Cerita panas

Cerita Dewasa Bermain Bersama Om Nakal

Cerita panas – Om Johan, 40 tahun juga cukup dikenal akrab oleh Olivia karena dia sering bertandang di rumah sahabatnya ini. Pada penampilan luarnya Oom Johan bertampang simpatik dan malah kelihatan sebagai orang alim, tapi kenapa sampai bisa berhubungan dengan Olivia ini awalnya cukup konyol. Secara kebetulan keduanya saling kepergok di sebuah hotel ketika masing-masing akan melakukan perbuatan iseng. Oom Johan saat itu sedang menggandeng seorang pelacur langganan tetapnya dan Olivia saat itu sedang digandeng dr.Budi.

Keduanya jelas-jelas bertemu di gang hotel sama-sama tidak bisa mengelak. Tentu saja sama-sama kaget tapi masing-masing cepat bisa bersandiwara pura-pura saling tidak kenal.

Kelanjutan dari itu masing-masing sepakat bertemu dikesempatan tersendiri untuk saling menjelaskan dan membela diri. Bahwa kalau Olivia mengaku hubungannya dengan dr.Budi karena kena bujuk diajak beriseng dan cuma dengan laki-laki itu saja, sedang Oom Johan mengaku bahwa dia terpaksa mencari pelarian karena Tante Vera, istrinya, katanya sudah kurang bergairah menjalankan kewajibannya sebagai istri di tempat tidur. Masuk akal bagi Olivia karena dilihatnya Tante Vera yang gemuk itu memang lebih sibuk di luar rumah mengurus bisnis berliannya ketimbang mengurus suami dan keluarganya. Itu sebabnya Asmi, salah satu anaknya juga jadi bebas dan liar di luaran.

Dari pertemuan itu masing-masing nampak sama ketakutan kalau rahasianya terbongkar di luaran. Olivia takut hubungannya dengan dr.Budi didengar orang tuanya sedang Oom Johan juga lebih takut lagi nama baiknya jadi rusak. Berikutnya karena kadung sudah saling terbuka kartu masing-masing, keduanya yang berusaha agar saling menutup mulut jangan membuka rahasia ini justru menemukan cara tersendiri yaitu dengan membuat hubungan gelap satu sama lain. Ide ini terlontar oleh Oom Johan yang coba merayu Olivia ternyata diterima baik oleh Olivia.

Baca Juga: Pramugari Cantik

Singkat cerita kesepakatan pun tercapai, cuma ketika menjelang janji bertemu di suatu tempat di mana Oom Johan akan menjemput dan membawa Olivia ke hotel, Olivia meskipun melihat tidak ada salahnya mencoba iseng dengan Oom Johan tidak urung berdebar juga jantungnya. Tegang karena partner kali ini hubungannya terkait dekat. Sekali meleset dan terbongkar bisa fatal urusan malunya. Begitu juga waktu sudah semobil di sebelah Oom Johan, sempat kikuk malu dia dengan laki-laki yang ayah sahabatnya ini. Pasalnya Oom Johan yang sebenarnya juga sama tegang karena kali ini yang dibawa adalah teman dekat anak gadisnya, dia hampir tidak ada suaranya dan pura-pura sibuk menyetir mobilnya sehingga Olivia didiamkan begini jadi salah tingkah menghadapinya. Tapi waktu sudah masuk kamar hotel dan mengawali dengan duduk ngobrol dulu merapat di sofa, di situ mulai ke luar keluwesan Oom Johan dalam bercumbu. Olivia pun mulai lincah seperti biasa pembawaannya kalau sedang menghadapi dr.Budi. Genit manja jinak-jinak merpati membuat si Oom tambah penasaran terangsang kepadanya. Waktu itu dengan mesra Oom Johan menawarkan makan pada Olivia tapi ditolak karena masih merasa kenyang.

“Aku minta rokoknya Oom.. Olivia pengen ngerokok.” pinta Olivia sebagai alternatif tawaran Oom Johan.
“Oh ngerokok juga? Iya ada, mari Oom yang pasangin. Oom nggak tau kalo Olivia juga ngerokok.”
“Cuma sekali-sekali aja, abis deg-degan pergi sama Oom ke sini.” jelas Olivia menunjukan kepolosannya.
“Kok sama, Oom juga sempat tegang waktu bawa Olivia di mobil tadi, takut kalo ada yang ngeliat.”
Masing-masing sama mengakui apa yang dirasakan selama dalam perjalanan. Olivia mulai menggoda Oom Johan.
“Masa udah tegang duluan, kan belum apa-apa Oom?” godanya dengan genit.
“Oo yang itu memang belum, tapi jantungnya yang tegang.” jawab Oom Johan setelah membakar sebatang rokok buat Olivia yang sudah langsung menjulurkan tangannya, tapi masih belum diberikan oleh Oom Johan.

“Mana, katanya mau pasangin buat Olivia?”
“Sebentar, sebelum ngerokok bibirnya Oom musti cium dulu..”
Menutup kalimatnya Oom Johan langsung menyerobot bibir Olivia memberinya satu ciuman bernafsu, dibiarkan saja oleh Olivia hanya setelah itu dia menggigit bibir malu-malu manja menyandarkan kepalanya di dada Oom Johan sambil menyelingi dengan merokok yang sudah diterimanya dari Oom Johan. Melihat ini Oom Johan semakin berlanjut.
“Bajunya basah keringetan nih, Oom bukain ya biar nggak kusut?” katanya menawarkan tapi sambil tangannya yang memeluk dari belakang mulai mencoba melepas kancing baju Olivia.

Lagi-lagi Olivia tidak menolak. Dengan gaya acuh tak acuh sibuk mengisap rokoknya, dia membiarkan Oom Johan bekerja sendiri malah dibantu menegakkan duduknya agar kemejanya dapat diloloskan dari lengannya membuat dia tinggal mengenakan kutang saja. Olivia memang sudah terbiasa bertelanjang di depan lelaki, jadi santai saja sikapnya. Tetapi ketika tangan Oom Johan menyambung membuka reitsleting belakang rok jeans-nya dan dari situ akan meloloskan rok berikut celana dalamnya, baru sampai di pinggul Olivia menggelinjang manja.
“Ngg.. masak aku ditelanjangin sendiri, Oom juga buka dulu bajunya?”
“Iya, iya, Oom juga buka baju Oom..”

Segera Oom Johan melucuti bajunya satu persatu sementara Olivia bergeser duduknya ke sebelah. Berhenti dengan hanya menyisakan celana dalamnya, dia pun beralih untuk meneruskan usahanya melepas rok Olivia. Sekarang baru dituruti tapi juga sama menyisakan celana dalamnya. Tentu saja Oom Johan mengerti bahwa Olivia masih malu-malu, dia tidak memaksa dan kembali menarik Olivia bersandar dalam pelukan di dadanya. Di situ dia mulai dengan mengecup pipi Olivia sambil mengusap-usap pinggang bergerak meremas lembut masing-masing pangkal bawah susu si gadis yang masih tertutup kutangnya.

