cerita panas

Bunda Maya Ibu Guruku

Pertama kali aku mengenalnya ketika aku sekolah di kota B. Dia salah satu guru yang mengajar di sekolah tempatku belajar. Menurutku sih wajahnya tak begitu cantik, cuma dia neniliki wajah yang keibuan, asal pembaca tau, aku paling suka dengan wanita yang berwajah keibuan. Panggil saja dia bunda Maya. Aku cukup akrab dengannya, baik di lingkungan sekolah, maupun diluar sekolah. Bunda Maya orangnya baik dan cukup perhatian untuk ukuran seorang guru. Bahkan, ketika aku bertengkar dengan pamanku dan memilih untuk kost, dia menawarkanku untuk tinggal dirumahnya. Aku pun mengiyakan tawarnya. Dan itu merupakan awal dari semua hal gila namun indah. Crazy stupid love.Hahahhaa.

Aku selalu mengingat kejadian malam itu. Suami bunda Maya, Pak Anwar dan putrinya ynag bernama Rosa menginap di rumah ibunya pak Anwar karena ibunya tengah sakit. Aku cuma sama bunda Maya yang berada di rumah malam itu. Kami berdua mempunyai banyak kesamaan yang membuat kita cepat akrab. Diantaranya tentang buku dan insomnia. Jadi tak heran meski waktu sudah menunjukan pukul 23.00 kita masih terjaga tiduran di depan Tv.

“Al, kamu gak risih kan, nemenin bunda liat Tv?” tanya bunda.
“Gak kog bun, kenapa tanya gitu bun?” aku balas bertanya.
“Gakpapa, takut aja kalau kamu risih” jawabnya.

Cerita Dewasa – Bunda menghela nafas panjang. Dia seperti ingin bercerita tentang sesuatu padaku tapi kelihatannya masih ragu. Akupun lantas bergeser dan berbaring di sampingnya. Bunda Maya hanya tersenyum sambil membelai rambutku dan berkata,

Baca Juga: Ratna Sebagai Tumbal Hutang Akibat Ulah Suaminya

“Dasar kamu kayak bayi gede aja” celetuknya, lalu dia menggelitik pinggangku, akupun tergelak dan membalasnya.
“Udah malem tidur yuk, bunda kelonin ya” katanya. Aku menjawabnya dengan anggukan dan lalu memeluknya.
“Al, kamu tau gak kalau bunda sayang kamu dari pertama kali lihat kamu di sekolahan bunda merasa seperti menemukan anak yang sudah lama hilang” ujarnya. Mendengar itu akupun tersenyum dan kemudian mengecup keningnya.
“Aku juga sayang bunda” balasku.

Aku tahu semua ini berlebihan untuk ukuran guru dan murid. Meski bunda sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri dan sebaliknya. Aku sadar ini tak seharusnya terjadi, karena aku meskipun baru berusia 18 tahun, tapi tetap telah menjadi pria dewasa yg matang secara biologis dengan kondisi mental yang tengah labil. Aku sadar aku mulai terangsang karena hangatnya pelukan bunda. Dan secara refleks aku menggerakkan bibirku ketika aku membenamkan kepalaku di lehernya.

“Iiih, Al nakal deh, jangan gitu donk” kata bunda mengingatkan.
“Bunda sayang, Aldo ini cowok bunda juga tahu itu. Terlepas dari perasaan yang mengikat kita seperti ibu dan anak, aku juga terangsang kalau dipeluk kayak gini.” jelasku. Mendengar penjelaskanku, bunda hanya tersenyum dan lalu mengecup keningku.
“Iya, tapi asal jangan sama cewek lain ya kasian mereka nanti malah jadi korbanmu”

Dan mulai saat itum bila pak Anwar dan anaknya menginap di rumah ibunya, aku dan bunda selalu tidur bersamaan. Kami saling berpelukan dan kadang aku iseng menggodanya dengan sentuhan-sentuhan mesra berharap dia akan horny dan meresponnya. Hingga suatu malam aku benar-benar sudah tak mampu mengendalikan nafsuku lagi. Seperti biasa, tengah malam aku dan bunda masih terjaga, kami tiduran, berangkulan. Bunda membelai wajahku, lalu menaruh tanganya di dadaku, dia tersenyum jahil.

