cerita panas

Rutin ML Ketika Jadi Mahasiswi

Saya adalah anak terakhir dari 3 saudara perkenalkan namaku Vega sat itu usiaku 27 tahun dengan tubuh seksy dan ramping sejak dari di bangku sekolah dasar saya selalu menjadi favorit dari mata pria karena saya akui juga saya mempunyai wajah yang cantik jelita, hingga sekarang masih menempel kecantikan di wajahku.

Saat itu saya jujur sudah tak perawan lagi , maka dari itu cerita perawan yang satu ini saya akan menceritakan ulang dimana kehilangan perawanku bersama dengan teman kuliahku, Umumnya para kaum wanita jika berkuliah kebanyakan suka memakai celana panjang, tapi saya lebih suka tetap memakai rok saja untuk bawahannya jika sedang ke kampus. Rokku mini sekali dgn bawahan yang lebar, bentuknya seperti yang biasa dipakai oleh para cheerleader (pemandu sorak).

Yang membedakan cuma dalamannya saja, umumnya para cheerleader masih menggunakan celana pendek di dalamnya walau agak mini untuk membungkus CD yang mereka pakai. Bedanya dgn diriku, saya tak pernah memakai penutup lain untuk menutupi bagian tubuhku yang paling vital kecuali CD.

CD yang kupakai sangat mini dan sexy, bentuknya G String dua jenis, yang satu model berenda dan yang satu lagi model tali tang terbuat dari nylon. Sexy sekali karena cuma ada seutas yang melingkari pinggangku, bedanya cuma yang tali nylon dgn ikatan di kiri kanan pinggangku, selebihnya sama saja ada bagian yang cuma selebar ukuran satu jari turun dari belakang pinggang mengitari selangkangan melalui belahan pantatku.

Baca Juga: Cerita Panas – Pendiam Memiliki Nafsu Yang Besar

Cuma ada secarik kain yang lebarnya tak lebih dari ukuran dua jari di bagian depan yang fungsinya cuma mampu menutupi lubang memekku. Yang berenda berbentuk hati kecil ada renda di pinggirannya, sedang yang model bertali, bentuk penutup bagian depannya berbentuk segitiga kecil, tipis dari bahan sutera.

Sebagai atasannya saya lebih sering memakai hem lengan pendek agak longgar. Kupilih ini karena saya memang tak pernah memakai BH di dalamnya. Seperti kisahku terdahulu, saya memang sejak kecil tak suka dan tak pernah memakai BH sampai tak heranlah sampai detik ini saya juga tak mengetahui berapa besar ukuran toket ku.

Toket ku tak terlalu besar. Ukurannya sedang-sedang saja tetapi bentuknya cantik dan padat. Warna puting susuku dan sekitarnya merah muda sedikit kecoklatan, sungguh menggairahkan sekali. Untuk yang satu ini saya sering mendapat pujian dari kaum lelaki yang telah pernah melihat atau meremas toket ku.

Terus terang dosenku yang cowok sering kali harus menelan ludah apa bila melihat penampilanku. Apa lagi ketika melihatku duduk dgn berpangku kaki sampai bagian atas pahaku tersingkat sedikit ke atas. Pahaku yang mulus itu juga ditumbuhi bulu-bulu halus yang menurut istilah beberapa orang temanku, itu namanya bulu-bulu monyet.

Aku kuliah di Universitas Airlangga (Unair) , mengambil jurusan kedokteran hewan dan ketika ini saya telah menjadi seorang dokter hewan yang magang di Kebun Binatang (KBS). Kali ini saya ingin menuliskan kisahku tentang pengalaman pertamaku bercinta sungguhan (ML) yang kulakukan ketika masih duduk di bangku kuliah.

Saya berkenalan dgn seorang mahasiswa yang juga mengambil jurusan yang sama denganku, namanya Affly asal juga, tapi akhirnya Affly tak meneruskan kuliahnya karena patah hati denganku. Sekarang entah Affly ada dimana saya sendiri juga tak pernah tahu.

Hubunganku dgn Affly akrab sekali, sesampai pertama kali saya melakukan hubungan sex yang sebenarnya juga dengannya. Kupersembahkan kegadisanku pada Affly yang betul-betul sangat mencintaiku. Tapi saya masih tak ingin melanjutkan hubungan itu dgn serius karena apa yang kulakukan bersama Affly bagiku hanyalah suatu pelampiasan atas kebutuhan biologisku saja.

