Cerita panas

Diperkosa Gadis Cantik

Cerita panas – Sebenarnya aku tidak istimewa, wajahku pun tidak terlampau tampan, tinggi dan format tubuhku pun biasa saja. Tidak terdapat yang istimewa dalam diriku. Tapi entah mengapa aku tidak sedikit disukai wanita. Bahkan dia langsung mengajakku berkencan. Tapi aku tidak pernah beranggapan sampai ke sana. Aku belum inginkan pacaran. Waktu tersebut aku masih duduk di bangku ruang belajar dua SMA. Padahal nyaris semua temanku yang laki, telah punya pacar. Bahkan telah ada yang sejumlah kali ganti pacar. Tapi aku sama sekali belum punya kemauan untuk pacaran. Walau sebenarnya tidak sedikit juga para gadis yang inginkan jadi pacarku.

Waktu tersebut hari Minggu pagi. Iseng-iseng aku berjalanjalan menggunakan pakaian olah raga. Padahal aku sangat malas berolah raga. Tapi entah kenapa, hari tersebut aku gunakan baju olahraga, bahkan gunakan sepatu juga. Dari rumahku aku sengaja berlangsung kaki. Sesekali berlari kecil mengekor orang yang ternyata cukup tidak sedikit juga yang memanfaatkan minggu pagi guna berolah raga atau melulu sekedar berjalan mencium udara yang masih bersih.

Tidak terasa sudah lumayan jauh pun meninggalkan rumah. Dan kakiku telah mulai terasa pegal. Aku duduk beristirahat di bangku taman, memandangi orang yang masih pun berolah raga dengan segala macam tingkahnya. Tidak tidak banyak anak yang bermain dengan gembira.

Belum lama aku duduk beristirahat, datang seorang gadis yang langsung saja duduk di sebelahku. Hanya tidak banyak saja aku melirik, lumayan cantik pun wajahnya. Dia mengenakan baju kaos yang ketat tanpa lengan, dengan potongan leher yang lebar dan rendah, sehingga menunjukkan seluruh bahu serta beberapa punggung dan dadanya yang menonjol dalam ukuran lumayan besar. Kulitnya putih dan bersih celana pendek yang dikenakan menciptakan pahanya yang putih dan padat jadi terbuka. Cukup leluasa guna memandangnya. Aku langsung pura-pura memandang jauh ke depan, saat dia secara tiba-tiba saja berpaling dan menatapku.

Baca Juga: Cerita Panas – Perselingkuhan Hubungan Gelap

Lagi terdapat yang ditunggu?, tegurnya
Aku terkejut, tidak menyangka bila gadis ini menegurku. Dengan cepat aku membalas dengan agak gelagapan juga. Karena tidak menduga bila dia bakal menyapaku.
Tidak, Eh, anda sendiri? aku balik bertanya.
Sama, aku pun sendirian, jawabnya singkat.

Tanpa menantikan jawaban lagi, dia langsung melayangkan kakinya dengan gerakan yang estetis dan gemulai. Bergegas aku mengekor dan mensejajarkan buaian langkah kaki di samping sebelah kirinya. Beberapa ketika tidak terdapat yang bicara. Namun tiba-tiba saja aku jadi tersentak kaget, sebab tanpa diperkirakan sama sekali, gadis tersebut menggandeng tanganku. Bahkan sikapnya begitu mesra sekali. Padahal baru sejumlah detik bertemu. Dan akujuga belum kenal namanya.

Dadaku mendadak jadi berdebar menggemuruh tidak menentu. Kulihat tangannya begitu halus dan lembut sekali. Dia tidak saja menggandeng tanganku, tapi justeru mengge1ayutinya. Bahkan sesekali merebahkan kepalanya dibahuku yang lumayan tegap.
Eh, nama anda siapa? tanyanya, mengawali pembicaraan lebih dulu.
Angga, sahutku.

Akh, kayak nama perempuan, celetuknya. Aku melulu tersenyum saja sedikit.
Kalau aku sih biasa dipanggil Ria, katanya langsung mengenalkan diri sendiri. Padahal aku tidak memintanya.
Nama anda bagus, aku memuji melulu sekedar basa basi saja.
Eh, boleh nggak aku panggil anda Mas Angga?, Soalnya anda pasti lebih tua dariku,? katanya meminta.