“Olivia kurus ya Oom?” tanya Olivia sekedar menghilangkan salah tingkah karena susunya mulai digerayangi Oom Johan.
“Ah nggak, kamu malah bodimu bagus sekali Sin.” jawab Oom Johan memuji Olivia apa adanya karena memang tubuh gadis ini betul-betul berlekuk indah menggiurkan.
“Tapi Oom kan senengnya sama yang mantep, yang hari itu Olivia liat ceweknya montok banget..”
“Iya tapi orangnya jelek, udah tua. Abisnya nggak ada lagi sih? Maunya nyari yang cakep kayak Olivia gini. Kalo ini baru asyik..” rayu Oom Johan sambil kali ini mencoba untuk membuka pengait bra Olivia yang kebetulan terletak di bagian depan.
“Oom sih ngerayu. Buktinya belon apa-apa udah bilang asyik duluan?”
“Justru karena yakin maka Oom berani bilang gitu. Coba aja pikir, ngapain Oom sampe berani ngajak Olivia padahal jelas-jelas udah tau temen baiknya Asmi, ya nggak? Kalo bukan lantaran tau kapan lagi dapet asyik ditemenin cewek secakep Olivia, tentu Oom nggak akan nekat gini. Udah lama Oom seneng ngeliat kamu Sin.”
Olivia kena dipuji rayuan yang memang masuk akal ini kontan bersinar-sinar bangga di wajahnya. Perempuan kalau terbidik kelemahannya langsung jadi murah hati, segera mandah saja dia membiarkan kutangnya dilepas sekaligus memberikan kedua susu telanjangnya yang berukuran sedang membulat kenyal mulai diremas tangan Oom Johan.

“Emangnya, Oom seneng sama Olivia sejak kapan? Kayaknya sih Olivia liat biasa-biasa aja?”
“Dari Olivia mulai dateng-dateng ke rumah Oom udah ketarik sama cantiknya, cuma masak musti pamer terang-terangan? Tiap kali ngeliat rasanya gemeesss sama kamu..” bJohananya menyebut begitu sambil secara tidak sengaja memilin puting susu di tangannya membuat si gadis lagi-lagi menggelinjang manja.
“Aaa.. gemes mau diapain Oom?!”
“Gemes mau dipeluk-pelukin gini, dicium-ciumin gini, atau juga diremes-remesin gini.. sshmmm..” jawab Oom Johan dengan memperlihatkan contoh cara dia mendekap erat, mengecup pipi dan meremas susu Olivia.
“Terusnya apalagi?”
“Terusnya yang terakhir ininya.. Apa sih namaya ini?” tanya canda Oom Johan yang sebelah tangannya sudah diturunkan ke selangkangan Olivia, langsung meremas bukit vagina yang menggembung dan merangsang itu.

“Itu bilangnya.. memek.” jawab Olivia dengan menoleh ke belakang sambil menggigit kecil bibir Oom Johan. Bahasanya vulgar tapi Oom Johan malah senang mendengarnya.
“Iya, kalau memek Olivia ini dimasukin Oom punya, boleh kan?”
“Dimasukin apa Oom..?”
“Ini, apa ya bilangnya?” tanya lagi Oom Johan dengan mengambil sebelah tangan Olivia meletakkan di jendulan penisnya.
“Aaa.. ini kan bilangnya kontol.. Dimasukin ini bahaya, kalo hamil malah ketauan orang-orang Oom?” Olivia bergaya pura-pura takut tapi tangannya malah meremas-remas jendulan penis itu.
“Jangan ambil bahayanya, ambil enaknya aja. Nanti Oom beliin pil pencegah hamilnya.”
“Tapinya sakit nggak?” tanya Olivia sambil mematikan rokoknya ke asbak.
“Kalo udah dicoba malah enak. Yuk kita pindah ke tempat tidur?” Oom Johan mengajak tapi sambil membopong Olivia pindah ke tempat tidur untuk masuk di babak permainan cinta. Di sini Olivia mulai memasrahkan diri ketika tubuhnya mulai digeluti kecup cium dan raba gemas yang menaikan birahi nafsunya. Olivia sudah pernah begini dengan dr.Budi, caranya hampir sama dan dia senang digeluti laki-laki yang sudah berumur seperti ini. Karena mereka bukan hanya lebih pengalaman tapi juga lebih teliti jika mengecapi tubuh perempuan, apalagi gadis remaja seperti dia. Asyik rasanya menggeliat-geliat, merengek-rengek manja diserbu rangsangan bernafsu yang bertubi-tubi di sekujur tubuhnya.

“Ahahhggg.. gellii Oomm.. Sshh.. iihh.. Oom sakit gitu.. sssh.. hnggg..”
Mengerang antara geli dan perih tapi dengan tertawa-tawa senang, yang begini justru memancing si Oom makin menjadi-jadi. Oom Johan yang nampaknya baru kali ini bergelut dengan seorang gadis remaja cantik tentu saja terangsang hebat, hanya saja dia sayang untuk terburu-buru dan masih senang untuk mengecapi sepuas-puasnya tubuh mulus indah yang dagingnya masih padat kencang ini. Dari semula saja dia sudah nekat melupakan bagaimana status hubungannya dengan Olivia apalagi setelah dilanda nafsu tinggi seperti ini. Anak gadis teman baiknya dan sekaligus sahabat anaknya ini begitu merangsang gairahnya membuat dia jadi terlupa segala-galanya. Olivia yang sudah memberi celana dalamnya diloloskan jadi telanjang bulat sudah rata seputar tubuhnya dijilati dengan rakus. Diberi bagian susunya dihisap saja sudah membuat Oom Johan buntu dalam asyik. Sibuk mulutnya menyedot berpindah-pindah diantara kedua puncak bukit yang membulat kenyal lagi pas besarnya itu, lebih-lebih waktu Olivia di bagian terakhir memberikan vaginanya dikecapi mulutnya. Jangan bilang lagi, seperti anjing kelaparan dia menyosor menjilat dan menyedot celah merangsang itu sampai tidak peduli tingkatan kesopanan lagi. Sahabat anak gadisnya yang biasanya hormat sopan kalau datang ke rumahnya, sekarang santai saja menjambak rambutnya atau mendekap kepalanya mempermainkan seperti bola kalau sosoran mulut rakusnya membuat geli yang terlalu menyengat.

“Ssshh.. aahnggg.. geliii.. Oomm..” Oom Johan seru memuasi rasa mulutnya yang tentu saja membuat Olivia terangsang tinggi dalam tuntutan birahinya, tapi begitu pun jalan pelepasan yang diberikan si Oom betul-betul memuaskan sekali. Pada gilirannya Oom Johan merasa cukup dan menyambung untuk mengecap nikmatnya jepitan ketat vagina muda si gadis, di sinilah baru terasa asyiknya penis ayah sahabatnya.

