mempesona dihiasi gelang kaki terbuat dari emas yang melingkar di mata kaki kanannya, dengan liontin kerincing kecil sehingga terdengar gemerincing kecil setiap kakinya bergerak .Kuangkat kepalaku menghentikan cumbuanku di payudaranya, kuperhatikan leher jenjangnya begitu mulus menopang wajahnya yang begitu sedap dipandang mata dari sudut manapun juga dan pada lehernya juga dihiasi kalung emas dengan liontin berbentuk burung merpati melambangkan kesucian dara cantik ini.

Tangan kiriku kufokuskan untuk mengusap-usaph paha kaki gadis ini yang terkangkang di antara tubuhku ini, kembali aku beberapa kali kuarahkan ke pangkal pahanya untuk makin merangsang dirinya. Beberapa menit berlalu aku menggoda gadis cantik ini dalam nafsu erotisnya, aku pun semakin tidak tahan untuk dapat segera mencicipi kesuciannya…

perlahan kubuka celana orange khas petugas sampah kupelorotkan celana dalamku sampai keluar batang pelir bapak tua ini, cukup besar juga ternyata batang pelir bapak tukang sampah ini, kalau kutaksir mungkin sepanjang 17cm dengan diameter sekitar 4cm’an, dan bentuknya agak bengkok keatas. Fanny tidak menyadari kalau batang bapak tua ini sudah terlepas dari kurungannya karena fanny masih terpejam mendesah erat dan melemparkan badannya ke kiri dan ke kanan menahan cumbuan mulutku di buah dadanya yang ranum, ia hanya membuka matanya sesekali lalu memejamkannya kembali mungkin ia masih malu dan takut melihat seorang bapak tua sedang mempermainkan tubuhnya.

Tanpa fanny tau kupegang batang pelir bapak tua ini dan kuarahkan ke lubang kenikmatannya yang masih tertutupi oleh celana dalam dan pembalut menstruasinya…kutempelkan pelan-pelan dan kugesek perlahan dari luar celana dalamnya, fanny masih belum sadar kalau batang pelir ini telah merapat erat dengan lobang kewanitaanya. Mungkin karena dia sudah terangsang berat, mungkin juga karena pembalutnya yang cukup tebal sehingga dia tidak merasakan bahwa yang berada di dekat lobang kewanitaannya adalah batang pelir lelaki.

Pelan-pelan kugerakkan pinggul ini maju mundur seperti sedang berusaha mensetubuhinya walaupun gerak batang pelir ini masih terhadang oleh celana dalam dan softexnya, tapi aku yakin dengan gerakan sperti ini dia pasti dapat merasakan setiap sodokan-sodokan kontol ini. Mulai dari gerakan perlahan, lama kelamaan makin kupercepat berkejar-kejaran dengan desahannya yang makin menjadi

“ahhhh..ahhhh….ahhhh…ssshhhh….mmmhhhh…aaaahhh…”

Kunaikkan pahanya yang mulus itu dan kulingkarkan di pinggangku, persis seperti missionary position, kusodok dan kugesek liang itu dari luar. Gelang kakinya bergemerincing mengikuti gerakan nista ini, fanny terlihat menikmatinya walaupun ia sendiri mungkin tidak sadar benda apa yang sedang memberikan dia kenikmatan yang sangat ini, dia makin mendesah dan keringatan walaupun ini hanya baru sekedar petting dan ditambah lagi ini di sebuah kamar dengan AC yang menyala.

“mmhhhh…”
“hhhh…hehhhehh…hheehhh..”
“eehhh…ehhh…mmhhh…hhhh…hahh…mmmh..hhh…mmmm..” desah fanny ditengah petting ini.

Lima belas menitan aku menggesek2 batang pelir ini dari luar celana dalamnya, muka fanny makin memerah dan nafasnya makin mendesah cepat suhu badannya pun kurasakan makin terasa hangat di gengamanku, peluh keringatnya bermunculan di dahi dan lehernya, berkilauan diterpa cahaya lampu membuat kulitnya makin indah dipandang…

“hmmmm….ahh…ahh…shhhh…ahhh…ahhh…mmmmmmmmm…aaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh…!”

Fany setengah berteriak dan bergidik gemetar di bawah tubuhku, sepertinya dia mengalami orgasmenya yang pertama….

“aaaahhhhh..ahh…ahh..ah..shhhhhhh”
“mmmmhhhhhhh….” Desah fanny mengakhiri gelombang kenikmatan yang ia rasakan.

kudiamkan dirinya sejenak menikmati kenikmatan cabul yang baru pertama kali ini ia rasakan, nafasnya memburu dan buah dadanya bergerak naik turun dengan cepat mengikuti irama napasnya. Aku memakai kembali celanaku dan berdiri menuju kamar mandi untuk mencuci mukaku yang berpeluh ini, saat dia beristirahat aku mengambil smartphone miliknya dan menyambungkannya ke alat charger lalu kunyalakan fitur video recording dan kuposisikan di atas sebuah lampu meja mengarah ke ranjang tempat fanny masih terkapar lelah tidak menyadari aku sedang berusaha menvideokan perkosaan ini.