Aku melulu tersenyum saja. Memang bila tidak gunakan seragam Sekolah, aku kelihatan jauh lebih dewasa. Padahal umurku saja baru tujuh belas lewat sejumlah bulan. Dan aku memperkirakan bila gadis ini tentu seorang mahasiswi, atau karyawati yang sedang memenuhi hari cuti dengan berolah raga pagi. Atau melulu sekedar berjalan sambil menggali kenalan baru.

Eh, bubur ayam disana nikmat lho. Mau nggak? ujarnya menawarkan, seraya menunjuk gerobak tukang bubur ayam.
Boleh, sahutku.

Kami langsung merasakan bubur ayam yang memang rasanya nikmat sekali. Apa lagi perutku memang lagi lapar. Sambil makan, Ria tidak sedikit bercerita. Sikapnya begitu riang sekali, membuatku jadi senang dan laksana sudah lama mengenalnya. Ria memang pandai menciptakan suasana jadi akrab.

Selesai santap bubur ayam, aku dan gadis tersebut kembali berjalan. Sementara matahari telah naik lumayan tinggi. Sudah tidak enak lagi berlangsung di bawah siraman teriknya mentari. Aku bermaksud inginkan pulang. Tanpa diperkirakan sama sekali, malah Ria yang menyuruh pulang lebih dulu.

Mobilku di parkir disana, katanya seraya menunjuk barisan mobil yang cukup tidak sedikit terparkir.
Kamu bawa mobil? tanyaku heran.
Iya. Soalnya rumahku kan lumayan jauh. Malas bila naik kendaraan umum, katanya beralasan.
Kamu sendiri?
Aku tidak membalas dan melulu mengusung bahu saja.
Ikut aku yuk, ajaknya langsung.

Belum pun aku menjawab, Ria sudah unik tanganku dan menggandeng aku mengarah ke ke mobilnya. Sebuah mobil starlet warna biru muda masih mulus, dan tampaknya masih lumayan baru. Ria justeru meminta aku yang mengemudi. Untungnya aku tidak jarang pinjam mobil Papa, jadi tidak canggung lagi membawa mobil. Ria langsung melafalkan alamat rumahnya. Dan tanpa tidak sedikit tanya lagi, aku langsung mengirimkan gadis tersebut sampai ke rumahnya yang sedang di lingkungan komplek kompleks elite. sebetulnya aku inginkan langsung pulang. Tapi Ria menyangga dan memaksaku guna singgah.

Ayo, Sambil unik tanganku, Ria memaksa dan membawaku masuk ke dalam rumahnya. Bahkan dia langsung menarikku ke lantai atas. Aku jadi heran pun dengan sikapnya yang begitu berani membawa laki-laki yang baru dikenalnya ke dalam kamar. Tunggu sebentar ya, kata Ria sesudah membawaku ke dalam suatu kamar.

Dan aku yakin bila ini tentu kamar Ria. Sementara gadis tersebut meninggalkanku seorang diri, entah ke mana perginya. Tapi tidak lama dia telah datang lagi. Dia tidak sendiri, tapi bareng dua orang gadis beda yang sebaya dengannya. Dan gadis tersebut juga mempunyai wajah cantik serta tubuh yang ramping, padat dan berisi.

Aku jadi tertegun, sebab mereka langsung saja menyeretku ke pembaringan. Bahkan salah seorang langsung mengikat tanganku sampai terbaring menelentang di ranjang. Kedua kakiku pun direntangkan dan diikat dengan tali kulit yang kuat. Aku benar terkejut, namun tidak bisa melakukan apa ap. Karena kejadiannya begitu cepat sekali, sampai aku tidak sempat lagi menyadari.

Aku dulu, Aku kan yang mengejar dan membawanya ke sini, kata Ria sambil mencungkil baju kaosnya.

Kedua bola mataku jadi terbeliak lebar. Ria tidak saja menanggalkan bajunya, namun dia melucuti semua penutup tubuhnya. Sekujur tubuhku jadi menggigil, dadaku berdebar, dan kedua bola mataku jadi membelalak lebar ketika Ria mulai mencungkil pakaian yang dikenakannya satu persatu hingga polos sama sekali Akhh tubuhnya spektakuler bagusnya baru kali ini aku menyaksikan payudara seorang gadis secara dekat, payudaranya besar dan padat.