Sewaktu partama dimasuki, Olivia masih memejamkan mata, dia baru tersadar ketika batang itu sudah setengah terendam di vaginanya. Agak ketat sedikit rasanya. Membuka mata melirik ke bawah, dia langsung bisa mengira-ngira seberapa besar batang itu. “Aahshh..” dia mengerang dengan gemetar kerinduan nafsunya hanya saja tangannya mengerem pinggul Oom Johan agar tidak sekaligus tancap masuk. Meskipun tidak diutarakan Olivia lewat kata-kata tapi Oom Johan mengerti maksudnya. Dia meredam sedikit emosinya dan menusuk sambil membor penisnya lebih kalem. Di situ batang penis ditahan terendam sebentar untuk membawa dulu tubuhnya turun menghimpit Olivia lalu dari situ dia berlanjut membor sambil mulai memompa pelan naik turun pantatnya. Untuk beberapa saat masuknya batang diterima Olivia masih agak tegang, tapi ketika terasa mulai licin dan sudah mulai bisa menyesuaikan dengan ukuran Oom Johan. Dia pun mulai meresapi nikmatnya batang Oom Johan.

“Wihhh.. ennaak sekalii!” begitu ketat dan begitu mantap gesekannya membuat Olivia langsung terbuai dengan nikmat sanggama yang baru dibukanya dengan batang kenikmatan Oom Johan. Saking asyiknya kedua tangan dan kakinya naik mencapit tubuh Oom Johan seolah-olah menjaga agar kenikmatan ini tidak dicabut lepas sementara dia sendiri mulai ikut aktif mengimbangi kocokan penis dengan putaran vaginanya yang mengocok. Disambut kehangatan begini Oom Johan tambah bersemangat memompa, semakin lebih terangsang dia karena Olivia meskipun tidak bersuara tapi gayanya hangat meliuk-liuk setengah histeris. Bergerak terus dengan tangan menggaruk kepala Oom Johan, kakinya yang membelit tidak ubahnya bagai akan memanjat tubuh si Oom. Kelihatan repot sekali gerak sanggamanya yang seperti tidak bisa diam itu, apalagi ketika menjelang sampai ke puncak permainan, tambah tidak beraturan Olivia menggeliat-geliat. Sementara itu si Oom yang sudah serius tegang juga hampir mencapai ejakulasinya.

Beberapa saat kemudian keduanya tiba dalam orgasme secara bersamaan. Olivia yang mulai duluan dengan memperketat belitannya. “Aduuhh.. ayyuhh.. Oomm.. shh.. ahgh.. iyya.. duhh.. aahhh.. hgh.. aaahh.. aeh.. ahduhh.. sshhh Oom.. hheehh.. mmhg.. ayoh.. Sin..” saling bertimpa kedua suara masing-masing mengajak untuk melepas seluruh kepuasan dengan sentakan-sentakan erotis. Sama-sama mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dalam jumpa pertama ini, sehingga ketika mereda keduanya pun menutup dengan saling mengecup mesra, gemas-gemas sayang tanda senangnya. Begitu nafas mulai tenang, Olivia memberi isyarat menolak tubuh Oom Johan meminta lepas, tapi sementara si Oom berguling terlentang di sebelah, dia sudah mengejar, memeluk dengan memegang batangnya dan merebahkan kepalanya di dada Oom Johan. Meremas-remas gemas sambil memandangi batang yang masih mengkilap lengket itu.

“Bandel nihh.. maen nyodok aja?” komentar Olivia sambil menarik penis Oom Johan.
“Abis kamunya juga bikin penasaran aja sih?” balas Oom Johan dengan tangannya merangkul leher bermain lagi di susu Olivia.
“Oom seneng ya sama aku?”
“Oo.. jelas suka sekali Sayaang.. Abis, kamu memang cantik, memeknya juga enak sekali..” kali ini dagu Olivia diangkat, bibirnya digigit gemas oleh Oom Johan.
Olivia langsung bersinar bangga dengan pujian itu. Itu pembukaan hubungan gelap mereka yang sejak itu berlangsung secara sembunyi-sembunyi dengan jadwal rutin karena masing-masing seperti merasa ketagihan satu sama lain. Oom Johan jelas senang dengan teman kencan yang cantik menggiurkan ini. Permainan selalu memilih tempat di hotel di luar kota tapi sekali pernah Olivia mendapat pengalaman yang unik serta konyol di rumah Oom Johan sendiri.

Suatu hari Tante Vera sedang berbisnis ke luar kota ketika Olivia datang bertandang siang itu untuk menemui Asmi. Kedua gadis itu memang membuat janji akan jalan-jalan ke mall sore nanti tapi karena waktunya masih jauh, Asmi mempergunakannya untuk keluar rumah sebentar. Oom Johan yang membuka pintu dan dia sendiri ketika melihat ada peluang yang baik langsung memanfaatkannya, karena begitu Olivia masuk sudah disambut dengan telunjuk di bibir memaksudkan agar Olivia tidak bersuara. Olivia sempat heran tapi ketika digandeng ke kamar Oom Johan dia kaget juga, segera mengerti tujuannya.

“Iddihh Oom nekat.. nanti ketauan Oom.. Asmi memangnya ke mana?” katanya tapi dengan nada berbisik panik.
“Sst tenang aja.. Kita aman, Asmi lagi pergi sebentar, Tante lagi keluar kota sedang Hari lagi tidur..” jelas Oom Johan. Hari adalah adik laki-laki Asmi yang duduk di kelas III SMP. Masih ada seorang lagi adik Asmi bernama Hendi yang duduk di kelas I SMA tapi dia tinggal dengan neneknya di Malang.

“Iya tapi gimana kalo Asmi dateng Oom?”
“Kan nggak ada yang tau kalau Olivia udah di sini. Mereka nggak bakalan berani masuk kamar Oom. Acaramu kan Oom denger masih nanti malem, kita bikin sebentar di sini yaa?”
“Tapi Oom.?”
“Udahlah di sini aja dulu, Oom mau ke luar sebentar. Tuch denger, kayaknya Hari udah bangun. Nih, Oom tebus waktumu untuk jajan-jajan sama Asmi nanti,” kata Oom Johan langsung memotong protes Olivia dengan mengulurkan sejumlah uang yang cepat diambilnya dari dompetnya untuk membujuk Olivia. Setelah itu segera dia keluar kamar meninggalkan Olivia yang karena merasa sudah terjebak terpaksa tidak berani keluar takut kepergok Hari. Melirik uang yang digenggamnya sepeninggal Oom Johan, hati Olivia menjadi lunak lagi karena si Oom memang pintar mengambil hati dan selalu royal memberi jumlah yang cukup menghibur. Meskipun begitu dia menguping dari balik pintu mendengarkan situasi di luar dengan hati berdebar tegang.

“Pak, barusan kayaknya ada yang dateng kedengeran pintu kebuka?” terdengar suara Hari menanyai ayahnya.
“Ah nggak ada siapa-siapa kok, barusan memang Bapak yang buka pintu.”
Baru saja sampai percakapan ini, tiba-tiba terdengar suara motor Asmi memasuki pekarangan. Tidak lama kemudian dia masuk ke rumah dan terdengar menanyai adiknya.
“Har, barusan Mbak Olivia singgah ke sini nggak?”
“Nggak tau, aku juga baru bangun..”
“Oh ya? Padahal Mbak Asmi singgah barusan ke rumahnya, Mamahnya bilangnya ke sini?”
“Ya mungkin aja Olivia tadi ke sini tapi ngira kamu nggak ada, jadi pergi ke tempat lain dulu.” kali ini Oom Johan ikut menimbrung pembJohanaan.
“Iya tapi aku ada janji sama dia nanti sore-sorean. ”
“Oo.. kalo gitu paling-paling sebentar juga ke sini.” putus Oom Johan menghibur anaknya.

