Akhirnya Mau Ku Ajak di kosan

Akhirnya Mau Ku Ajak di kosan

Kisah pengalamanku yang pertama menikmati tubuh wanita saat itu saya masih menjadi mahasiswa di salah satu PTN kota pelajar, dan sekarang saya sudah kembali lagi di ibu kota bekerja sebagai eksmud tapi untuk masalah cinta sungguh tak bisa saya lupakan.

Waktu itu saya lagi suntuk, baru masuk kuliah 5 bulan. Selesai mengikuti ujian semester yang melelahkan, saya menghabiskan waktu bermain billyard di diskotik Crazy Horse Jl. Magelang Km 4 Yogyakarta. Mungkin dari para pembaca ada yang pernah kuliah atau pernah tinggal di Yogyakarta pasti tahu diskotik tersebut.

Aku dengan dua sahabat kostku bermain sampai 10 game, & waktu telah menunjukkan pukul 11:30 malam. Kami setuju untuk mengakhiri main billyard & bersiap untuk pulang. Tapi sewaktu saya akan membayar di kasir, sempat kulihat ada seorang wanita muda masuk ke tempat billyard tersebut & langsung menghampiri salah satu meja yang ada di sana.

Aku cuma berpikir mungkin salah satu score girl yang bekerja di tempat itu, lalu saya pun acuh saja & berjalan menuju pintu keluar bersama kedua temanku.

Tak sampai semenit, terdengar ada kegaduhan di salah satu meja billyard, serempak kami menoleh ke arah situ & kulihat wanita muda yang baru masuk tadi sedang memaki-maki seorang laki-laki yang saat itu sedang memangku salah satu score girl.

Kami bertiga jadi tercengang melihat keributan itu, apalagi sewaktu perempuan muda yang ternyata cantik itu menampar pipi pria yang sedang dimaki-maki tersebut. Kemudian si wanita langsung berlari menuju pintu keluar sambil menangis, melewati kami yang masih terperangah. Kami pun akhirnya juga keluar menuju tempat parkir motor. saya mengendarai sendirian, sedang kedua sahabat kostku itu berboncengan.

Baru 500 meter dari tempat billyard tersebut, kami yang tadinya berkendara motor sambil mengobrol terkejut begitu melihat wanita muda yang menampar seorang pria di tempat billyard tadi, terpaku berdiri di pinggir jalan sambil terisak menangis.

Salah satu temanku menegur si wanita, “Mbak udah malam begini mau kemana..?”Tapi si wanita itu cuma menutup wajahnya & tangisannya terdengar semakin keras. Kami saling bertatapan. Melihat gelagat begitu, saya meberanikan diri untuk menghampirinya.

Maaf Mbak, kami bertiga nggak ada niat jahat, cuma mau menawarkan bantuan, kalau memang Mbak mau kami bisa mengantar Mbak pulang.” ujarku sungguh-sungguh.

Melihat tetap tak ada komentar dari si wanita, saya pun kembali menyambung, “

Bagaimana Mbak..? Saya serius, tapi kalau memang Mbak nggak mau ya telah kami nggak bisa memaksa.

Lagian apa Mbak nggak khawatir telah larut malam begini masih di tengah jalan, kalau kelihatan orang Mbak lagi menangis, bagaimana nanti..?”

Kami bertiga saling pandang menunggu jawaban dari dia, lalu si wanita itu pun mengangguk tanpa satu patah pun kata keluar dari mulutnya. Karena yang mengendarai motor sendirian itu aku, dia pun membonceng naik ke motorku.

Pram, saya tak pulang dulu ya? Udah malam nih, berani kan kamu sendiri?” salah satu temanku bertanya kepadaku.

Ya udah nggak apa-apa kok, kalian pulang duluan saja..!” jawabku.

Lalu kami berpisah, kedua temanku langsung meluncur pulang ke kost, sedang saya akan mengantar pulang si wanita muda itu.

Rumah Mbak dimana..?” saya bertanya memecah kebisuan di antara kami.

Terus saja ke arah selatan.” jawabnya singkat & terdengar sengau karena sambil menangis.

Jalan-jalan di kota yang terkenal dengan kota gudegnya itu pada waktu malam telah sepi, saya mengendarai motorku perlahan menunggu petunjuk dari wanita di belakangku ke arah mana dia pulangnya. Kurang lebih 10 menit dia diam saja.

Aku kembali bertanya, “Maaf Mbak, di daerah mana sih rumahnya..?”

Si wanita cuma terdengar menghela nafas, “Taulah Mas, saya malas pulang, terserah Mas mau mengajak kemana.” jawab si wanita sekenanya.

Terus terang saya jadi bingung dengan jawabannya itu. Maksudku benar-benar ingin mengantar dia pulang malah jawabannya begitu. Jujur saja dahulu saya masih polos & lugu, belum mengerti & bodoh untuk jawaban seorang wanita seperti itu. Kalau kini sih justru saya yang menawari menginap di hotel atau motel.

Setelah 15 menit berputar-putar, saya bingung mau diajak kemana nih orang..?

Akhirnya saya cuma bilang, “Mbak, telah semakin malam nih, bagaimana..? saya musti pulang, soalnya besok pagi saya harus kuliah.”