Selesai bersiap-siap aku mendekati fanny, sepertinya masih lemas akibat pencapaian orgasme pertama dalam hidupnya aku pun mulai bergerak tanpa memberikannya waktu lebih untuk beristirahat untuk melanjutkan perkosaan ini,
“Sekarang giliranmu memuaskanku ya cantik…” kubuka perlahan celana dalamnya, baru kutarik sedikit celana dalamnya turun sekitar 4cm hampir mempertunjukkan apa yang paling ditutupinya dan dirahasiakannya selama ini.

tiba-tiba fanny langsung berteriak dan menutupi bgian intimnya tersebut dengan tangannya yang terikat “Jangaaaaann…”, fanny langsung berusaha menarik kembali celana dalamnya keatas.

Aku langsung marah besar, kutampar fanny dengan keras…
“Plaaakkk…!”
“Dengar lonte kecil, jangan egois kamu… kamu sudah aku puaskan tapi masih sombong rupanya” kataku memarahinya…

“Pokoknya ga mau…Arggghh… breet…” belum selesai dia merengek langsung kutarik tanggannya yang terikat tersebut keatas, dan langsung kuikat tiang ranjang orang tuanya. “Seharusnya dari tadi bapak lakukan ini, dasar lonteee..!”

dia masih berusaha mengatupkan kedua pahanya agar aku tidak dapat dengan mudah membuka celana dalamnya, tapi percuma karena sekuat apa gadis kecil dapat melawan tenaga seorang lelaki dewasa, aku buka pahanya itu dengan paksa dan ketika terbuka aku masukkan tubuhku di tengah-tengah jepitan pahanya dan maju perlahan menuju pangkal pahanya, dengan cara seperti ini pahanya tidak dapat lagi mengatup karena terhalang tubuhku. Kutarik celana dalamnya sampai ke paha, terpampanglah gundukan vagina’nya yang masih rapat itu dihiasi bulu kemaluan tipis di bagian atasnya tidak terlalu lebat sepertinya dia sering mencukur bulu kemaluannya, lebih kebawah lagi terlihat sebuah celah menyerupai garis vertikal tipis diantara daging menandakan betapa rapatnya kemaluan gadis cantik ini.

Di celana dalam hijaunya itu masih tertempel erat Ppembalutnya yang terlihat penuh menampung darah menstruasinya di bagian tengahnya sampai ke belakang pembalut panjang itu, yang memang didesain khusus untuk wanita yang darah mens’nya sedang keluar banyak seperti di hari pertama dan kedua dari siklus bulanannya itu, aku tahu karena membaca sekilas di bungkusan pembalut yang tadi kutemukan. Tidak ada bau yang menusuk kucium hanya sedikit bau anyir dari darah mensnya walaupun banyaknya darah menstruasi yang tertampung di pembalutnya itu, menandakan bagusnya kualitas pembalutnya dan bersihnya kemaluan gadis ini sehingga tidak ada bakteri yang dapat menyebabkan darah kotor ini menjadi berbau.

Foto ilustrasi pembalut bekas(klik untuk melihat)
http://imgbox.com/CoDZno7O
http://imgbox.com/Xb8ZM0CV

Tiba-tiba ia berteriak kembali “sttttoppppp…janggaann lihattt hukkk hukkk” fanny kembali menangis sesengukan sambil menendang-nendangkan kakinya berusaha mengusir tubuhku yang berada diantara tubuhnya ini.

“Percuma lonte cantik, lebih baik kau pasrahkan untuk bapak atau kalau tidak…” kuangkat jariku menunjuk smartphone miliknya yang tadi kutaruh di pinggir ranjang ini, warna kelap-kelip merah di lampu indikator yang menunjukkan daritadi sedang merekam terpantul dengan jelas dari tembok yang ada di belakangnya.

Fanny pertamanya tidak menyadari, tapi langsung berteriak histeris ketika menyadari bahwa tubuhnya yang setengah bugil ini telah kurekam diam-diam…

“Tidaaaaaaaaaaaakkk….!”