Hening sebentar dan tidak lama kemudian terdengar suara Oom Johan memesan kedua anaknya agar jangan ada tamu atau telepon yang mengganggunya karena dia beralasan agak tidak enak badan dan akan tidur siang. Sesaat setelah itu dia pun masuk disambut Olivia yang bersembunyi di balik pintu langsung mencubit gemas lengannya tapi tidak bersuara, geli dengan sandiwara yang barusan didengarnya. Oom Johan tersenyum dan menggayut pinggang Olivia, menggandengnya ke tempat tidur. Olivia menurut karena tahu kalau menolak maka Oom Johan akan membujuknya terus, daripada berlama-lama lebih baik memberi saja agar waktunya lebih cepat selesai. Langsung diikutinya ajakan Oom Johan untuk membuka bajunya, hanya saja masih bingung jika permainan telah usai.

“Tapi nanti aku ke luar dari sininya gimana Oom..?” tanyanya sambil menyampirkan celana dalamnya sebagai kain penutup terakhirnya yang dilepas.
“Gampang, Oom pura-pura aja nyuruh mereka berdua keluar beli makanan, di situ Olivia bisa aman keluar dari sini.”
“Ngg.. Oom bisa aja akalnya..” Olivia sedikit lega.
“Oom kalo mikirin yang itu sih gampang. Sekarang yang Oom pikirin justru ngeluarin isinya barang ini yang enak gimana caranya.” timpal Oom Johan seraya mendekatkan tubuhnya yang sudah sama bertelanjang bulat dan mengambil tangan Olivia untuk diletakkan di batang penisnya yang masih menggantung lemas.
Olivia malu-malu manja tapi tangannya langsung menangkap batang itu, menarik-narik, melocoknya dengan genggaman kedua tangannya sambil memandangi benda itu.

“Yang enak tuh kayak apa sih?” godanya mulai bersikap manja-manja genit.
“Yang enaknya.. ya jelas pake ini Sin.” jawab Oom Johan balas menjulurkan tangannya meremas selangkangan Olivia.
“Iddihh si Ooom.. pengennya yang itu aja?” Olivia pura-pura jual mahal.
“Abisnya barang enak, jelas kepengen Sin..” kata Oom Johan sambil mulai mengajak Olivia berciuman.
Olivia memang memberi bibirnya tapi dia masih kelihatan setengah hati untuk balas melumat hangat, terlebih ketika akan diajak naik tempat tidur dia seperti merasa berat.
“Nggak enak ah Oom, sungkan aku itu tempat tidurnya Tante..” katanya mengutarakan perasaannya yang tidak enak untuk bermain cinta di tempat tidur keluarga itu. Oom Johan rupanya bisa mengerti perasaan Olivia, dia tidak memaksa tapi menoleh sekeliling sebentar dan cepat saja menemukan cara yang lain.
“Ya udah kalo gitu kita bikin sambil berdiri aja. Sini Oom yang atur, ya?” katanya sambil membawa Olivia ke arah kaki tempat tidur dan menyandarkan tubuh Olivia di palang-palang besi tempat tidur itu.

Oom Johan memakai tempat tidur mahal tapi model kuno yang terbuat dari besi lengkap dengan tiang-tiang penyangga kelambunya. Di situ pantat Olivia disandarkan di pagar bawah tempat tidur yang tingginya pas menyangga pantatnya, sedang kedua tangannya diatur Oom Johan melingkar di sepanjang besi melintang di antara dua tiang kelambu bagian kaki tempat tidur yang tingginya setinggi punggung, sedemikian rupa sehingga tubuhnya tersandar menggelantung di besi melintang itu hampir pada masing-masing ketiak Olivia. Suatu posisi yang unik untuk bersanggama dalam gaya berdiri karena setelah itu Oom Johan mengambil dua ikat pinggang terbuat dari kain, lalu mengikat masing-masing lengan Olivia pada besi melintang itu. Olivia menurut saja memandangi geli sambil menunggu apa yang selanjutnya akan dilakukan Oom Johan. Berikutnya barulah Oom Johan mulai merangsang dengan menciumi dan menggerayangi sekujur tubuh Olivia dari mulai atas hingga ke bawah. Berawal mengerjai kedua susu Olivia dengan remasan dan kecap mulutnya dan kemudian berakhir mengkonsentrasikan permainan mulut itu di selangkangannya, membuat Olivia yang semula setengah hati mulai naik terangsang. Malah terasa cepat karena posisi kedua tangannya tidak bisa ikut membalas ini menimbulkan daya rangsang yang luar biasa. Apalagi ketika mulut Oom Johan mulai memberi rasa geli-geli enak di vagina yang tidak bisa ditolak kepalanya kalau geli terlalu menyengat.

Begitu tengah sedang asyik-asyiknya permainan pembukaan ini, di teras depan Asmi terdengar mengalunkan suaranya berduet mengiringi Hari dalam permainan gitarnya. Konyol memang buat Asmi, sahabat yang sedang ditunggu-tunggu untuk janji pergi bersama, ternyata sudah sejak tadi ada di dalam kamar rumahnya sendiri, sedang meliuk-liuk keenakan saat vaginanya dikerjai mulut ayahnya, malah sudah tidak tahan rangsangan gelinya yang menuntut untuk lebih terpuaskan lewat garukan mantap penis ayah Asmi sendiri.

“Ayyohh Oom.. janggan lama-lama.. masukkin dulu Oom punnyaa..” bahkan rintih Olivia sudah meminta Oom Johan segera mulai bersenggama. Oom Johan tidak menunggu lebih lama. Dia segera bangun dan membawa penisnya yang setengah menegang menempel di celah vagina Olivia. Membasahi dulu dengan ludahnya, menggosok-gosokan ujung kepala bulatnya di klitoris Olivia agar menjadi lebih kencang lagi, baru setelah itu mulai diusahakan masuk ke dalam lubang vagina di depannya. Olivia menyambut seolah tidak sabaran, menjinjitkan kakinya untuk mengangkangkan pahanya selebar yang bisa dilakukannya tanpa bisa membantu dengan tangannya. Dia terpaksa menunggu Oom Johan bekerja sendiri menguakkan bibir vagina dengan jari-jarinya agar bisa menyesapkan kepala penisnya terjepit lebih dahulu, baru kemudian ditekan membor masuk. Meningkat kemudian lagu-lagu cinta Asmi yang berduet dengan Hari mengalun romantis, ini senada dengan Olivia yang saat itu juga sedang merintih lirih, mengalunkan tembang nikmat ketika vaginanya mulai disodok dan digesek ke luar masuk penis tegang Oom Johan.