Bentuk pinggulnya ramping dan membentuk laksana gitar yang siap dipetik, Bulubulu vaginanya tumbuh lebat di dekat kemaluannya. Sesaat lantas Ria menghampiriku, dan merenggut seluruh pakaian yang menutupi tubuhku, sampai aku henarbenar polos dalam suasana tidak berdaya. Bukan melulu Ria yang mendekatiku, namun kedua gadis lainnya pun ikut mendekati sambil mencopot penutup tubuhnya.
Eh, apaapaan ini? Apa inginkan kalian? aku membentak kaget.

Tapi tidak terdapat yang menjawab. Ria telah menciumi wajah serta leherku dengan hembusan napasnya yang keras dan memburu. Aku menggelinjang dan berjuang meronta. Tapi dengan kedua tangan terbelenggu dan kakiku pun terentang diikat, tidak gampang bagiku untuk mencungkil diri. Sementara itu tidak saja Ria saja yang menciumi wajah dan sekujur tubuhku, namun kedua gadis lainnya pun melakukan urusan yang sama.

Sekujur tubuhku jadi menggeletar hebat Seperti tersengat listrik, saat merasakan jarijari tangan Ria yang lentik dan halus menyambar dan langsung meremas berulang kali unsur batang penisku. Seketika tersebut juga batang penisku merasakan sensasinya dan mengeras secara sempurna, aku tidak dapat melawan rasa kesenangan yang kurasakan dampak penisku di kocok-kocok dengan bergairah oleh Ria. Aku hanya dapat merasakan semua batangan penisku merasakan kenikmatan.

Aku merasa kewalahan dikeroyok tiga orang gadis yang sudah laksana kerasukan setan. Gairahku memang terangsang seketika tersebut juga. Tapi aku pun ketakutan separuh mati. Berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Aku hendak meronta dan mencoba mencungkil diri, namun aku pun merasakan suatu kesenangan yang seringkali hanya terdapat di dalam hayalan.

Aku benar-benar tidak berdaya saat Ria duduk di atas perutku, dan mengapit pinggangku dengan sepasang pahanya yang padat. Sementara dua orang gadis lainnya yang kutahu mempunyai nama Rika dan Sari terus menerus menciumi wajah, leher dan sekujur tubuhku. Bahkan mereka mengerjakan sesuatu yang nyaris saja membuatku tidak percaya, bila tidak menonton dengan mata kepala sendiri.

Saat tersebut juga aku langsung menyadari bila para gadis ini tidak saja menderita penyakit hiperseks, tapi pun biseks. Mereka dapat melakukan dan menjangkau kepuasan dengan lawan jenisnya, dan pun dengan sejenisnya. Bahkan mereka pun menggunakan alatalat untuk menjangkau kepuasan seksual. Aku jadi ngeri dan fobia membayangkannya.

Sementara tersebut Ria semakin asyik memolekan tubuhnya di atas tubuhku. Meskipun terdapat rasa fobia dalam diriku, namun aku merasakan kesenangan yang amat sangat, baru kali ini penisku menikmati kelembutan dan hangatnya lubang vagina seorang gadis, lembut, rapat dan tidak banyak basah, Riapun merasakan kesenangan yang sama, bahkan sesekali aku mendengar dia mengerang tertahan. Ria terus menggenjot tubuhnya dengan posisi yang spektakuler cepatnya membuatku tidak kuasa lagi menerima kesenangan dan kenikmatan aku berteriak tertahan.

Ria yang memperhatikan teriakanku ini menarik keluar vaginanya dan secara cepat tangannya meraih dan menggenggam batang penisku dan mengerjakan mengocok yang cepat, sampai tidak lebih dari sejumlah detik lantas aku menikmati puncak kesenangan yang spektakuler berbarengan dengan spermaku yang memancar dengan derasnya. Ria terus mengocok ngocok penisku hingga spermaku berakhir dan tidak dapat menyemprot lagi tubuhku merasa ngilu dan mengejang.