Hal ini rupanya membuat Affly patah hati dan akhirnya drop out dari kampus, dan entah kini kemana dia saya juga tak pernah mendengar kabar beritanya lagi sejak kami berpisah dulu. Jika kebetulan Affly yang kumaksud sedang membaca kisahku ini, saya mohon maaf padamu, karena saya memang belum bisa jatuh cinta dgn siapapun sampai ketika ini.

Hubunganku dgn Affly sebenarnya biasa saja seperti remaja lain ketika berpacaran. Kami sering berciuman baik di mobil, di kampus maupun di rumah, pokoknya di mana saja jika ada kesempatan untuk melakukannya.

Kami juga sering saling meraba bagian-bagian sensitif kami. Lebih sering Affly mengajakku ke rumahnya yang keadaannya memang selalu sepi itu, karena Affly adalah anak tunggal yang kedua orang tuanya selalu sibuk di luar, jadi sekali lagi praktis rumah Affly yang tak terlalu besar di kawasan Ngagel itu selalu dalam keadaan sepi.

Hal ini sangat menguntungkan bagi kami berdua. Di rumahnya itulah saya pertama kalinya merasakan nikmatnya ML. Kami bercumbu, berciuman di atas tempat tidur di kamar Affly. Mulut Affly menciumi bibirku yang mungil dan tipis, lumatannya membuatku sangat bergairah sekali.

Sambil melumat bibirku, jari tangan Affly melepaskan kancing bajuku satu persatu sampai terlepas semua dan langsung ditanggalkannya hem yang kukenakan sampai bagian atas tubuhku terbuka polos tanpa sehelai benang pun. Affly langsung memegang dan meremas-remas toket ku sampai saya jadi sangat terangsang oleh perlakuannya.

Kulepas dgn menarik ke atas kaos yang dipakai Affly dan dia pun membantu untuk melepaskannya. Selanjutnya kubuka kancing celana jeans yang ia pakai, kuturunkan gespernya dan Affly pun membantu untuk melepaskan sendiri celana yang masaih ia kenakan berikut CD-nya sesampai Affly terlebih dahulu telanjang bulat di hadapanku.

Lalu kuraba seluruh bagian tubuhnya, kuraih batang kemaluannya yang telah mengeras dan berdiri tegak bagaikan tugu pahlawan. saya merasa sedikit aneh karena tanganku tak menyentuh bulu kemaluan Affly. Rupanya Affly rajin mencukur habis bulu kemaluannya sesampai bagian kemaluannya tampak bersih dan polos.

Cuma ada sedikit bulu di bagian tertentu saja. Ada bagian yang terasa sedikit kasar karena bulu-bulu kemaluannya mulai tumbuh, sesampai ujung-ujungnya yang tajam terasa sedikit kasar bila tersentuh, tapi ini justru membuat rangsangan tersendiri bagiku. Kontol Affly lumayan besar dan panjang, diameternya sekitar 6 cm dgn panjangnya sekitar 17 cm.

Mulut Affly menjelajahi wajahku sampai seluruh bagian leher dan telingaku. Lidahnya dijulurkan menjilati seluruh bagian leherku. Sesekali Affly memberikan kecupan di leherku dan lidahnya menjalar ke bagian belakang telingaku. Lubang telingaku pun tak luput dari sapuan lidahnya.

Tangannya membuka pengait rok miniku dan kini kubantu memerosotkannya dgn bantuan kedua kakiku. Tangan affly langsung meraba bagian luar CD yang kupakai. Ikatan tali nylon G Stringku di samping pinggang ditariknya sesampai terlepas telah penutup akhir di tubuhku dan CD-ku dilempar jauh ke lantai.

Kini kami telah sama-sama bugil, telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami lagi. Lalu kami saling bergumul, bibir kami kembali saling lumat dan tangan kami pun saling meraba bagian sensitif lawan masing-masing. Nafsu birahiku naik ke ubun-ubun rasanya. Memekku yang telah basah sejak tadi jadi menjadi semakin basah saja.

Cairan bening yang mengalir keluar dari dalam liang memekku seakan tak terbendung lagi, semakin lama alirannya semakin deras saja. Entah telah berapa banyak cairan kenikmatanku keluar membanjir sampai sekitar selangkanganku. Kemudian kuraih batang kemaluan Affly sambil kukocok-kocokkan dgn sedikit kasar karena menahan gejolak rangsangan yang kualami.