Setelah terdengar terbatuk kecil, dia menukas, “Mas kost kan..? Kalau nggak keberatan, saya ikut Mas ke kost aja, tapi kalau nggak mau ya saya turun disini saja deh, nggak apa-apa kok.”

Aku jadi semakin bingung dengan jawabannya itu.

Ah gimana ya..? Nggak apa-apa nih kamu ke kostku..?” tanyaku setengah tak percaya.

Sebagai jawabannya, si wanita yang duduk membonceng di belakang motorku itu malah melingkarkan tangannya memeluk pinggangku. Mimpi apa saya semalam sampai ketemu wanita macam begini.

Aku menjalankan motorku ke arah kost sambil tubuhku merinding, karena dua bola daging di dada si wanita itu menyentuh punggungku begitu dia merapatkan tubuhnya memeluk tubuhku. Sesampainya di kost, kulihat kamar kedua sahabat kostku telah gelap, menandakan mereka telah terlelap.

Rumah kostku memang cuma dihuni bertiga, pemilik rumah tak tinggal disitu, jadi kalau ada sahabat atau saudaraku yang menginap disitu, mau tak mau ya tidur di kamarku. Begitu juga yang kualami sekarang, saya jadi bingung, masak sih saya tidur satu kamar dengan perempuan yang belum kukenal?

Setelah membersihkan badan & mengganti baju, saya menawari dia minum, “Mau minum apa Mbak..?”

Sambil tersenyum manis dia cuma menyahut, “Air putih saja lah, tapi ngomong-ngomong maaf ya saya jadi merepotkan.”

Allaa .. nggak apa-apa.” ujarku, tapi di dalam hati saya berdebar bagaimana ya nanti saya tidur satu kamar dengan wanita yang baru 2 jam kukenal.

Setelah bisa menenangkan hati, saya menyambung, “Oh iya Mbak, mau ganti baju..? Pakai saja kaosku, sebentar ya kuambilkan, oh iya kalau Mbak mau mandi, biar saya ambilkan handuk sekalian ya..?”

Aduh Mas, sudahlah jadi ngerepotin nih, sebenarnya sih kalau bisa saya juga mau pinjam celana pendek saja, boleh..?” si wanita berkata dengan wajah masih sembab.

Nggak apa-apa kok, sekalian aja ya? tapi kalau baju dalam cewek saya nggak punya.” ujarku sambil tersenyum memberanikan diri menggodanya.

Si wanita tertawa geli mendengar perkataanku tadi.

Aduuh.., cantik sekali jika dia tertawa..” kataku dalam hati.

Sambil tersenyum, si wanita mengulurkan tangannya & berjabat tangan denganku, “Widya.” dia memperkenalkan diri.

Namaku Pram, nama kamu bagus Mbak.” jawabku sekaligus memuji namanya sunguh-sungguh.
Dia cuma tersenyum menanggapinya, lalu diambilnya celana, kaos & handuk dari tanganku & langsung menuju kamar mandi.

Sambil menunggu Widya mandi, saya menata kamar, kuambil bantalan sofa di teras & kuatur sedemikian rupa berjejer di lantai membentuk tempat tidur. Beberapa saat kemudian Widya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos & celana pendekku yang terlihat kebesaran, jadi terlihat lucu di mataku, tapi bagiku tetap terlihat cantik & manis. Kemudian kami pun terlibat obrolan hangat di serambi depan kamarku, sambil menikmati minuman hangat yangkusodori.

Kuperhatikan Widya memang cantik, putih dengan rambut sebahu diikat dengan karet gelang, dadanya membusung penuh, bibirnya merah segar walau tanpa polesan lipstik maupun kosmetik lainnya.
Tingginya sekitar 165 cm, dengan body yang bagiku amat proposional. Kutaksir umurnya walau lebih tua dariku tapi tak lebih dari 25 tahun.

Dia menceritakan bagaimana tadi dia sakit hati dengan pacarnya yang sedang memangku wanita lain, bagaimana sikap pacarnya itu akhir-akhir ini. Pokoknya dia mencurahkan semua isi hatinya kepadaku, dengan rokok yang tak berhenti mengepul dari bibir seksinya, sedang saya cuma termangu mendengarnya.

Tak terasa 1 jam lamanya kami mengobrol & mataku semakin terasa berat.

Lalu saya memotong pembicaraanya, “Mbak, saya mau tidur dulu ya..?” kataku & Widya masih asyik dengan sebatang rokoknya.

Oh ya, silahkan Mas, nggak apa-apa, kan saya masih mau menikmati malam ini..!” jawabnya.

Kemudian saya masuk ke kamar, kutinggalkan Widya yang masih duduk di teras depan kamarku, langsung kurebahkan tubuhku di bantalan sofa yang kuatur sedemikian rupa di lantai membentuk tempat tidur.

Entah berapa lama saya terlelap, tiba-tiba saya terbangun karena menikmati geli di sekitar selangkanganku. Masih setengah sadar kurasakan ada sesuatu yang membuat kelakianku berdenyut-denyut bercampur geli.

Begitu kubuka mataku, bagai disambar geledek rasa terkejutku, di keremangan lampu tidur, saya melihat Widya menindih pangkal pahaku & jari di tangannyayang mungil itu tengah mengelus-elus batang kejantananku yang telah terbuka lepas dari celanadalamku, sedang sarung yang biasa kupakai kalau saya tidur itu telah terbuka seluruhnya. Sedang bibir & mulutnya tengah asyik menciumi pangkal dari kemaluanku.