“Kamu horny ya Al?” ledek bunda. Aku cuma diam aja dan menatap dalam matanya dan langsung mengecup bibirnya. Bunda menggumam dan berusaha menggerakkan kepalanya. Aku menahan pipinya sambil menghisap bibirnya, rasanya nikmat sekali. Nafas kami mulai memburu. Dan tak kusangka bunda pun akhirnya membalas ciumanku tersebut.

Awalnya ciuman kami pelan seperti sepasang anak muda yang tengah kasmaran, lalu menjadi penuh gairah, saling menghisap dan lidah kami saling berpaut menari-nari di dalam mulut. Lalu aku mulai membelai toketnya yang berukuran gak begitu besar, namun berisi. Kujilati telinganya sampai lehernya, bunda hanya diam terpejam dan melenguh. Tak menunggu lama aku segera mengangkat baju tidurnya dan lalu menghisap putingnya. Bunda pun mendesah dengan menggangkat toketnya keatas. Bunda menjambak rambutku dengan kedua tangannya.

“Ooohhh, Al, enak sayang sedot terus sayang, gigit pelan Al…aaahhh” pinta manja.

Akupun menuruti permintaanya. Bunda mendesah panjang ketika aku mencoba untuk menghisap kedua putingnya secara bersamaan. Setelah itu aku pun dengan segera menarik turun celana tidurnya dan CDnya. Aku langsung membenamkan kepalaku diantara kedua pahanya. Baunya gak aneh dan membuatku sedikit merasakan pusing tapi aku semakin terangsang.
Bunda menjerit pelan ketika aku mulai menjilati klitorisnya.

“Pelan-pelan Al, ngilu sayang” katanya sambil menjambak rambutku.

Namun aku tak mengindahkannya dan terus menjilati klitorisnya dan semua bagian dari memeknya. Cairan bening mulai mengalir dari dalam lubang memeknya, membuatku semakin bernafsu. Lucunya, meski bunda melarang, tapi pinggulnya bergerak naik turun seiring dengan jilatanku. Semakin bunda blingsatan maka semakin bernafsu aku. Kutusukkan lidahku makin dalam, dan bunda pun makin bergerak liar dan mendesah.

“Pintar sekali kamu Al, belajar darimana kamu?” pujinya. Mendengar kata-kata pujian itu aku makin bernafsu.
Aku menjilatinya dengan penuh gairah. Menggigit pelan pahanya. Lalu, yang kuanggap paling gila, ketika aku mengangkat pahanya, menjilati pantatnya dengan rakus. Ku gesekkan lidahku diantara belahan pantatnya. Aku tak peduli soal aromanya atau rasa risih bunda. Meski sedikit menolak, kulihat dia menikmatinya. Bunda mendesah, meremas toketnya sendiri sambil mengusap-usap klitorisnya yang becek. Melihat itu akupun jadi semakin bernafsu. Kembali kujilati lagi lubang memeknya, kusedot dan kureguk cairannya yang sedikit amis, asin dan memabukkan.

“Kamu gak jijik Al? Bunda jadi tambah nafsu melihat aksi nakalmu” tanyanya.

Aku tak menjawabnya, aku terus menjilati dan menusuk lubang memeknya dengan lidahku, sesekali aku meremas kedua bongkahan pantatnya. Bunda terlihat menikmatinya. Dia mengangkangkan kedua kakinya dan mengangkat pantatnya.
Aku tahu apa yang dia inginkan. Namun aku menyuruhnya untuk membalikkan badannya dan menungging.

“Mau kamu apain bunda Al? tanyanya sambil terengah-engah. Aku tersenyum liar dan berkata,
Aku mau bikin bunda lebih binal dan nikmat, bunda nikmatin aja ya”. Tanpa banyak bicara lagi, aku meremas pantatnya, membelah pantatnya.

Kulihat analnya yang berwarna merah tua itu mengkerut, lalu kuludahi dan kujilati.
“Arrgghhh…Al…kamu apain bunda sayang, enak sekali Al…aaahhh…” erangnya sambil terengah, menahan nafas, menikmati apa yg tengah kulakukan. Sambil menjilati analnya, aku membelai lembut memeknya. Bunda mendesah panjang, sambil meregangkan pahanya, lalu kumasukkan kedua jariku kedalam lubang memeknya.

“Aahhh…nikmat sayaaaang…sodokan jarimu Al…tekan yang dalam…ooohhh…aaaahhh” desahnya.

lagi-lagi kuturuti pintanya, kukocok memeknya makin cepat dan aku mulai berani menjejalkan lidahku ke lubang analnya.
Tak lama kemudian, bunda menegang. Analnya terasa mengkerut di lidahku, dan jariku terasa terhempit.