Tetapi Ria rupanya tidak berhenti hingga disitu, lantas dengan cepat dia ditolong dengan kedua temannya menyedot semua spermaku yang bertebaran hingga bersih dan mengawali kembali menggenggam batang penisku eraterat dengan cengkeraman tangannya seraya mulutnya pun tidak lepas mengulum kepala penisku. Perlakuannya ini menciptakan penisku yang seringkali setelah orgasme menjadi lemas sekarang menjadi dipaksa guna tetap keras dan upaya Ria kini benarbenar berhasil. Penisku tetap dalam suasana keras bahkan semakin sempurna dan Ria pulang memasukkan batangan penisku ke dalam vaginanya pulang dan dengan cepatnya Ria menggenjot pulang vaginanya yang telah berisikan batangan penisku.

Aku menikmati agak beda pada permainan yang kedua ini. Penisku terasa lebih kokoh, stabil dan lebih dapat meredam kesenangan yang kudapat. Tidak lebih dari sepuluh menit Ria memperkosaku, dia menjerit dengan terbendung dan Ria tiba-tiba menghentikan genjotannya, matanya terpejam menyangga sesuatu, aku dapat merasakan vagina Ria berdenyutdenyut dan menyedotnyedot penisku, sampai akhirnya Ria mencungkil teriakannya ketika ia menikmati puncak kenikmatannya. Aku menikmati vagina Ria lebih merapat dan memanas, dan aku menikmati kepala penisku laksana tersiram cairan hangat yang terbit dari vagina Ria. Saat Ria menarik keluar vaginanya kulihat cairan hangat mengalir dengan lumayan tidak sedikit di batangan penisku

Setelah Ria Baru saja menemukan orgasme, Ria menggelimpang di sebelah tubuhku. Setelah menjangkau kepuasan yang diinginkannya, melihat tersebut Sari langsung menggantikan posisinya. Gadis ini tidak kalah liarnya. Bahkan jauh lebih ganas lagi daripada Ria. Membuat batanganku menjadi tidak banyak sakit dan nyeri. Hanya dalam tidak hingga satu jam, aku digilir tiga orang gadis liar. Mereka bergelinjang kesenangan dengan dalam suasana tubuh polos di sekitarku, sesudah menjangkau kepuasan yang diinginkannya.

Sementara aku hanya dapat merenung tanpa dapat melakukan apaapa. Bagaimana mungkm aku dapat melakukan sesuatu dengan kedua tangan dan kaki terikat laksana ini?

Aku melulu bisa bercita-cita mereka cepatcepat mencungkil aku sampai-sampai aku dapat pulang dan melupakan semuanya. Tapi harapanku melulu tinggal anganangan belaka. Mereka tidak melepaskanku, melulu menutupi tubuhku dengan selimut. Aku justeru ditinggal seorang diri di dalam kamar ini, masih dalam suasana telentang dengan tangan dan kaki terbelenggu tali kulit. Aku sudah berjuang untuk mencungkil diri. Tapi malah membuat pergelangan tangan dan kakiku jadi sakit. Aku hanya dapat mengeluh dan bercita-cita gadisgadis tersebut akan melepaskanku.

Sungguh aku tidak menduga sama sekali. Ternyata ketiga gadis itli tidak inginkan melepaskanku. Bahkan mereka mengurung dan menyekapku di dalam kamar ini. Setiap ketika mereka datang dan memuaskan nafsu birahinya dengan teknik memaksa. Bahkan mereka memakai untuk memicu gairahku. Sehingga aku tidak jarang kali tidak menyadari apa yang sudah kulakukan pada ketiga gadis itu. Dalam pengaruh obat perangsang, mereka mencungkil tangan dan kakiku. Tapi sesudah mereka menjangkau kepuasan, pulang mengikatku di ranjang ini. Sehingga aku tidak dapat meninggalkan ranjang dan kamar ini.

Dan secara bergantian mereka mengurus makanku. Mereka memandikanku pun di ranjang ini dengan memakai handuk basah, sampai-sampai tubuhku tetap bersih. Meskipun mereka mengasuh dan memperhatikanku dengan baik, namun dalam suasana terbelenggu laksana ini siapa yang suka? Berulang kali aku meminta guna dilepaskan. Tapi mereka tidak pernah menggubris permintaanku itu. Bahkan mereka menakut-nakuti akan membunuhku bila berani melakukan berbagai macam-macam. Aku membayangkan bila orang tua dan saudaranya serta seluruh temanku pasti keadaan bingung mencariku.