Mbak..! Kk.. kkhh.. kamu lagi.. lagi.. ngapain..?” kata-kataku tercekat di kerongkongan menyadari semua ulahnya.

Sungguh kupikir saya sedang bermimpi, tapi begitu kucubit pipiku sendiri terasa sakit, baru saya sadar itu memang nyata. Ya Tuhan! terus terang saya benar-benar memang belum pernah diperlakukan demikian oleh wanita, walau telah 2 kali pacaran.

Begitu tahu saya telah terbangun & sadar sepenuhnya, Widya melirik ke arah bola mataku, dia tersenyum sambil tangannya tetap mengelus batang kemaluanku.

Hmm.., boleh kan saya memberi sesuatu sekedar membalas kebaikan kamu..?”

Tubuhku gemetar & keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitku. Perlahan saya berusaha melepaskan diri dari tindihan tubuhnya.

Masih tergagap saya menanggapinya, “Ta.. tt.. tapi, eeng.. Mbak.. ee.. kamu.., eh, Mbak nggak perlu begini..”

Perlahan Widya beringsut ke atas & berbisik pelan di telingaku, “Mbok jangan panggil saya Mbak dong..?” sambil jemari di tangannya masih tetap mengelus rudalku.

Usahaku untuk melepaskan diri sepertinya semakin sulit, karena tubuh Widya kini telah menindih tubuhku.”Lalu..? Aku.. ee.., musti panggil apa..? Kan umur Mbak lebih tua..?” tanyaku terbata-bata.
Tangan Widya kini mulai mengurut kemaluanku perlahan dari atas terus ke bawah, demikian berulang-ulang. Sontak saya kelojotan menerima perlakuannya.

Terserah deh.., mau panggil apa, yang penting saya kini mau memberi hadiah spesial buat kamu sayang, pasti kamu akan amat menikmati.”

Suaranya terdengar amat seksi di telingaku, karena memang saat itu mulutnya sedang menciumi daerah belakang telinga kiriku. Mataku terpejam menikmati buaian gairah & hembusan kenikmatan yang diberikan Widya melalui remasan tangan di batang kemaluanku.

Mbak.., oohh.. akhh.. aa.. aku.. belum pernah.. eengg.. belum pernah dii.. ee.. begini.. sama.. ee.. perempuan.., Mbak..” masih tergagap saya dengan polosnya terus terang ke padanya.

Sementara batang kejantananku tambah berdenyut keras diremas-remas & diurut oleh tangan Widya yang bagiku amat terampil.

Kuperhatikan Widya tersenyum, “Aku tau sayang, kamu memang baik, amat baik malah, & kamu amat polos, saya sangat.. hmm.. saya senang jika saya bisa menikmati keperjakan laki-laki yang masih lugu seperti kamu..” kata-kata terakhir Widya terdengar malu-malu.

Tapi Mbak, eengg.. apa Mbak.. ee.. nggak merasa bersalah..? Kan Mbak telah punya pacar..?” sahutku.

Kembali dia tersenyum dengan manisnya, lantas Widya menjawab, “Sudahlah Pram sayang, jangan omongin dia lagi ya..? Pokoknya saya malam ini milik kamu, titik..! Lagian kan saya tadi bilang kalau.. eeng.. terus terang saja, saya ingiinn banget mencicipi keperjakaan.. hhmm.. jangan marah ya..?”

Mendengar perkataan Widya tadi, saya jadi senang, “Kenapa mesti marah..?” kataku dalam hati.
Selesai Widya berkata begitu, mulutnya mulai mendarat di bibirku, dilumatnya bibirku dengan lembut, kubalas lumatan bibirnya dengan penuh gairah, sementara jemari tangannya semakin keras mengayunkan batang kemaluanku naik turun.

Perlahan dilepaskan lumatan mulutnya pada mulutku, bibirnya menelusur perlahan ke arah leherku, terus ke bawah bermain di sekitar dadaku, dijilatinya puting di dadaku. saya kegelian.

Setelah puas bermain di dadaku, mulut Widya terasa menjalar ke bawah melewati perut langsung ke pusat kemaluan di selangkanganku. Kulirik ke bawah bertepatan dengan saat itu matanya sedang menatapku, lalu dia tersenyum, membuka mulutnya & sedetik kemudian, “

Aaahh.. God..!” jeritku dalam hati, karena mendapati bibir mungilnya yang terbuka tadi telah mencaplok kepala di batang rudalku. Diturunkan kepalanya & otomatis batang kemaluanku terus tenggelam di dalam mulutnya. Demikan terus mulut Widya menghisap kemaluanku.

Di sela hisapan & jilatan mulutnya, Widya memuji kemaluanku, “Pram.., hmm.. saya telah menduga.., hhmm.. punya kamu ini paling nggak ada 16 cm, lumayan sih.. tapi eengg.., lingkarannya ini lho, wahh..! Bisa dibayangin.., tanganku aja nggak muat megangnya, apalagi.. enngg.., masuk ke memekku yah..?” malu-malu Widya mengatakan begitu dengan wajahnya yang bersemu merah.