“Aduh Aaaaalll..bunda keluaaaarrr…aaahhhh…” teriaknya. Terasa sekali spermanya menyembur di jari dan tanganku.
Cairan bening rada kental itu juga mengucur dari dalam lubang memeknya. Tak kusia-siakan, lalu aku berbaring diantara belahan pahanya dan mulai meneguk cairan itu. Badan bunda terasa berkedut, sementara aku masih menjilati dan menghisap memeknya.

“Enak sayang…bunda jadi lemes, istirahat sebentar yaa?” katanya. Bunda lantas memutar badannya, mengangkang dan merebahkan tubuhnya diatasku. Tiba-tiba bunda menarik celanaku, menggenggam kontolku dan mengocoknya.

“Sekarang gantian ya Al…” katanya sambil tersenyum. Tubuhku bergetar merasakan ngilu dan nikmat ketika bunda mengulum kepala kontolku. Bunda makin gencar mengoral kontolku.

“Ukurannya kurang gede ya bun?” tanyaku was-was.
“Mmm..mmm…” gumamnya. Aku merasakan kenikmatan yang berbeda ketika dia berusaha berbicara sedang kontolku masih di mulutnya. Tapi kemudian dia melepaskan kontolku dan menjawab,

“Gedean punya bapak sih, tapi bikin sakit tiap penetrasinya, punyamu kayaknya pas deh buat bunda dan gak bau juga” jelas bunda.
“Kog tahu kalau pas?” tanyaku iseng. Bunda tersenyum nakal, lalu membalikkan badannya. Dia menggenggam kontolku, mengesekkan ke memeknya.
“Kita lihat aja, nanti juga tahu pas atau gak waktu kontolmu masuk ke memek bunda” jawabnya nakal. Akupun menjawab dengan senyuman nakal dan kemudian kupegangi pinggulnya sementara bunda mulai menurunkan pantatnya menekan ke bawah.
Dan “Bleeessss….”

“Sssthhh…aaahh…nikmat Al…pas banget buat bunda…” desahnya. Aku tak bisa menjelaskan dengan baik apa yang kurasa. Hanya kenikmatan yang kurasakan ketika kontolku mulai bergesekkan dengan dinding rahimnya yang licin dan hangat, kontolku serasa dipijit, digenggam oleh gumpalan daging hangat nan basah. Bunda menggerakkan pinggulnya maju mundur. Aku sesekali meremas kedua toketnya, memilin putingnya, kadang menarik-narik putingnya. Keringat kami bercucuran. Kami berdua sama-sama mendesah.

Dan ketika bunda merasa lelah, maka aku yang menyodoknya dari bawah. Mencoba menghujamkan kontolu lebih dalam. Semakin dalam, terasa lebih basah, licin, hangat dan nikmat. Tak lama kemudian aku mulai merasa ada menyeruak dari ujung kontolku.

Aku mengangguk dan lalu menghisap putingnya. Aku merasa tak bisa lagi menahannya makin lama dan kemudian kubalikan badannya, kuhujamkan makin cepat dan keras. Kuremas dan kuhisap putingnya secara bergantian. Saat itu juga bunda mencengkram pundakku, kedua kakinya melingkar erat dipinggangku. Tak lama kemudian kami berdua berterik nikmat secara bersama ketika meraih orgasme secara bersamaan. Badan kami menegang,bergetar, berkedut-kedut. Aku terkulai lemas diatasnya. Bunda menjilati leherku, mencium pipiku lalu merangkul leherku.

“Makasih Al, bunda puas banget…benar kata bundakan punyamu lebih pas buat bunda dan yang penting ukuran bukan masalah…” jelasnya. Akupun lantas mencium keningnya, hidungnya dan bibirnya.
“Wah, perjakaku hilang direnggut bunda dong…hahahaha…” kataku menggodanya.
“Bunda sayang kamu Aldo…” ucapnya.
“Aku juga sayang bunda” jawabku. Kami kemudian tertidur dengan berpelukan.

Dan mulai saat itu, kapanpun rumah sepi, kami berdua selalu ngentot. Kami berkomitmen menjadikan ini rahasia berdua dan tak pernah berusaha menyesalinya. Yah, meskipun saat ini, dia memilih menjauh dan menjalani kehidupannya bersama keluarga kecilnya.

Post Terkait