Berikut ini adalah pengalaman aku dengan seorang wanita baya, sebut saja namanya Debbie umur 35 tahun dan Lucy 33 tahun. Seperti yang sudah-sudah, aku mengenal sosok Debbie dari seringnya aku online sebagai chatter. Aku bisa menilai, Debbie adalah sosok yang hot dalam bercinta. Dengan ciri-ciri 170/65,...

"Dy, coba lubangku yang satu dong?" pintanya sambil merengek. "Hah! Mbak aku belum pernah," sergahku. "Sudahlah Dy, coba deh asyik kok," sambil berkata begitu, tangan Debbie mencoba mengambil sisa cairan di paha Lucy dan mengoleskan ke lubang analnya. "Sini dong Dy" tangan Debbie membimbing penisku untuk memasuki lubang...

Namaku Faridha. Orang biasa memanggilku dengan Ridha saja. Aku lahir tahun 1975 di sebuah kota terkenal dengan julukannya, yaitu kota hujan. Aku telah menikah dengan seorang pria keturunan Jawa bernama Mas Hadi. Kami dikarunai seorang anak laki-laki yang kulahirkan di akhir tahun 1999. Oh.. iya,...

Hingga suatu saat ketika Yanti melepas ciuman bibirnya, lalu mulai menciumi leherku dan semakin turun ke bawah, bibirnya kini menemukan buah dadaku yang mengeras. Tanpa berkata-kata sambil sejenak melirik padaku, Yanti menciumi dua bukit payudaraku secar bergantian. Napasku mulai memburu hingga akhirnya aku menjerit kecil...

Pijatan-pijatan kecil di bahuku terasa nyaman dan enak sekali. Aku begitu menikmati apa yang terasa. Hingga beberapa saat kemudian tubuhku melemas. Kepalaku mulai tertahan oleh perut Mas Sandi yang masih berada di belakangku. Sejenak aku membuka mataku, nampak Yanti membelai vaginanya sendiri dengan tangan kanannya,...

Beberapa saat kemudian Mas Sandi mulai melenguh keras. Kuhentikan kegiatanku dan terus memperhatikan mereka. "Aakhh.. Yantii.. nikmaats.. aakh.. aku keluaar..!" teriak Mas Sandi membahana. "Oh.. Maas.. akuu.. juggaa.. akh..!" Kedua tubuh itu bersamaan mengejang. Mereka mencapai orgasmenya secara bersama-sama. Penis Mas Sandi masih menancap di vagina Yanti sampai akhirnya...

Dari jauh Atan melihat emaknya sedang membeli di kedai mamak Muthu. Atan meneruskan perjalanan pulang dari sekolah. Niat hati ingin memanggil emaknya dibatalkan setelah emaknya berlalu dengan membawa beg plastik yang berisi barang-barang yang dibelinya. Seperti biasa, Atan selalu singgah di kedai Muthu untuk menghabiskan baki...

Suki berlari anak menuju ke arah kedai Muthu. Di bawah pokok ceri kelihatan Muthu dan Seman sedang bermain dam. "Apa hal kau termengah-mengah ni Suki?" Seman menegur sambil membelek tangannya yang berparut akibat kemalangan motor. "Ada berita baik nie" Jawab Suki bermata juling sambil duduk...

Atan masih boleh bayangkan bagaimana orang bertopeng itu memasukkan zakarnya yang hitam itu ke dalam cipap emaknya menyebabkan emaknya mengeluh dan mengerang sebagaimana keluhan yang selalu didengarinya apabila ayahnya ada di rumah. Tangan Atan mengurut balaknya lagi. Air pelincir yang keluar dari hujung balaknya kian...

Imah berjalan meninggalkan kedai Muthu. Di tangannya ada bakul yang penuh dengan barang-barang keperluan. Hatinya seronok kerana Muthu tidak mengambil sebarang bayaran kali ini. "Terimalah sebagai tanda terima kasih saya" Kata Muthu. Mengingat itu semua Imah rasa nak tergelak. Berbaloi juga dia mengangkang pada pada malam itu...