Mbak.., oouuhh.., Mbak.. enak Mbak, mulut kamu bikin punyaku kayak mau meledak nih..!” desahanku keluar karena tak tahan dengan mulut & bibirnya yang menggarap sekujur rudalku.

“Jangan Pram! Jangan meledak sekarang! Ntar aja ya.., di dalam punyaku..?”

Kontan Widya menyudahi aksinya, lantas dia menyambung perkataannya, “Ngomong-ngomong, kamu belum pernah kan mencicipi kemaluan cewek..? Mau nggak..?”

Glek!” saya cuma menelan ludah membayangkan tawaran yang selama ini cuma dalam mimpiku.

Eee.., kayak apa sih rasanya..? Di film BF kayaknya nikmat banget menjilat memek cewek..”

Widya tertawa geli mendengar kepolosanku, “Memang kok, makanya dicobain deh, sebentar ya..?”

Widya bangkit dari tubuhku, dia berdiri di atasku & tanpa malu-malu lagi Widya melorotkan sendiri celana pendek yang dikenakannya sekaligus celana dalamnya, tapi kaosnya tak ikut dilepas.

Melihat aksi wanita cantik itu, saya cuma bengong & berkali-kali menelan ludah menahan nafsu yang kian memburu.

Lalu tanpa diduga, Widya berdiri tepat di atas wajahku yang masih tiduran di lantai, dikangkanginya kedua kaki jenjang milik Widya itu, hingga bulu-bulu lebat di sekitar selangkangannya jelas terlihat yang diantara bulu-bulu tersebut terlihat menyempil secuil daging kemerahan menutupi lubang kemaluan milik Widya yang amat indah.Sepertinya Widya membiarkanku menikmati sesaat pemandangan indah yang baru kali ini kunikmati.

Sambil tersenyum, perlahan Widya menurunkan tubuhnya, berjongkok di atas dadaku. Telah ratusan kali saya menelan ludahku sendiri menahan gejolak gairah yang benar-benar baru pertama kali sensasi yang diperlihatkan wanita seperti ini dalam hidupku.

Dengan posisi dimana Widya duduk di atas dadaku, kemaluan Widya yang hangat dengan bulunya yang lebat & sedikit kebasahan terasa menyentuh kulit di dadaku. Perlahan dibuka kedua paha Widya semakin melebar, memperlihatkan semakin jelas bentuk kemaluan seorang wanita, karena kemaluan Widya kini cuma berjarak sekitar 10 cm di depan wajahku.

Kuperhatikan dengan seksama, “Ooo, begini toh memek cewek itu..!” kataku dalam hati.
Tampak jelas kini secuil daging kemerahan yang tadi terlihat, yang ternyata adalah bentuk dari bibir luar kemaluan wanita.

Terlihat sedikit terbuka, memperlihatkan bibir bagian dalam lubang kemaluan milik Widya tersebut. Sementara di bagian pucuk atas bibir kemaluan itu bertengger dengan indahnya secuil daging berwarna merah muda menonjol keluar. saya menduga ini pasti klitoris atau kelentit wanita.

Ada sekitar 3 menit saya terpana memperhatikan semua pemandangan dahsyat yang baru kali ini kunikmati dalam hidupku.

Aduuhh..!” saya menjerit kecil kaget ketika tangan Widya mencubit pipiku.

Iiihh.., kamu ngeliatin apa sih Pram..?” Widya bertanya pura-pura tak tahu.
Wajahku terasa panas menahan malu.

Cuma mau dilihatin aja ya..?” kembali Widya membuatku sedikit kikuk.

Eehh.. ohh.. nggak, habis punya kamu bagus sih..!” saya menjawab sekenanya, karena tak tahu apa yang harus kukatakan.

Ah masa sih..?” sahutnya, lalu seperti memancing gairah kelakianku, jari telunjuk di tangan Widya mengusap-usap bagian klitorisnya sendiri, dipelintir sedemikian rupa hingga sepertinya benda kecil di kemaluan Widya itu tambah mencuat keluar.

Masa sih memekku bagus heh..? Bagus apanya..? Kalau bagus kok cuma diliatin aja..? Heh..?” Widya menyambung perkataannya yang terdengar suaranya amat seksi.

Selesai berbicara, perlahan Widya menggerakkan pantatnya beringsut ke depan, menyodorkan kemaluannya seperti dipersembahkan kepada mulut & bibirku. Kini jarak liang vagina Widya dengan wajahku cuma tinggal sekitar 5 cm.

Dan kontan merebak aroma khas kemaluan seorang wanita menusuk hidungku. Sebuah aroma & bau yang juga baru kali ini saya menikmatinya. Begitu harum & lembut seperti bau daun pandan. Sesaat saya memejamkan mata menikmati aroma yang tercium lembut, gurih menembus hidungku.

Iiihh.., nih anak..! Ngapain sih..? Kayaknya kok dari tadi cuma ngeliatin aja, kini cuma mencium baunya aja..!” suara Widya sontak membuyarkan lamunanku.

Kulihat wajahnya terlihat cemberut. saya tersenyum melihat ulahnya.

Iya Mbak! Mosok nggak boleh sih saya menikmati dulu harumnya kemaluan Mbak..? Beneran kok Mbak, memek Mbak haruumm.. banget..!” saya mencoba merayu Widya.