Karena telah tiga hari aku tidak pulang dampak disekap gadis liar dan binal ini. Meskipun mereka tidak jarang kali memberiku makanan yang lezat dan bergizi, tapi melulu dalam masa-masa tiga hari saja tubuhku telah mulai kelihatan kurus. Dan aku sama sekali tidak punya tenaga lagi. Bahkan aku telah pasrah. Setiap ketika mereka tidak jarang kali memaksaku menelan obat perangsang supaya aku tetap bergairah dan dapat melayani nafsu birahinya. Aku benarbenar tersiksa. Bukan melulu fisik, tapi pun batinku benarbenar tersiksa. Dan aku sama sekali tidak berdaya untuk mencungkil diri dari genggaman para gadis liar itu.

Tapi sungguh aneh. Setelah lima hari terkurung dan tersiksa di dalam kamar ini, aku tidak lagi menyaksikan mereka datang. Bahkan sehari semalam mereka tidak kelihatan. Aku ditinggal sendirian di dalam kamar ini dalam suasana terikat dan tidak berdaya. Sementara perutku ini terus menerus menagih sebab belum dipenuhi makanan. Aku tersiksa bermunculan dan batin.

Namun keesokan harinya, pintu kamar terbuka. Aku terkejut, sebab yang datang bukan Ria, Santi atau Rika Tapi seorang pria tua, bertubuh kurus. Dia langsung menghampiriku dan membuka ikatan di tangan dan kaki. Saat tersebut aku telah lemah, sampai-sampai tidak dapat lagi guna bergerak. Dan orang tua ini memintaku guna tetap berbaring. Bahkan dia menyerahkan satu stel pakaian, dan membantuku mengenakannya. Tunggu sebentar, Bapak inginkan ambilkan makanan, katanya sambil selesai meninggalkan kamar ini.

Dan memang tidak lama lantas dia telah kembali lagi dengan membawa sepiring nasi dengan lauk pauknya yang mengundang selera. Selama dua hari tidak makan, menciptakan nafsu makanku jadi tinggi sekali. Sebentar saja sepiring nasi tersebut sudah habis beralih ke dalam perut. Bahkan satu teko air pun kuhabiskan. Tubuhku mulai terasa segar. Dan tenagaku berangsur pulih.

Bapak ini siapa?, tanyaku
Saya pengurus lokasi tinggal ini, sahutnya.
Lalu, ketiga gadis itu, tanyaku lagi.
hh, Mereka memang anakanak nakal. Maafkan mereka, Nak, katanya dengan nada sedih.
Bapak kenal dengan mereka?, tanyaku.

Bukannya kenal lagi. Saya yang mengurus mereka semenjak kecil. Tapi saya tidak menduga sama sekali bila mereka bakal jadi liar seperti itu. Tapi untunglah, orang tua mereka sudah membawanya pergi dari sini. mudahan saja kejadian laksana ini tidak terulang lagi, katanya menuturkan dengan mimik wajah yang sedih.

Aku pun tidak dapat bilang apa lagi. Setelah merasa tenagaku pulang pulih, aku mohon diri guna pulang. Dan orang tua tersebut mengantarku hingga di depan pintu. Kebetulan sekali terdapat taksi yang lewat. Aku langsung menghadang dan meminta supir taksi mengantarku kembali ke rumahku. Di dalam perjalanan pulang, aku mengupayakan merenungi seluruh yang baru saja terjadi.

Aku benar tidak mengerti, dan nyaris tidak percaya. Seakanakan seluruh yang terjadi melulu mimpi belaka. Memang aku tidak jarang kali memandang seluruh itu melulu mimpi buruk. Dan aku tidak bercita-cita bisa terulang lagi. Bahkan aku bercita-cita kejadian tersebut tidak hingga menimpa orang lain. Aku tidak jarang kali berdoa semoga ketiga gadis tersebut menyadari kesalahannya dan inginkan bertobat. Karena yang mereka lakukan tersebut adalah suatu kekeliruan besar dan tindakan hina yang seharusnya tidak butuh terjadi.