Cerita Panas

Meraba Yang Lebih Dalam

Djalan-djalan tergenang air. Sungai meluap, meng genangi rumah2 dan tanaman jang berada dikiri kanan. Bukan hudjan itu jang mendjadi persoalan bagiku Persoalannja, hari ini aku sudah berdjan- dji membawa istriku Anita ke pantai Bina-Ria. Satu lagi jang memusingkan benakku jalah me- njangkut kesulitan pekerdjaan se-hari.2.

Setelah makan pagi, baru badanku semakin sehat Aku mengambil sebuah madjalah “Selecta” d an membatja Djarang sekali aku inembatja madjalah. /ku tidak menjediakan waktu chusus buat me.nbatja. Kebanjakan isi mad; .hih kuketa­hui dari kawan-kawan jang memperbinljangkan- nja. Umumnja para tetangga kena penjakit tjandu membatja madjalah. Istimewa madjalah madjalah jang kata orang isinja agak ”berat”. Tetapi aku tahu, orang jang tinggal disekitar rumah ini hanja melagak Mereka saraa sekali tidak mengerti secara mendalam apa jang dipersoalkan daiattl madjalah itu.

Ternjata madjalah ”Selecta” ini menarik djuga bagiku. Diluar keinginanku terbatja djuga beberapa artikel. Diantaranja masaalah anak-anak muda pada masa2 di bangku sekolah. Soal kebo-* brokan moral pemuda remadja. Soal kelahiran baji, dan saat2 menegangkan ketika dilahirkan. Dari bagaimana polisi memberantas para remadja peng­hisap gandja. Dan paling achir aku membatja artikel tentang riwajat seorang penulis jang kenamaan.

Tulisan itu mcndjemukan, aku berhenti ment batja. Pengarangnja menulis satu karangan riwajat hidup jang penuh kenang-kenangan. Pentih kenang- kenangan ? Kurasa hidupku lebih banjak kenang- kenangan. Apalagi bila penulis itu mengenal riwajat hidup Tanteku Nora Mariam la adik ajahku. Banjak sifat dan wataknja jang menarik pembatja sekiranja dituliskan Tidak seorangpun jang pernah menulis riwajat Tante Nora Terlebih pula riwajat Tante Nora menjangkut djuga kisah hidupku, Matj:nn2 peristiwa hidup kenang-kenangan jang ku al.nni bersama Tanteku, kisah hidupnja seperti- d juga kisah-hidup Tante-Tante jang menarik. Punja kemewahan, rumah bagus, kebun-indah, suasana ■segar dan hidup penuh kemesraan

Baca Juga: DISERBU TIGA CEWEK SEKALIGUS

Waniia seusia Tanle Nora biasanya sudah punja baji. Tanteku tidak la tidak punja anak Tante seorang janda. Suaminja meninggal baru satu tahun mereka kawin. Seterusnja Tante hidup sebagai janda. Tulisan dalam madjalah mentjeri- lakan tentang anak2 Aku melemparkan madjalah “Selecta” ke atas lantai dan segera bangkit. Entah mengapa aku lantas teringat kembali pada wajah Tante. Ia sangat cantik dan menarik.

Rambutnja pendek dan alis melengkung seperti bulan sabit Warna kulitnya seperti buah langsat yang aru dipetik. Dialah raaksud Tante Nora jang mendidik aku sedjak ajah berpulang kerumtullah. Boleh kukatakan Tante Nora jang mengasuh aku dengan penuh kasih sajang hingga dewasa.

Anganku kembali ke tahun silam Tahun bersejarah yang melekat sekali dalam hatiku. Ajah ketika itu menderita serangan djantung. Serangan kali ini tidak berapa bahaja. Hanja beberapa hari beliau terbaring ditempat tidur. Dada ajah terasa akan pecah. Dengus napas beliau terengah enga h. Tetapi beliau jakin akan sembuh untuk selamanya Besar sekali hasratnya untuk bekerja kembali. Ajahku mempunjai satu perusaha­an dagang Dan macam-macam andil yang tersebar di banyak perusahaan. Dalam keadaan sakit itu tidak ada jang dikerdjakE.nnja.