“Ngghh.. Ooomm.. Sssh.. hhshh.. ngghdduuh.. sshsmm.. hdduhh Oomm.. ennakk.. sshhh.. mmmh.. heehhs.. adduhh..” mengaduh-aduh rintih suaranya tapi bukan kesakitan melainkan sedang larut dalam nikmat.

om Johan, 47 tahun juga cukup dikenal akrab oleh Olivia karena dia sering bertandang di rumah sahabatnya ini. Pada penampilan luarnya Oom Johan bertampang simpatik dan malah kelihatan sebagai orang alim, tapi kenapa sampai bisa berhubungan dengan Olivia ini awalnya cukup konyol. Secara kebetulan keduanya saling kepergok di sebuah hotel ketika masing-masing akan melakukan perbuatan iseng. Oom Johan saat itu sedang menggandeng seorang pelacur langganan tetapnya dan Olivia saat itu sedang digandeng dr.Budi.

Keduanya jelas-jelas bertemu di gang hotel sama-sama tidak bisa mengelak. Tentu saja sama-sama kaget tapi masing-masing cepat bisa bersandiwara pura-pura saling tidak kenal.

Kelanjutan dari itu masing-masing sepakat bertemu dikesempatan tersendiri untuk saling menjelaskan dan membela diri. Bahwa kalau Olivia mengaku hubungannya dengan dr.Budi karena kena bujuk diajak beriseng dan cuma dengan laki-laki itu saja, sedang Oom Johan mengaku bahwa dia terpaksa mencari pelarian karena Tante Vera, istrinya, katanya sudah kurang bergairah menjalankan kewajibannya sebagai istri di tempat tidur. Masuk akal bagi Olivia karena dilihatnya Tante Vera yang gemuk itu memang lebih sibuk di luar rumah mengurus bisnis berliannya ketimbang mengurus suami dan keluarganya. Itu sebabnya Asmi, salah satu anaknya juga jadi bebas dan liar di luaran.

Dari pertemuan itu masing-masing nampak sama ketakutan kalau rahasianya terbongkar di luaran. Olivia takut hubungannya dengan dr.Budi didengar orang tuanya sedang Oom Johan juga lebih takut lagi nama baiknya jadi rusak. Berikutnya karena kadung sudah saling terbuka kartu masing-masing, keduanya yang berusaha agar saling menutup mulut jangan membuka rahasia ini justru menemukan cara tersendiri yaitu dengan membuat hubungan gelap satu sama lain. Ide ini terlontar oleh Oom Johan yang coba merayu Olivia ternyata diterima baik oleh Olivia.

Singkat cerita kesepakatan pun tercapai, cuma ketika menjelang janji bertemu di suatu tempat di mana Oom Johan akan menjemput dan membawa Olivia ke hotel, Olivia meskipun melihat tidak ada salahnya mencoba iseng dengan Oom Johan tidak urung berdebar juga jantungnya. Tegang karena partner kali ini hubungannya terkait dekat. Sekali meleset dan terbongkar bisa fatal urusan malunya. Begitu juga waktu sudah semobil di sebelah Oom Johan, sempat kikuk malu dia dengan laki-laki yang ayah sahabatnya ini. Pasalnya Oom Johan yang sebenarnya juga sama tegang karena kali ini yang dibawa adalah teman dekat anak gadisnya, dia hampir tidak ada suaranya dan pura-pura sibuk menyetir mobilnya sehingga Olivia didiamkan begini jadi salah tingkah menghadapinya. Tapi waktu sudah masuk kamar hotel dan mengawali dengan duduk ngobrol dulu merapat di sofa, di situ mulai ke luar keluwesan Oom Johan dalam bercumbu. Olivia pun mulai lincah seperti biasa pembawaannya kalau sedang menghadapi dr.Budi. Genit manja jinak-jinak merpati membuat si Oom tambah penasaran terangsang kepadanya. Waktu itu dengan mesra Oom Johan menawarkan makan pada Olivia tapi ditolak karena masih merasa kenyang.

“Aku minta rokoknya Oom.. Olivia pengen ngerokok.” pinta Olivia sebagai alternatif tawaran Oom Johan.
“Oh ngerokok juga? Iya ada, mari Oom yang pasangin. Oom nggak tau kalo Olivia juga ngerokok.”
“Cuma sekali-sekali aja, abis deg-degan pergi sama Oom ke sini.” jelas Olivia menunjukan kepolosannya.
“Kok sama, Oom juga sempat tegang waktu bawa Olivia di mobil tadi, takut kalo ada yang ngeliat.”
Masing-masing sama mengakui apa yang dirasakan selama dalam perjalanan. Olivia mulai menggoda Oom Johan.
“Masa udah tegang duluan, kan belum apa-apa Oom?” godanya dengan genit.
“Oo yang itu memang belum, tapi jantungnya yang tegang.” jawab Oom Johan setelah membakar sebatang rokok buat Olivia yang sudah langsung menjulurkan tangannya, tapi masih belum diberikan oleh Oom Johan.

“Mana, katanya mau pasangin buat Olivia?”
“Sebentar, sebelum ngerokok bibirnya Oom musti cium dulu..”
Menutup kalimatnya Oom Johan langsung menyerobot bibir Olivia memberinya satu ciuman bernafsu, dibiarkan saja oleh Olivia hanya setelah itu dia menggigit bibir malu-malu manja menyandarkan kepalanya di dada Oom Johan sambil menyelingi dengan merokok yang sudah diterimanya dari Oom Johan. Melihat ini Oom Johan semakin berlanjut.
“Bajunya basah keringetan nih, Oom bukain ya biar nggak kusut?” katanya menawarkan tapi sambil tangannya yang memeluk dari belakang mulai mencoba melepas kancing baju Olivia.

Lagi-lagi Olivia tidak menolak. Dengan gaya acuh tak acuh sibuk mengisap rokoknya, dia membiarkan Oom Johan bekerja sendiri malah dibantu menegakkan duduknya agar kemejanya dapat diloloskan dari lengannya membuat dia tinggal mengenakan kutang saja. Olivia memang sudah terbiasa bertelanjang di depan lelaki, jadi santai saja sikapnya. Tetapi ketika tangan Oom Johan menyambung membuka reitsleting belakang rok jeans-nya dan dari situ akan meloloskan rok berikut celana dalamnya, baru sampai di pinggul Olivia menggelinjang manja.
“Ngg.. masak aku ditelanjangin sendiri, Oom juga buka dulu bajunya?”
“Iya, iya, Oom juga buka baju Oom..”

Segera Oom Johan melucuti bajunya satu persatu sementara Olivia bergeser duduknya ke sebelah. Berhenti dengan hanya menyisakan celana dalamnya, dia pun beralih untuk meneruskan usahanya melepas rok Olivia. Sekarang baru dituruti tapi juga sama menyisakan celana dalamnya. Tentu saja Oom Johan mengerti bahwa Olivia masih malu-malu, dia tidak memaksa dan kembali menarik Olivia bersandar dalam pelukan di dadanya. Di situ dia mulai dengan mengecup pipi Olivia sambil mengusap-usap pinggang bergerak meremas lembut masing-masing pangkal bawah susu si gadis yang masih tertutup kutangnya.