Langsung ditanggapi olehnya, “Iya apa..?! Tapi katanya mau mencoba ngerasain memek cewek, kok didiamkan aja, lagian..

Ooouuhh Pram..! Ouuffsshh.. aduhh nakal kamu..! Yaahh.., gitu dong.. sshhtt..!” omongan Widya terputus begitu saya mulai mengangkat kepalaku guna menjulurkan lidahku & menjilat bibir luar kemaluannya, karena saya sendiri sebenarnya telah tak sabar ingin segera menikmati & mencicipi bagaimana sih rasa kemaluan wanita.

Lubang kemaluan Widya yang telah setengah merekah itu begitu mengundang hasratku untuk menyusupkan lidahku ke dalamnya. Perlahan kusapu bibir kemaluan Widya bagian bawah, dan.. eehh ternyata ada sedikit kebasahan disitu, sejenak kukecap kebasahan berupa lendir bening yang dikeluarkan liang surga milik Widya itu.

Hhmm.., lezat sekali..!” kataku dalam hati sambil meresapinya.

Ehh Mbak, ee.. enak juga ya Mbak..?” ujarku sambil menikmati rasa gurih lendir itu.

Sambil merintih manja, Widya menyahut, “Ouuhh Pram.., itu baru lendir pelumas aja, coba dehnanti.. oohh.. sstt.. kamu akan tambah menikmati lendir yang keluar kalau saya orgasme nanti, makanya kamu harus berusaha membuatku puas, Pram..!”

Sementara pacuma dibuka semakin lebar memberi ruang gerak lebih leluasa buat lidah & mulutku bergerak.

Kembali saya menjulurkan lidahku menyusup diantara belahan bibir kemaluan Widya sambil dibantu oleh jari-jarinya menguakkan belahan itu semakin lebar.

Oouuhh.. oouuff.. sstt.., yah begitu sayangg.. terus masukkan lidah kamu lebih dalam..! Yaahh.. teruuss.. ooughh..” erangan Widya terdengar lembut & bergairah menikmati sentuhan lidahku.
Apalagi petualangan lidahku mulai menyentuh secuil daging kelentit yang telah terasa semakin keras mencuat keluar & membuat Widya merintih keras.

Pramm.., yahh.. betull..! Teruss.., yang lembut sayangg..! Oouff.. eesshhtt.. sstt.. edann..! Enak banget..! Aduuhh.., eesshh.. kamu ternyata.. uuff.. ternyata pintar juga.. eesshhtt..” desahnya tak berhenti.
Sebenarnya saya cuma mempraktekkan apa yang selama ini kulihat di film BF, bagaimana cara perlakuan oral sex pada liang kemaluan wanita.

Kembali terasa di lidahku lendir yang keluar dari liang kemaluan Widya semakin banyak. Oohh Tuhan! Ternyata betapa nikmatnya rasa lendir kemaluan wanita itu. Aroma harum kemaluan milik Widya semakin tajam menusuk hidungku seiring semakin banyaknya lendir itu membanjir keluar & membuatku semakin bernafsu terus menjilati seantero kemaluan Widya, terutama klitoris yang berwarna merah muda itu memang amat membangkitkan hasratku untuk lebih bernafsu menjilatinya.
Daging kelentit itu terus kusentil dengan lidahku dengan irama yang teratur, baik ke samping maupun ke atas & ke bawah.

Adduuhh.. Praamm.. eesshhtt.. pintar sekali kamu..! Yahh begitu.., teruuss.. duhh Gusti.. nikmat sekali..! Adduuhh.., kayaknya saya mau sampai nih..! Teruss..!” rintihan Widya terdengar semakin keras, & malah kini seperti menjerit kecil, apalagi entah perintah dari siapa, saya yang tadi membuat gerakan menjilat, kini mulai memagut kelentit itu & langsung kukulum layaknya mengulum permen.

Kukulum & kuemut dengan mulutku daging kelentit milik Widya dengan gemas bercampur nafsu. Kontan tubuh Widya kelojotan, menggelinjang hebat menikmati nikmat yang amat amat di pusat kenikmatan yang terletak pada kelentitnya.

Bongkahan pantat milik Widya yang tadi mendudukidadaku, entah refleks atau apa, kini semakin maju & saya yang tadi agak mengangkat kepala untuk menggarap kemaluannya dengan mulutku, kini bisa bersandar pada bantalan sofa di lantai, karena bongkahan pantat Widya kini tepat di atas kepalaku. Kini posisi tubuh Widya duduk bersimpuh yang mana kepalaku otomatis tenggelam di jepitan kedua pangkal pahanya.

Posisi demikian terus terang membuatku sulit bernafas, apalagi mulutku masih terus mengulum dengan buasnya daging kelentit milik Widya yang sepertinya terasa semakin tegang & keras.Sementara dari sela-sela bulu kemaluannya, saya masih sempat melihat kedua tangan Widya meremas-remas kedua payudaranya seperti berusaha menambah rangsangan terhadap dirinya. Terlihat juga kepala Widya mendongak ke atas & kedua bola matanya mendelik-delik serta pupil hitam di matanya telah tak terlihat, cuma terlihat warna putihnya saja.