Ajah menjuruh aku me­nelepon sekertarisn^a dikantor. Saat itu usiaku masih 10 tahun tapi ajah sering mengadjarkanku menelepon kekantor Suara sekertaris mendjavvab sambil tertawa Sekertaris ajah cantik menarik idak beda bila aku melihat seorang binta^g f.lm. Sekertaris ini menulis segala jsng didektekan ajah Lalu ia mengetik. Mangetik rangkap dengan •I helai karbon. Setelah itu mengambil stempel Se:.ud:ih itu menjodorkan kepada ajah supaja di­bubuhi tanda tangan.

Karangan sekertaris sungguh djelas. Dan penuh keaslian. Kata-kata dalam taipan berbunji e bagai berikut:

Bila aku meninggal dunia. segala peninggalan ku dan waris­an kuserahkan kepada anakku jang masih kecil namanya Hendra.

Sekiranya aku meninggal dunia sebelum Hendra berusia 18 tahun,. maka kuletakkan tanggung djawab pada adikku Nora Mariam. Ia akan mengasuh Hendra. JHendra harus mendjadi anak jang haik., D^n dia harus disekolahkan pada sekolah jang baik. Nora Mariam akan mengerti apa maksudksudku ini. Segala sesuatu jang berhubungan dengan djaminan hartak.u akan kil tundjuk sebuah perusahaan assu- ransi Kong A Lim, di Djakarta, Nora Mariam akan menganggap ini suatu kebidjaksanaan jang ku putuskan.

Sekali-kali tidak kuha– rapkan Nora Mariam akan menge­luarkan uang pribadinja buat mej ngasuh anakku Hendra. Nora Mariam kupcrtjajakan untuk me­ngeluarkan biaja dari harta pe­ninggalan setiap bulaii chusus buat makan, pakaian, uang sekolah, pengobatan dokter dan sebagainja.

Tetapi perusahaan assiiransi diberi hak untuk rtiengawasi se­gala pengeluaran . Selandjutnja aku memberikan uang sebanjak Rp 2000. 000 kepada Sarinem pelajan rumah jang setia. Dan dia boleh pensiun dan pulang ke kampungnja di Djawa Tengah.”

Tiba2 pelajan Sarinem memanggilku. Aku buru2 masuk. Rupanja Ajah ingin membatja surat wasiat didepanku suara Ajah parau. Sekali-kali tersendak-sendak Dan suara itu sedikit gemetar. .Selelah membatja, Ajah mentjeritakan tentang diri pribadi Tante Nora. Keseluruhan Ajah ingin mengatakan bahwa Tanteku itu seorang wanita baik dan ramah tamah. Tante suiigguh penting bagi perkembang diriku selandjutnja. Nasibku ber­ada atas k e b i d j a k f a n a a i m j a Dia maksudku Tante Nora satu-satunja keluarga ajah jang masih hidup. Semua utjapan-utjapan Ajah itu disaksikan oleh sekretarisnja. Ia senantiasa mendengar dengan penuh perhatian.

Seminggu kemudian ajah sembuh, la sudah lupa ‘kan penjakitnja. Setiap sore ajah bermain golf, lernjata itu hanja penundaan kematiannja. Baru .setahun kemudian ajah meninggal Ia meninggal ketika sedang menonton di bioskop. Demikianlah ;.ku mendjadi anak jatim piatu.

Aku tidak ingat lagi peristiwa upacara pengu­buran ajahku, Hanja orang-orang mentjeritakan upatjaranja penuh kebesaran. Karangan bunga bertimbun-timbun Dan para pedagang besar semua hadir dalam upacara itu. Semua yang hadir memeluk dan mentjiumku Sarinem pelajan rumah kami djirga mendjadi perhatian orang ramai.

Sarinem menangis tersedu-sedu. Aku tidak. Isiaku baru sepuluh tahun. Selama sepuluh tahun itu ajah sedikit sekali mentjurahkan perhatiannja pada diriku. Aku bertemu wadjah ajah hanja saat makan pagi. Biasanja hanja minum kopi segelas. lalu membatja koran. Pernah sekali aku ber kata sesuatu pada ajah. Beliau menatapku dan berkata

„Di.am ! Ajah sedang membatja.”