“Olivia kurus ya Oom?” tanya Olivia sekedar menghilangkan salah tingkah karena susunya mulai digerayangi Oom Johan.
“Ah nggak, kamu malah bodimu bagus sekali Sin.” jawab Oom Johan memuji Olivia apa adanya karena memang tubuh gadis ini betul-betul berlekuk indah menggiurkan.
“Tapi Oom kan senengnya sama yang mantep, yang hari itu Olivia liat ceweknya montok banget..”
“Iya tapi orangnya jelek, udah tua. Abisnya nggak ada lagi sih? Maunya nyari yang cakep kayak Olivia gini. Kalo ini baru asyik..” rayu Oom Johan sambil kali ini mencoba untuk membuka pengait bra Olivia yang kebetulan terletak di bagian depan.
“Oom sih ngerayu. Buktinya belon apa-apa udah bilang asyik duluan?”
“Justru karena yakin maka Oom berani bilang gitu. Coba aja pikir, ngapain Oom sampe berani ngajak Olivia padahal jelas-jelas udah tau temen baiknya Asmi, ya nggak? Kalo bukan lantaran tau kapan lagi dapet asyik ditemenin cewek secakep Olivia, tentu Oom nggak akan nekat gini. Udah lama Oom seneng ngeliat kamu Sin.”
Olivia kena dipuji rayuan yang memang masuk akal ini kontan bersinar-sinar bangga di wajahnya. Perempuan kalau terbidik kelemahannya langsung jadi murah hati, segera mandah saja dia membiarkan kutangnya dilepas sekaligus memberikan kedua susu telanjangnya yang berukuran sedang membulat kenyal mulai diremas tangan Oom Johan.

“Emangnya, Oom seneng sama Olivia sejak kapan? Kayaknya sih Olivia liat biasa-biasa aja?”
“Dari Olivia mulai dateng-dateng ke rumah Oom udah ketarik sama cantiknya, cuma masak musti pamer terang-terangan? Tiap kali ngeliat rasanya gemeesss sama kamu..” bJohananya menyebut begitu sambil secara tidak sengaja memilin puting susu di tangannya membuat si gadis lagi-lagi menggelinjang manja.
“Aaa.. gemes mau diapain Oom?!”
“Gemes mau dipeluk-pelukin gini, dicium-ciumin gini, atau juga diremes-remesin gini.. sshmmm..” jawab Oom Johan dengan memperlihatkan contoh cara dia mendekap erat, mengecup pipi dan meremas susu Olivia.
“Terusnya apalagi?”
“Terusnya yang terakhir ininya.. Apa sih namaya ini?” tanya canda Oom Johan yang sebelah tangannya sudah diturunkan ke selangkangan Olivia, langsung meremas bukit vagina yang menggembung dan merangsang itu.

“Itu bilangnya.. memek.” jawab Olivia dengan menoleh ke belakang sambil menggigit kecil bibir Oom Johan. Bahasanya vulgar tapi Oom Johan malah senang mendengarnya.
“Iya, kalau memek Olivia ini dimasukin Oom punya, boleh kan?”
“Dimasukin apa Oom..?”
“Ini, apa ya bilangnya?” tanya lagi Oom Johan dengan mengambil sebelah tangan Olivia meletakkan di jendulan penisnya.
“Aaa.. ini kan bilangnya kontol.. Dimasukin ini bahaya, kalo hamil malah ketauan orang-orang Oom?” Olivia bergaya pura-pura takut tapi tangannya malah meremas-remas jendulan penis itu.
“Jangan ambil bahayanya, ambil enaknya aja. Nanti Oom beliin pil pencegah hamilnya.”
“Tapinya sakit nggak?” tanya Olivia sambil mematikan rokoknya ke asbak.
“Kalo udah dicoba malah enak. Yuk kita pindah ke tempat tidur?” Oom Johan mengajak tapi sambil membopong Olivia pindah ke tempat tidur untuk masuk di babak permainan cinta. Di sini Olivia mulai memasrahkan diri ketika tubuhnya mulai digeluti kecup cium dan raba gemas yang menaikan birahi nafsunya. Olivia sudah pernah begini dengan dr.Budi, caranya hampir sama dan dia senang digeluti laki-laki yang sudah berumur seperti ini. Karena mereka bukan hanya lebih pengalaman tapi juga lebih teliti jika mengecapi tubuh perempuan, apalagi gadis remaja seperti dia. Asyik rasanya menggeliat-geliat, merengek-rengek manja diserbu rangsangan bernafsu yang bertubi-tubi di sekujur tubuhnya.

“Ahahhggg.. gellii Oomm.. Sshh.. iihh.. Oom sakit gitu.. sssh.. hnggg..”
Mengerang antara geli dan perih tapi dengan tertawa-tawa senang, yang begini justru memancing si Oom makin menjadi-jadi. Oom Johan yang nampaknya baru kali ini bergelut dengan seorang gadis remaja cantik tentu saja terangsang hebat, hanya saja dia sayang untuk terburu-buru dan masih senang untuk mengecapi sepuas-puasnya tubuh mulus indah yang dagingnya masih padat kencang ini. Dari semula saja dia sudah nekat melupakan bagaimana status hubungannya dengan Olivia apalagi setelah dilanda nafsu tinggi seperti ini. Anak gadis teman baiknya dan sekaligus sahabat anaknya ini begitu merangsang gairahnya membuat dia jadi terlupa segala-galanya. Olivia yang sudah memberi celana dalamnya diloloskan jadi telanjang bulat sudah rata seputar tubuhnya dijilati dengan rakus. Diberi bagian susunya dihisap saja sudah membuat Oom Johan buntu dalam asyik. Sibuk mulutnya menyedot berpindah-pindah diantara kedua puncak bukit yang membulat kenyal lagi pas besarnya itu, lebih-lebih waktu Olivia di bagian terakhir memberikan vaginanya dikecapi mulutnya. Jangan bilang lagi, seperti anjing kelaparan dia menyosor menjilat dan menyedot celah merangsang itu sampai tidak peduli tingkatan kesopanan lagi. Sahabat anak gadisnya yang biasanya hormat sopan kalau datang ke rumahnya, sekarang santai saja menjambak rambutnya atau mendekap kepalanya mempermainkan seperti bola kalau sosoran mulut rakusnya membuat geli yang terlalu menyengat.

“Ssshh.. aahnggg.. geliii.. Oomm..” Oom Johan seru memuasi rasa mulutnya yang tentu saja membuat Olivia terangsang tinggi dalam tuntutan birahinya, tapi begitu pun jalan pelepasan yang diberikan si Oom betul-betul memuaskan sekali. Pada gilirannya Oom Johan merasa cukup dan menyambung untuk mengecap nikmatnya jepitan ketat vagina muda si gadis, di sinilah baru terasa asyiknya penis ayah sahabatnya.