Mulut Affly mencium bagian dadaku. Kedua toket ku dicium dan dijilatinya secara bergantian. Lidahnya menyapu rata puting susuku. Ujung putingku dijilat dan dihisapnya sesampai menimbulkan rasa geli bercampur nikmat. Tangan affly mulai menelusuri selangkanganku, seluruh bagian luar kemaluanku pun tak luput dari belaian tangannya.

Jari-jarinya digaruk-garukkan di belahan bibir memekku, sampai saya sedikit mendesah tertahan. Ujung jari tangan Affly mulai memainkan klitorisku. Ujung klitorisku sedikit ditekan dgn ujung jarinya kemudian digesek-gesekkan secara teratur sampai saya mengaduh tapi bukan karena kesakitan.

“Aa.. Aacch!” pekikku nyaring sambil menggeliat tak karuan.

Rupanya saya telah mencapai orgasme sampai lendirku menyembur memenuhi bagian dalam liang senggamaku. Dapat kurasakan memekku mengedut sambil melepas lendir. Affly semakin bergairah mencium dan menjilati bagian depan tubuhku. Jilatannya mengarah turun ke bawah menyapu setiap jengkal kulit tubuhku.

Perut sampai lubang pusarku disapu dgn lidahnya. Dia semakin ke bawah ke arah paha, kembali naik ke atas menjilati bagian dalam paha, semakin naik lagi sampai pangkal paha, kemudian bibirnya menciumi bibir memekku. Dgn tanpa sedikit pun merasa jijik Affly menjilati dan menelan cairan lendir bening dari memekku.

Bibirnya mengulum bibir memekku dan lidahnya dijulurkan di antara belahan bibir memekku. Dapat kurasakan ujung lidahnya menyeruak masuk ke dalam liang memekku sambil sesekali menyentuh dinding luar memekku yang kembali membasah lagi. Lidah Affly menyapu ujung klitoris lalu mulutnya dibenamkan ke memekku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku kembali tak mampu membendung gelombang orgasmeku yang mengulung-gulung liar dari dalam tubuhku. Kujambak rambut Affly yang kepalanya masih membenam di selangkanganku. Kutarik kepalanya agar lebih terbenam lagi di selangkanganku, kujepit kepalanya sambil kurasakan semburan lendir kembali membasahi liang memekku.

Affly kembali menjilat dan menelan habis cairan yang keluar dari dalam liang memekku sebelum dia merambat naik kembali melumat bibirku sambil memegang dan mengarahkan batang kemaluannya di depan liang memekku. Digesek-gesekkan sebentar kepala kemaluannya di belahan bibir memekku, baru kemudian didorongnya sedikit sampai kepala kemaluannya mulai memasuki liang memekku.

“Aduuh..! Sakit..! Pelan dong!” jerikku menahan sakit yang bercampur nikmat.

Affly memberiku waktu untuk menarik napas sejenak, kemudian kembali dia mendorongkan batang kemaluannya agar masuk sedikit lebih dalam lagi.

“Aa.. Uuhh! Aduuh..!” jeritku kembali menahan rasa perih di dalam liang memekku.

Affly bukannya menarik keluar batang kemaluannya dari dalam liang memekku, tetapi dia malah menekan lebih dalam lagi, dan tekanannya se makin kuat dan akhirnya..

“Bleess.. Uu.. Uucch! Sleep..! Aa.. Aacch! Sleep..! Oo.. Oocch!” suara desahanku seakan bersahutan dgn suara pompaan batang kemaluan Affly.

Rasa sakit yang kualami juga telah semakin menghilang bersamaan dgn deru pompaan batang kemaluan Affly yang memompa liang memekku yang semakin lama semakin kencang. saya rasanya benar-benar hampir pingsan, tak tahu harus berbuat apa dan harus bagaimana. saya tak mampu melukiskan kenikmatan yang kualami ketika itu dgn kata-kata.

Yang kuingat adalah akhirnya kami mengalami orgasme yang waktunya hampir bersamaan. Dan sejak ketika itu kami jadi rutin melakukan hubungan seperti itu lagi. saya benar-benar suka dan menikmatinya, hampir secara rutin tiga kali seminggu kami melakukan ML, dimana saja, kapan saja seperti minum minuman ringan saja.

Post Terkait