Pramm.. enngg.. oouukkhh.. esstthh.. Ya ampun Tuhann..! Adduuhh.. yyaahh.. sedikit lagi.. yahh.. uuff.. kkhh.. kk.. ka.. kamu ingin menikmati.., ouuhh.. ingin mencicipi lendirku kaann..? Yaahh.. sedikit lagi.. dikiit lagi sayaangg..! Makanya.., uughh.. emut terus..! Adduuhh.., lebih keras lagi.

Yaahh.., terus hisap itilku.., teruuss.. emut yang kuat sayang, yaahh begitu..!” jeritan & rintihan kenikmatan Widya terdengar putus-putus, sementara saya terus menghisap sambil menarik-narik kuat kelentit itu masuk ke dalam mulutku.

Dan tiba-tiba suara desahan itu berhenti. Sama sekali tak terdengar jeritan maupun rintihan Widya, yang ada cuma tubuhnya bergetar hebat, kelojotan yang membuat pantat & pinggulnya bergoyang kesana kemari, tapi pagutan & hisapan mulutku pada kelentitnya tetap tak kulepaskan, mau tak mau kepalaku ikut bergerak mengikuti gerakan liar bongkahan pantatnya, padahal tanganku yang dari tadi meremas-remas bongkahan pantat milik Widya itu telah berusaha menahan gerakan liarnya itu. saya tetap bertekad mempertahankan posisi mulutku menghisap & memagut daging kelentit Widya.

Semenit kemudian kelojotan tubuh Widya terhenti, yang kurasakan tubuhnya meregang hebat, kedua pacuma kejat-kejat menghimpit kuat kepalaku yang membuatku amat sulit untuk bernafas, tapi saya rela menahan nafas cuma untuk menanti apa yang terjadi pada saat-saat dimana Widya akan menjemput puncak kenikmatan sejatinya.

Kembali Widya menjerit-jerit, “Aahh.., esshtt.. ituu..! Yahh.. ituu..! Aduuhh.. enakkhh.. enak banget..! Aahh.. esshhtt.. aduuhh.. ini sayangg..! Yaahh.., ini saya keluarin ya..? Oouuffsshhtt.. nikmatt sekalii.., yaahh..!”

Benar saja, beberapa detik setelah itu, terasa di lidahku semburan hangat cairan lendir itu keluar tertangkap di ujung lidahku, mengalir menerobos masuk ke dalam mulutku, terus menyerbu ke dalam kerongkonganku & langsung kutelan.

Benar seperti yang dikatakan Widya, lendir bening yang dikeluarkan lubang kemaluannya benar-benar amat lezat, gurih & ada sedikit rasa manis bercampur asin. Sungguh suatu sensasi yang baru pertama kali kualami dalam hidupku.

Entah mungkin ada 5 atau 6 kali mulutku menangkap semburan cairan lendir yang membanjir keluar dari lubang kemaluan Widya. Saking derasnya aliran lendir itu menyembur mulutku sampai tersedak. & semburan cairan itu semakin melemah sampai akhirnya berhenti sama sekali, cuma berupa tetesan-tetesan saja yang tentu tak kulewati begitu saja.

Jepitan kedua paha Widya di kepalaku terasa mengendur, hingga saya dapat mengambil nafas panjang. Kuhirup udara dalam-dalam karena ada lebih semenit saya menahan nafas sampai dadaku terasa sesak. Tapi pengorbanan itu kuanggap sesuai dengan sensasi dasyat yang kudapatkan melalui hisapan & jilatan mulut serta lidahku di setiap inchi pada lubang kemaluan Widya, hingga mimpiku bisa menjadi kenyataan untuk menikmati nimatnya, lezatnya, enaknya cairan lendir yang dikeluarkan liang vagina seorang wanita.

Detik berikutnya Widya merebahkan tubuhnya di atas tubuhku, dengan posisi pinggulnya masih menindih dadaku, punggungnya menindih batang kemaluanku tapi kepalanya di atas kakiku & kedua kakinya menjuntai lurus melewati atas kepalaku.

Sementara tubuhku bagian atas mulai dari dada hingga wajah basah oleh cairan lendir yang hangat, terasa melekat pada pori-pori di permukaan kulitku. Dada Widya terlihat naik turun beriringan dengan nafasnya yang naik turun sisa dari kenikmatan yang baru saja dicapainya.

Selang beberapa menit kemudian setelah nafasnya mulai teratur, Widya bangkit dari tubuhku, & dapat kulihat dengan jelas raut wajahnya yang memerah, dengan rambut yang berantakan, tapi justru menambah keseksiannya.

Sambil tersenyum manis, dia berkata kepadaku, “Ouhh Pram.., saya benar-benar nggak menduga, kamu begitu lihai dengan permainan mulutmu, padahal kamu belum pernah selain dengan saya kan..? Apa kamu bohong ya..?”

Aku menyahutnya dengan serius, “Lho kok nggak percaya Mbak..? Memang saya telah pernah punya pacar 2 kali, tapi demi Tuhan, pacaranku sebatas ciuman thok..! Nggak lebih, swear Mbak..!”
Widya tersenyum geli melihat kepolosanku, “

Iya.. ya.. saya percaya..! Lagian seandainya kamu bohong pun, saya nggak keberatan kok, masa bodo..! Yang penting saya enak, habis mulut & lidah kamu itu lho bikin saya terbang ke awang-awang, nggak tau deh kalau senjata kamu itu bisa bikin saya juga terbang melayang nggak..”