“Makanya pilihan kamu cantik, mau video ini beredar di kalangan supir dan satpam komplek ini ??” tanyaku menakuti..
“Pastinya mereka akan sangat senang melihat tubuh cantik ini sedang dientot, bukan tidak mungkin juga mereka suatu saat akan mencari kesempatan memperkosa kamu juga karena tergoda video ini” aku semakin melanjutkan ancamannku kalau fanny tidak mau menurut.
“Belum kalau orang tuamu sampai tahu anak gadisnya diperkosa di kamar mereka, di atas ranjang mereka ketika sedang datang bulan lagi….. Kalau anak gadis bapak seperti itu bapak mah mending bapak bunuh diri daripada malu hahahaha….” Aku mengakhiri ancamanku dengan membawa orang tuanya.

“jangannnn hukk..huhu..hukk…” tendangannya berhenti seketika menandakan keputusasaannya, hanya tersisa tangis yang sesengukan yang dapat ia lakukan.

“Makanya kamu yang nurut, nanti bapak ga akan tunjukin ke siapa-siapa…tapi akan bapak terus rekam supaya kamu terus nurut sama bapak”

Melihat fanny sudah putus asa akupun bergerak menaruh jariku di garis vertikal yang ternyata berbulu tipis itu, kutarik daging yang membentuk garis vertikal itu ke kiri dan ke kanan. Perlahan belahan bibir kemaluannya terkuak sedikit dan secara bersamaan pula aku dapat melihat isi didalam belahan keintiman gadis belia cantik ini yang begitu tiada cacat dan celanya, belahan bibir kemaluannya masih sempit memerah karena sedang datang bulan serta sudah agak lembab membasah karena orgasmenya tadi.

Untuk dapat melihat lebih jelas, kupelorotkan celana dalamnya dengan mengangkat sebelah kakinya untuk meloloskan celdamnya itu.Lalu kukangkangkan kakinya lebih lebar lagi, dibalik belahan bibir luar dari memek gadis itu yang terbuka mengangkang terdapat pula bibir dalamnya yang masih mengatup rapat dan hanya menyisakan lubang kecil yang lebih kecil daripada sebesar ujung jari kelingking, aku agak khawatir melihat hal ini karena sepertinya kontol butuh perjuangan besar untuk dapat memasuki liang itu, tapi keraguanku berubah menjadi semangat ketika aku melihat selaput dara tanda keperawanan fanny terpampang menjaga jalan masuk di sekitar lubang kecil tersebut. Segel kegadisan yang selama ini betapa telah dijaga dan begitu dirawatnya dengan sangat hati-hati sekali agar kelak dapat dipersembahkan kepada orang yang dicintainya. Kini terpaksa harus terpampang jelas di depan bapak tukang sampah tua yang sudah dirasuki ini.

“Fanny, kamu udah pacaran belum??” tanyaku menghentikan tangis sesengukannya. “hukk blum..hukk..”
“Pernah pacaran?” lanjut aku bertanya
“Dah putus huhu…” Jawab fanny sekenannya..
“Ooh dah putus…cowo kamu masa sih ga pernah tidurin kamu? padahal kamu macam lonte kegatelan begini?”
“Hukkk huhuhu…tlong jangan sebut saya lonte pak” fanny berusaha menghentikan kata-kata cabulku..”Ehh kamu berani mau melawan, bapak sebar nih???” ancamku..”Iya ampun pak”
“Coba ngomong keras-keras… “AKU FANNY LONTE, PUNYA MEMEK DAN TETEK YANG KEGATELAN UNTUK DIENTOT, SAMPAI TUKANG SAMPAH SAJA AKU GODA WLAUPUN AKU LAGI MENSa…HIDUP FANNY LONTE ..HIDUP MEMEK GATELL!”” aku memerintahkannya berkata cabul..

“Aku ga bisa huk hukk..plaaakkk…” kutampar dia setelah mendengar ketidakmaunnya dia untuk mengikuti apa kataku. “CEPAAATT…!”

“aaakuu fa..ny, me…meku gatell….” belum selesai berkata-kata langsung kuteriaki dia “KENCENGAANN…!”
langsung fanny melanjutkan dengan suara lebih keras “TETEKu juga GATELL untuk dientot”

“LANJUTT, belum selesai itu…!”

“I..yaa, Tukang sampah aku ajak ngen….ngenn..tot padahal aku lagi datang bulan” “AKU huk…hukk…lonte…huhuhu me…me…mek ini gatel hukhuk…” Fanny terus melanjutkan apa yang kuperintahkan dengan improvisasinya sendiri dan tangisan sesengukan berusaha mempertahankan harga dirinya sebagai gadis baik-baik.

Di tengah sesengukannya, aku mengeluarkan kembali kontol ini dengan sigap langsung kuposisikan di depan pintu lubang kenikmatannya..

“Ouggh…Ahhh…mmhhh” desah Fanny stengah kaget dan merasakan kenikmatan ketika merasakan sebuah benda asing bergerak menempel di bibir vagina dan menyentuh klitorisnya.