Aku tidak mengerti. Apa sebenarnja maksud ajah. Lama sisadah ajah meninggal, aku tetap uaak. mengerti.

Setiap tahun aku merayakan hari ulang tahun- ku Senantiasa ajatt mengizinkan aku menonton bioskop. Sarinem jang menemani. Aku senang nonton koboi. Kadang-kadang kisah ,Flash- uordon ” Sekali-ka.ii ajah membawaku keres- toran besar. Restoran itu bernama? „Cassanova. ” Ajah djuga membawa seorang wanita cantik. lNamanja wati. Ia membawa ketempat-tempat lain. ia ramah. Aku senang padanja. sungguhpun aku hanja baru sekali melihat Dan aku tidak tahu bagaimana hubungannja dengan ajahku.

Aku beladjar pada sebaan S.D swasta. Sekolaii itu baik. Gurunja sudah tua-tua. 6 tanun lamanja aku disekolah dasar, aku bukan murid jang pintar. Tetapi tidak djuga termasuk jang paling bodoh. Raporku sedang, dan juga ada angka merah.

Sesudah penguburan aku dan sarinem kemba­li kerumah. Sannem pergi kekamarnja membuka pakaian, akupun masuk ketempat tidurku Tidak beberapa lama Sarinem datang dan mengatakan, sahabat-sahabat-kental ajah akan datang Aku harus ada diantara mereka. Hal ini sangat perlu, Aku harus menanda-tangani beberapa surat penting.

Sebentar kemudian tuan Hartono sahabat ajah muntjul. Ia kalau datang bersama dengan beberapa orang temannja Kudengar mereka ber- bitjara. Lalu kudengar suara Sarinem la men- djawab pertanjaan-pertanjaan tuan Hartono. Aku hanja mendengar suara. Apa makna ucap-ucapan mereka aku tidak mengerti. Sarinem menangis sebentar Ia sedih ditinggal ajah. Ajah sangat baik pada Sarinem. Tamu jang seorang ’agi memperkenaIkan diri Namanja Krisna Ia harus menjelesaikan beberapa soal penting. Diriku sangat penting baginja.

Sarinem mendjawab seperlunya. ia mengata­kan tidak tahu menahu soal uang. Tetapi Sarinem sebenarnja mengerti. Ia tahu soal uang menjadi hangat. Hangat karena ajah meninggalkan harta jang tidak sedikit.

Tuan Hartono mengatakan bahwa aku harus meneken surat itu Jang penting ialah me­ngenai soal dagang. Satu diantaranja soal tran- viksi. Ini harus segera diselesaikan Kedengaran- n ja utjapan tuan Hartono agak sinis Lantas tuan K risna memotong pembitjaraan. Tuan Krisna me nekankan bahwa urusan ini memang pent’ng.

Sarinem menangis lagi. Ia beikata soal uang itu memang penting. Dan harus diselesaikan. Tetapi aku tidak dapat memutuskannja. Djumlah uang itu sangat besar. Dirumah kami tidak punja uang. Sarinem mengandjurkan agar diselesaikan dikantor. Orang kantor tahu soal itu Dan uang mereka ada Aku merasa, mereka hanja membuat keributan sadja. Urusannja sebenarnja tidak ada, tetapi mengapa mereka berbuat demikian ? Aku mengerti Ini semua menjangkut soal uang.

Segera Sarinem masuk kekamarku. Aku sedang berbaring ditempat tidur. Ia mengandjurkan agar aku keluar. Dan bersalaman dengan mereka. Aku setuju. Lalu satu persatu aku salami Tuan Krisna tersenjum gembira, Ia mentjeritakan bahwa ia mempunjai anak seusiaku Lalu mengharap agar aku bisa bersahabat dengan anaknja dan mendjadi teman baik, Tuan Krisna mengangkat telepon. Dan menelponnja seorang notaris.

,,Tuan notaris kalau bisa datang sekarang djuga.”

Aku sudah menanda tangani dua lembar surat. Notaris itu datang djuga Ia mengambil surat- surat itu Lalu menjelidiki penuh perhatian. Ia memberi tjap setempel. Tampak djelas bekas stempel diatas surat itu. Tuan Hartono berkata:

„Urusan kita sudah semakin madju. Tinggal lagi.