Sewaktu partama dimasuki, Olivia masih memejamkan mata, dia baru tersadar ketika batang itu sudah setengah terendam di vaginanya. Agak ketat sedikit rasanya. Membuka mata melirik ke bawah, dia langsung bisa mengira-ngira seberapa besar batang itu. “Aahshh..” dia mengerang dengan gemetar kerinduan nafsunya hanya saja tangannya mengerem pinggul Oom Johan agar tidak sekaligus tancap masuk. Meskipun tidak diutarakan Olivia lewat kata-kata tapi Oom Johan mengerti maksudnya. Dia meredam sedikit emosinya dan menusuk sambil membor penisnya lebih kalem. Di situ batang penis ditahan terendam sebentar untuk membawa dulu tubuhnya turun menghimpit Olivia lalu dari situ dia berlanjut membor sambil mulai memompa pelan naik turun pantatnya. Untuk beberapa saat masuknya batang diterima Olivia masih agak tegang, tapi ketika terasa mulai licin dan sudah mulai bisa menyesuaikan dengan ukuran Oom Johan. Dia pun mulai meresapi nikmatnya batang Oom Johan.

“Wihhh.. ennaak sekalii!” begitu ketat dan begitu mantap gesekannya membuat Olivia langsung terbuai dengan nikmat sanggama yang baru dibukanya dengan batang kenikmatan Oom Johan. Saking asyiknya kedua tangan dan kakinya naik mencapit tubuh Oom Johan seolah-olah menjaga agar kenikmatan ini tidak dicabut lepas sementara dia sendiri mulai ikut aktif mengimbangi kocokan penis dengan putaran vaginanya yang mengocok. Disambut kehangatan begini Oom Johan tambah bersemangat memompa, semakin lebih terangsang dia karena Olivia meskipun tidak bersuara tapi gayanya hangat meliuk-liuk setengah histeris. Bergerak terus dengan tangan menggaruk kepala Oom Johan, kakinya yang membelit tidak ubahnya bagai akan memanjat tubuh si Oom. Kelihatan repot sekali gerak sanggamanya yang seperti tidak bisa diam itu, apalagi ketika menjelang sampai ke puncak permainan, tambah tidak beraturan Olivia menggeliat-geliat. Sementara itu si Oom yang sudah serius tegang juga hampir mencapai ejakulasinya.

Beberapa saat kemudian keduanya tiba dalam orgasme secara bersamaan. Olivia yang mulai duluan dengan memperketat belitannya. “Aduuhh.. ayyuhh.. Oomm.. shh.. ahgh.. iyya.. duhh.. aahhh.. hgh.. aaahh.. aeh.. ahduhh.. sshhh Oom.. hheehh.. mmhg.. ayoh.. Sin..” saling bertimpa kedua suara masing-masing mengajak untuk melepas seluruh kepuasan dengan sentakan-sentakan erotis. Sama-sama mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dalam jumpa pertama ini, sehingga ketika mereda keduanya pun menutup dengan saling mengecup mesra, gemas-gemas sayang tanda senangnya. Begitu nafas mulai tenang, Olivia memberi isyarat menolak tubuh Oom Johan meminta lepas, tapi sementara si Oom berguling terlentang di sebelah, dia sudah mengejar, memeluk dengan memegang batangnya dan merebahkan kepalanya di dada Oom Johan. Meremas-remas gemas sambil memandangi batang yang masih mengkilap lengket itu.

“Bandel nihh.. maen nyodok aja?” komentar Olivia sambil menarik penis Oom Johan.
“Abis kamunya juga bikin penasaran aja sih?” balas Oom Johan dengan tangannya merangkul leher bermain lagi di susu Olivia.
“Oom seneng ya sama aku?”
“Oo.. jelas suka sekali Sayaang.. Abis, kamu memang cantik, memeknya juga enak sekali..” kali ini dagu Olivia diangkat, bibirnya digigit gemas oleh Oom Johan.
Olivia langsung bersinar bangga dengan pujian itu. Itu pembukaan hubungan gelap mereka yang sejak itu berlangsung secara sembunyi-sembunyi dengan jadwal rutin karena masing-masing seperti merasa ketagihan satu sama lain. Oom Johan jelas senang dengan teman kencan yang cantik menggiurkan ini. Permainan selalu memilih tempat di hotel di luar kota tapi sekali pernah Olivia mendapat pengalaman yang unik serta konyol di rumah Oom Johan sendiri.

Suatu hari Tante Vera sedang berbisnis ke luar kota ketika Olivia datang bertandang siang itu untuk menemui Asmi. Kedua gadis itu memang membuat janji akan jalan-jalan ke mall sore nanti tapi karena waktunya masih jauh, Asmi mempergunakannya untuk keluar rumah sebentar. Oom Johan yang membuka pintu dan dia sendiri ketika melihat ada peluang yang baik langsung memanfaatkannya, karena begitu Olivia masuk sudah disambut dengan telunjuk di bibir memaksudkan agar Olivia tidak bersuara. Olivia sempat heran tapi ketika digandeng ke kamar Oom Johan dia kaget juga, segera mengerti tujuannya.

“Iddihh Oom nekat.. nanti ketauan Oom.. Asmi memangnya ke mana?” katanya tapi dengan nada berbisik panik.
“Sst tenang aja.. Kita aman, Asmi lagi pergi sebentar, Tante lagi keluar kota sedang Hari lagi tidur..” jelas Oom Johan. Hari adalah adik laki-laki Asmi yang duduk di kelas III SMP. Masih ada seorang lagi adik Asmi bernama Hendi yang duduk di kelas I SMA tapi dia tinggal dengan neneknya di Malang.

“Iya tapi gimana kalo Asmi dateng Oom?”
“Kan nggak ada yang tau kalau Olivia udah di sini. Mereka nggak bakalan berani masuk kamar Oom. Acaramu kan Oom denger masih nanti malem, kita bikin sebentar di sini yaa?”
“Tapi Oom.?”
“Udahlah di sini aja dulu, Oom mau ke luar sebentar. Tuch denger, kayaknya Hari udah bangun. Nih, Oom tebus waktumu untuk jajan-jajan sama Asmi nanti,” kata Oom Johan langsung memotong protes Olivia dengan mengulurkan sejumlah uang yang cepat diambilnya dari dompetnya untuk membujuk Olivia. Setelah itu segera dia keluar kamar meninggalkan Olivia yang karena merasa sudah terjebak terpaksa tidak berani keluar takut kepergok Hari. Melirik uang yang digenggamnya sepeninggal Oom Johan, hati Olivia menjadi lunak lagi karena si Oom memang pintar mengambil hati dan selalu royal memberi jumlah yang cukup menghibur. Meskipun begitu dia menguping dari balik pintu mendengarkan situasi di luar dengan hati berdebar tegang.

“Pak, barusan kayaknya ada yang dateng kedengeran pintu kebuka?” terdengar suara Hari menanyai ayahnya.
“Ah nggak ada siapa-siapa kok, barusan memang Bapak yang buka pintu.”
Baru saja sampai percakapan ini, tiba-tiba terdengar suara motor Asmi memasuki pekarangan. Tidak lama kemudian dia masuk ke rumah dan terdengar menanyai adiknya.
“Har, barusan Mbak Olivia singgah ke sini nggak?”
“Nggak tau, aku juga baru bangun..”
“Oh ya? Padahal Mbak Asmi singgah barusan ke rumahnya, Mamahnya bilangnya ke sini?”
“Ya mungkin aja Olivia tadi ke sini tapi ngira kamu nggak ada, jadi pergi ke tempat lain dulu.” kali ini Oom Johan ikut menimbrung pembJohanaan.
“Iya tapi aku ada janji sama dia nanti sore-sorean. ”
“Oo.. kalo gitu paling-paling sebentar juga ke sini.” putus Oom Johan menghibur anaknya.