Widya menanggapi keseriusanku dengan kerlingan nakal matanya yang menggoda. Tetapi habis berkata begitu, tangannya meraih batang kemaluanku yang dari tadi berdenyut-denyut. Diusapkannya perlahan batang rudalku dengan jari-jarinya yang lembut. saya berdebar menanti aksi Widya selanjutnya.

Setelah puas mengurut & meremas-remas kemaluanku, Widya memposisikan tubuhnya berjongkok di atas perutku. saya masih menduga-duga apa yang akan dilakukannya. Sepertinya dia akan menyusupkan batang kemaluanku pada lubang vaginanya dengan posisi seperti itu. Dadaku semakin berdebar menanti saat-saat dimana saya akan menikmati pertama kali dalam hidupku bagaimana nikmatnya bersanggama dengan seorang wanita.

Seperti tahu akan perasaanku, Widya mencoba membuatku rileks, “Pram.., kok kamu tegang sih..? Santai saja, Mbak maklum kalau kamu tegang begitu, Mbak dulu juga seperti kamu, gelisah & tegang, nih coba ya..? Kamu tutup mata kamu, tarik nafas dalam-dalam..!” kata-kata Widya terputus begitu ujung di kepala kemaluanku menyentuh sesuatu yang hangat, basah & kenyal.

Tapi saya tahu itu pasti bibir luar kemaluan Widya. Dengan telaten tangan Widya membimbing batang rudalku untuk mendapatkan posisi yang tepat agar jalan batang kemaluanku menembus liang kemaluannya bisa pas. Begitupun dengan pinggul Widya sedikit digoyangkan, agar posisi ujung kepala kemaluanku bisa tepat dalam jepitan bibir kemaluannya.

Aku memejamkan mata mengikuti nasehat Widya sambil menikmati geli bercampur ngilu. karena menikmati gesekan kulit kepala kemaluanku dengan bibir kemaluannya. Kuatur nafasku, dan, “Bleess..!” begitu Widya menurunkan pinggulnya, terasa batang kemaluanku perlahan menerobos masuk ke dalam lubang vaginanya.

Ohh Tuhann..! terasa begitu lembut & hangatnya bibir & dinding kemaluan milik Widya ini mendekap sekujur batang kemaluanku.

Oouhh.. Mbaakk..!” cuma itu rintihan yang keluar dari mulutku mewakili berjuta kenikmatan yang baru kali ini kurasakan di umurku yang ke 20 tahun.

Oouuff.., gimana sayaangg.., heehh..? Enaakhh..? Aahh.. sstt.. aduuhh.. gilaa..! Punya kamu.., uuff.. adduhh.., benar kan dugaan Mbak tadi..? Oouugghh.. gila..! Punya kamu gede banget.. tau nggak sih..? Aasshhtt.. Menuh-menuhin bungkusnya, Edaann..! Uuff.. adduuhh..” rintihan Widya bersahutan dengan desahan nikmatku.

Yahh.., ya Mbakk..! Pantesan ya Mbak.., oouusshh.. pantesan kk.. kata orang making love itu.., aduuhh.. sshh.. nikmat sekali..!”

Perlahan Widya mulai menggerakkan pinggulnya naik turun, sedangkan saya cuma bisa menggigit bibirku menikmati desiran nikmat yang baru kali ini kurasakan. Desiran nikmat itu bertambah seiring dengan semakin cepatnya gerakan naik turun pinggul Widya di pusat selangkanganku.

Apalagi begitu gerakan pinggul Widya bukan cuma naik turun, tetapi disertai dengan berputar-putar yang membuat batang rudalku seperti dipelintir. Seluruh sekujur tubuhku bergetar, perasaanku terbang melayang menjemput nikmat yang teramat sangat. Sementara kedua tangannyameremas-remas kedua payudaranya sendiri, seolah ingin menambah rangsangan untuk dirinya sendiri.

Sekitar 5 menit kemudian, gerakan Widya seperti orang kesurupan.

Dia mendesis panjang, matanya terbalik, “Praamm.., uugghh.. esshhtt.. akhh.. akkuu.. hampir.., yaahh.. yaahh.. yaahh.. Gilaa..! Enak bangett..! Oouuff..”

Dan rintihan itu tiba-tiba terhenti, tubuh Widya mengejang, sesaat kemudian Widya menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku, memeluk leherku kencang & mulutnya melumat bibirku dengan buas. Akusendiri terkejut, entah apa yang dirasakannya. Yang kurasakan bibirku nyeri dilumat oleh bibirnya, & entah dari mana tiba-tiba pangkal pahaku terasa basah tersembur cairan hangat yang mungkin dikeluarkan oleh vagina Widya.

Edan kamu Pram..! Hehh.. ssthh.. uuff.., baru kali ini dalam satu babak Mbak kalah dua kali..! Ntar dulu ya..? Oohh..”

Habis berkata begitu, Widya menciumi pipiku lembut & mesra, sambil tangannya mengelus rambutku yang telah acak-acakkan.

Widya menatapku dengan matanya yang sayu, “Kayaknya saya kok mulai sayang kamu ya..? Wah gawat nih Mbak nggak ingin kehilangan kamu..” Widya melanjutkan perkataannya.