Saja harus menemui seorang direktur di kota. Tuan Krisna memberi alamat rumahnja. Ia berharap agar aku ingin berkenalan dengan anaknja. Mereka menjalamiku sekali lagi Dan tuan Krisna berkata:

„Kau seorang anak jang tjerdas.”

Lalu mereka minta permisi dan meninggal­kan rumah kami.

Rumah sunji sepi. Tinggal aku dan Sarinem berdua. Sarinem membudjuk:

,,Kau anak jang manis Hendra” katanja. Hatiku senang. Senang sekali mendengar pudjian itu.

Sesudah ajah meninggal dunia suasana dalamj rumah bertambah sepi. Aku tidak pernah lagil mendengar suara berang ajah. Dan aku tidak men-j dengar lagi suara batuknja. Ajah semasa hidupl sering batuk batuk di kamar mandi. Dulu apabila makan pagi kami sering berdua kali ini aku duduk sendiri diudjung medja. Suasana rumah jang dulu sepi kini semakin sepi Kadang aku sering terbayang wadjah Ajah Terlebih-lebih bila aku duduk diudjung medja dikala makan pagi, seakan akan Ajah duduk didepanku sambil memegang koran.

Sebulan kemudian Tanteku, Tante Nora datang dari Bandung. Tante Nora memang tinggal di Bandung Menurutnja dia terkedjut sekali men­dengar Ajah sudah meninggal dunia. Maksud ke­datangan Tante ke Djakarta semata-mata untuk mendjemputku. Tante sudah mendengar dari se­orang teman Ajah tentang isi surat wasiat.

Ketika aku pertama sekali melihat wadjah Tante, perasaanku penuh dengan berbagai-bagai perasaan. Ia masih muda. Menurut pandanganku dia tjantik dan manis. Usia Tante disaat itu tidak lebih dari 23 tahun. Warna kulit Tante putih kekuning-kuningan. Melihat wadjah Tante se­lintas sadja aku sudah memutuskan bahwa aku bisa djatuh cinta kepada Tante Nora Apalagi orang-orang bertjerita bahwa Tante punja sifat ramah dan penjajang anak anak.

Hari pertama aku bertemu dengan dia, aku dipeluknja. Lalu leherku dirangkulnja. Kemudian pipi dan hidung­ku ditjiumnja. Dan kepalaku digosokgosok dengan djari djemari jang: halus dan lembut. Suhubadan- ku mendjadi bertambah hangat. Masih segar dalam ingatanku harum wangi tubuh Tante jang dilepoh dengan minjak wangi ,,Elizabeth Ardent” Sungguhpun aku masih botjah ketjil tetapi ke­hangatan pertemuan pertama itu sudah mengundang diriku untuk menyayangi Tante Nora.

Suara sambut dan sedap didengar ditelinga. Ini kuketahui ketika dia mengatakan :

„Hendra akan Tante bawa ke Bandung. Di kota Bandung udara segar. Hendra harus sekolah radjin-radjin. Ja manis ?”

Hatiku kembang seperti bunga mendengar kata2 Tante. Ia seperti seorang guru jang selalu memperhatikan kelakuan murid2.

Seminggu lamanya Tante tinggal di rumah, ia menyelesaikan segala urusan jang menjangkut harta-pusaka. Demikian juga tentang kelandjutan usaha dagang. Seperti tertera dalam wasiat* Sarinem ”pelayan rumah” diberi uang sebesar 2.000.000. Perabot-perabot rUmah dilelang kepada umum.

Rumah disewakan Hari terahir Tante di Djakarta, kami berdua pergi melihat kuburan ajah. Dibawah pohon kambodja kulihat Tante menangis tersedu-sedu. Mulutnja komat kamit. Entah apa jang dikaiakannja^ tidak ku dengar* Mungkin dia sedsng berdoa. Aku ter pengaruh dengan hisak tangisnja hingga tanpa ku sadari air mata meleleh (dipipiku. Esok harinja* pagi2, kami berangkat menuuju kota Bandung*.

Post Terkait