Hening sebentar dan tidak lama kemudian terdengar suara Oom Johan memesan kedua anaknya agar jangan ada tamu atau telepon yang mengganggunya karena dia beralasan agak tidak enak badan dan akan tidur siang. Sesaat setelah itu dia pun masuk disambut Olivia yang bersembunyi di balik pintu langsung mencubit gemas lengannya tapi tidak bersuara, geli dengan sandiwara yang barusan didengarnya. Oom Johan tersenyum dan menggayut pinggang Olivia, menggandengnya ke tempat tidur. Olivia menurut karena tahu kalau menolak maka Oom Johan akan membujuknya terus, daripada berlama-lama lebih baik memberi saja agar waktunya lebih cepat selesai. Langsung diikutinya ajakan Oom Johan untuk membuka bajunya, hanya saja masih bingung jika permainan telah usai.

“Tapi nanti aku ke luar dari sininya gimana Oom..?” tanyanya sambil menyampirkan celana dalamnya sebagai kain penutup terakhirnya yang dilepas.
“Gampang, Oom pura-pura aja nyuruh mereka berdua keluar beli makanan, di situ Olivia bisa aman keluar dari sini.”
“Ngg.. Oom bisa aja akalnya..” Olivia sedikit lega.
“Oom kalo mikirin yang itu sih gampang. Sekarang yang Oom pikirin justru ngeluarin isinya barang ini yang enak gimana caranya.” timpal Oom Johan seraya mendekatkan tubuhnya yang sudah sama bertelanjang bulat dan mengambil tangan Olivia untuk diletakkan di batang penisnya yang masih menggantung lemas.
Olivia malu-malu manja tapi tangannya langsung menangkap batang itu, menarik-narik, melocoknya dengan genggaman kedua tangannya sambil memandangi benda itu.

“Yang enak tuh kayak apa sih?” godanya mulai bersikap manja-manja genit.
“Yang enaknya.. ya jelas pake ini Sin.” jawab Oom Johan balas menjulurkan tangannya meremas selangkangan Olivia.
“Iddihh si Ooom.. pengennya yang itu aja?” Olivia pura-pura jual mahal.
“Abisnya barang enak, jelas kepengen Sin..” kata Oom Johan sambil mulai mengajak Olivia berciuman.
Olivia memang memberi bibirnya tapi dia masih kelihatan setengah hati untuk balas melumat hangat, terlebih ketika akan diajak naik tempat tidur dia seperti merasa berat.
“Nggak enak ah Oom, sungkan aku itu tempat tidurnya Tante..” katanya mengutarakan perasaannya yang tidak enak untuk bermain cinta di tempat tidur keluarga itu. Oom Johan rupanya bisa mengerti perasaan Olivia, dia tidak memaksa tapi menoleh sekeliling sebentar dan cepat saja menemukan cara yang lain.
“Ya udah kalo gitu kita bikin sambil berdiri aja. Sini Oom yang atur, ya?” katanya sambil membawa Olivia ke arah kaki tempat tidur dan menyandarkan tubuh Olivia di palang-palang besi tempat tidur itu.

Oom Johan memakai tempat tidur mahal tapi model kuno yang terbuat dari besi lengkap dengan tiang-tiang penyangga kelambunya. Di situ pantat Olivia disandarkan di pagar bawah tempat tidur yang tingginya pas menyangga pantatnya, sedang kedua tangannya diatur Oom Johan melingkar di sepanjang besi melintang di antara dua tiang kelambu bagian kaki tempat tidur yang tingginya setinggi punggung, sedemikian rupa sehingga tubuhnya tersandar menggelantung di besi melintang itu hampir pada masing-masing ketiak Olivia. Suatu posisi yang unik untuk bersanggama dalam gaya berdiri karena setelah itu Oom Johan mengambil dua ikat pinggang terbuat dari kain, lalu mengikat masing-masing lengan Olivia pada besi melintang itu. Olivia menurut saja memandangi geli sambil menunggu apa yang selanjutnya akan dilakukan Oom Johan. Berikutnya barulah Oom Johan mulai merangsang dengan menciumi dan menggerayangi sekujur tubuh Olivia dari mulai atas hingga ke bawah. Berawal mengerjai kedua susu Olivia dengan remasan dan kecap mulutnya dan kemudian berakhir mengkonsentrasikan permainan mulut itu di selangkangannya, membuat Olivia yang semula setengah hati mulai naik terangsang. Malah terasa cepat karena posisi kedua tangannya tidak bisa ikut membalas ini menimbulkan daya rangsang yang luar biasa. Apalagi ketika mulut Oom Johan mulai memberi rasa geli-geli enak di vagina yang tidak bisa ditolak kepalanya kalau geli terlalu menyengat.

Begitu tengah sedang asyik-asyiknya permainan pembukaan ini, di teras depan Asmi terdengar mengalunkan suaranya berduet mengiringi Hari dalam permainan gitarnya. Konyol memang buat Asmi, sahabat yang sedang ditunggu-tunggu untuk janji pergi bersama, ternyata sudah sejak tadi ada di dalam kamar rumahnya sendiri, sedang meliuk-liuk keenakan saat vaginanya dikerjai mulut ayahnya, malah sudah tidak tahan rangsangan gelinya yang menuntut untuk lebih terpuaskan lewat garukan mantap penis ayah Asmi sendiri.

“Ayyohh Oom.. janggan lama-lama.. masukkin dulu Oom punnyaa..” bahkan rintih Olivia sudah meminta Oom Johan segera mulai bersenggama. Oom Johan tidak menunggu lebih lama. Dia segera bangun dan membawa penisnya yang setengah menegang menempel di celah vagina Olivia. Membasahi dulu dengan ludahnya, menggosok-gosokan ujung kepala bulatnya di klitoris Olivia agar menjadi lebih kencang lagi, baru setelah itu mulai diusahakan masuk ke dalam lubang vagina di depannya. Olivia menyambut seolah tidak sabaran, menjinjitkan kakinya untuk mengangkangkan pahanya selebar yang bisa dilakukannya tanpa bisa membantu dengan tangannya. Dia terpaksa menunggu Oom Johan bekerja sendiri menguakkan bibir vagina dengan jari-jarinya agar bisa menyesapkan kepala penisnya terjepit lebih dahulu, baru kemudian ditekan membor masuk. Meningkat kemudian lagu-lagu cinta Asmi yang berduet dengan Hari mengalun romantis, ini senada dengan Olivia yang saat itu juga sedang merintih lirih, mengalunkan tembang nikmat ketika vaginanya mulai disodok dan digesek ke luar masuk penis tegang Oom Johan.

“Ngghh.. Ooomm.. Sssh.. hhshh.. ngghdduuh.. sshsmm.. hdduhh Oomm.. ennakk.. sshhh.. mmmh.. heehhs.. adduhh..” mengaduh-aduh rintih suaranya tapi bukan kesakitan melainkan sedang larut dalam nikmat.

Post Terkait