Belum sempat fanny menyadari dan meresponi kehadiran benda asing di pintu masuk goa kenikmatannya itu, akupun langsung mengebu-gebu tidak tahan untuk dapat segera memulai mengawini dara cantik ini.

“Ohhh Fanny…BAPAK PERAWANIN MEMEKK KAMU..ARGGHH..!” teriak aku, sambil mendorong batang pelir ini mendobrak masuk celah sempit bibir vagina’nya.

“Ougghh…Arrgghh…sssakiittt..” Mata fanny terbelalak dan badannya menegang kencang meresponi dobrakan kasar ku di organ intimnya itu, desahannya sekarang berganti teriakan ketika kupaksakan kontol ini untuk dapat menembus memek perawan fanny, tetapi setiap kali aku mendorong tidak dapat kontol ini memasuki liang tersebut yang ada kontol ini terpeleset karena sempitnya lubang memek ini. Kuhentakkan lagi pinggul ku sekuat tenaga berusaha memasukkan penis ini ke liang kenikmatannya, tapi lagi-lagi gagal dan hanya berhasil memasukan sedikit di memeknya yang sangat amat sempit itu, kepala kontolku ku lihat berhasil terjepit di belahan bibir kemaluannya tetapi tidak mampu kudorong masuk lagi lebih dalam lagi. Heran aku padahal sebelumnya Fanny sudah cukup basah karena rangsanganku sebelumnya, tapi sekarang memek ini kering bahkan darah mens’nya pun tidak mengalir keluar aku berharap ada sedikit darahnya sehingga bisa membantu memperlicin masuknya kontol ini ke dalam memeknya.

Fanny menangis dan berteriak-teriak kesakitan “ougghhh…ammpuunnn…sakiiittt…tolong stoppp” “Sakit sekalii huhuhu….ampun jangan perawani saya, sakiitt tidak muat tolong jangan lagi pak”, dia mencenkram erat tiang ranjang tidur orang tuanya berusaha menahan sakit di kemaluannya itu.

fanny mengaduh kesakitan badannya tegang menekuk keatas berusaha menarik tubuhnya menjauhi kontol ini…Dia terus meringis dan menangis menahan perih di kemaluannya yang sedang ingin kutembus.

Terus kucoba beberapa kali tetap memek gadis ini tetap tidak mudah untuk kumasuki batang penis ini, sampai kami basah berpeluh keringat. Memang memek fanny sangat sempit dan juga penis bapak ini cukup besar untuk memek perawan seperti dia. Bibir memek dan daging sekitarnya kulihat telah sedikit memerah bukan hanya karena bengkak sedang mens, tapi juga karena percobaanku untuk memerawani memeknya ini dengan paksa, sepertinya jika tidak dalam kondisi diperkosapun suami atau pacarnya pasti juga akan mengalami kesulitan untuk memperawani dirinya, sudah lama sekali tidak kutemukan gadis dara yang memeknya serapat ini, tetapi biasanya gadis seperti ini memiliki talenta yang dikenal di Indonesia dengan sebutan empot ayam, sungguh sangat beruntung suaminya nanti, tetapi tetap lebih beruntung diriku ini yang walaupun baru bertemu sudah akan merasakan nikmat liang surgawinya ini walaupun dalam konteks kuperkosa.

Di ujung penis bapak ini juga kuperhatikan ada sebercak darah, pertama kukira itu aku telah berhasil memerawaninya tetapi sepertinya ini hanya darah menstruasinya yang keluar karena kontol ini terus kupaksakan berusaha memasuki memeknya, tidak mungkin ini darah perawannya karena setelah aku kangkangkan kembali kakinya dan kutarik bibir memeknya masih kutemukan dengan jelas bahwa selaput dara itu masih berada di dalamnya belum koyak sedikutpun tanda aku masih belum berhasil merenggut kesucian fanny si dara super sempit ini.

Akupun harus memutar otak agar aku dapat memerawani gadis cantik yang sempit ini.

Aku pun sejenak teringat akan benda yang kutemukan di lemari orang tuanya…Vibrator pink itu terakhir kutaruh di meja kecil di sebelah tempat tidur ini. Ku tinggal sejenak fanny yang terengah engah dengan kaki masih mengangkang, aku bergerak ke meja dan kuambil benda pink itu.

Kucoba mempelajari bagaimana caranya menyalakan benda ini, vibrator ini berbentuk sebesar lipstick tetapi agak melonjong dan di salah satu ujungnya terhubung dengan kabel ke remote kecil, di remote itu hanya ada toda kenop bundar, sepertinya satu-satunya cara untuk menyalakan alat ini adalah dengan memutar kenop ini.

Post Terkait