Aku cuma menatap Widya dengan pandangan bingung, sementara rudalku masih tetap menancap dengan gagahnya di jepitan lubang kemaluan Widya yang telah amat becek itu.

Mbak.., eengg.. Mbak akhh.. ak.. akuu.., ee..,” belum tuntas ucapanku, Widya memotong, “Iya sayang, Mbak tau..! Kamu pingin dikeluarin kan..? Kerasa kok di memek mbak, kontol kamu berdenyut-denyut, hi.. hi.. kaciaann..!”

Habis berkata demikian, Widya kembali menciumi wajahku, lalu menjalar ke arah leher, terus ke belakang telingaku.

Kasian kamu sayang..! Coba deh rasakan ini..?”

Aku cuma bertanya dalam hati, apa maksud dari perkataan Widya baru saja. Tapi kebingunganku cuma beberapa detik, karena terjawab oleh remasan otot-otot di kemaluan Widya yang meremas-remas sekujur batang rudalku.

Oohh.., Mbakk.. uuffss.. Mbak..! Aduhh.. nikmatnya..” desahku tak menentu.

Kalau dibiarkan, bisa kacau nih, saya bisa keluar tanpa memberikan perlawanan yang berarti.Tanpa mengeluarkan kemaluanku pada vaginanya, tanpa di diduga oleh Widya, saya merubah posisiku, dimana kini saya yang di atas menindih tubuh Widya. Kulihat Widya sedikit terkejut, tapi dia cuma tersenyum melihat ulahku.

Gantian ya Mbak..? Kini Mbak istirahat aja menikmati semuanya.”
Sambil berkata begitu, saya menaikkan kedua kaki Widya yang jenjang itu ke atas pundakku.

Adduuhh.., kok kamu tau sih posisi gini..? Posisi kayak gini Mbak paling suka lho..! Ayoo..! Kok diam saja..? Mbak ‘emut’ lagi lho kontol kamu sama memek Mbak, nih rasain..!” ancamnya.

Benar saja, ancamannya betul-betul di buktikan, kembali kurasakan batang rudalku terasa diremas-remas dengan lembut oleh liang kemaluan Widya.

Memang saya kalah jauh pengalaman di bidang seks, tapi dasar sifatku yang tak mau kalah, saya mencoba mengimbangi permainan hisapan vagina Widya. Perlahan kumulai menggerakkan batang kemaluanku keluar masuk di jepitan bibir vagina Widya yang masih terus mengemut batang kemaluanku.

Dari gerakan perlahan, saya mencoba menaikkan tempo, semakin cepat rudalku menggelosor maju mundur pada lubang kemaluan Widya. Semakin lama denyutan bibir kemaluan Widya terasa melemah, seiring desahan nafasnya semakin keras terdengar menebar nafsu birahi.

Iyyaa..! Terus..! Yaahh gituu..! Aduuhh Pramm..! Enak banget..! Terus tambah kenceng..!”
Disela-sela rintihan Widya, saya mendengar kecipak air lendir di setiap hantaman batangkemaluanku yang merojok-rojok seisi relung-relung liang vagina Widya.

Posisi kaki Widya kini menjepit punggungku yang otomatis ikut naik turun seirama gerakan naik turunnya pinggulku.

Oouuhh.., Mbakk..! saya baru menikmati enaknya ML ya Mbak..? Aduuhh.. enakk.. tenan Mbak..!” saya yang memang baru menikmati nimatnya bersetubuh dengan seorang wanita, benar-benarmenikmati nikmatnya surga duniawi ini.
Detik demi detik tak kulewatkan, kuresapi betul phenomena ini dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.

Pramm.., uuff.. sstt.. Pram.. oohh.., aduhh Gusti..! Adduuhh.. gawat..! Mbak mau.. uuffsshhtt.., Mbak mau keluarr.., yaahh.. teruss..! Dikit lagi.., yaahh.. yaahh.. eesshhtt.. esshh.. aahh..!” terlihat mata Widya membuka lebar, tapi yang terlihat cuma putihnya saja, entah dimana pupil hitam di matanya itu, pelukannya tambah erat, & jepitan kedua kakinya tambah kuat menjepit pinggulku yang semakin cepat menghantam selangkangannya.

Beberapa detik kemudian, kembali kemaluan Widya berdenyut-denyut yang menandakan dia kembali meraih orgasmenya yang ketiga kali. Sedang saya entah dikarenakan denyutan liang kemaluan Widya atau apa, sesaat lagi seperti akan memuntahkan semua isi dari batang rudalku. Benar saja, kenikmatan yang kurasakan itu seperti merambat naik ke puncak & terpusat pada batang kemaluanku.

Ooouuhh.., Mbak.., adduuhh.. Mbaakk..! Yaahh.. oouuhh Godd..!” terasa ada aliran pada batang rudalku menuju ujung di kepala kemaluanku, dan, “Sreett.. serr.. sseerr..” entah berapa kali air maniku menyembur dari pucuk kemaluanku menyerbu masuk & membasahi setiap relung pada dinding kemaluan di seantero lubang kemaluan Widya.

Beberapa menit kemudian, “Mbaakk.., hilang deh perjakaku diambil Mbak Widya..!” saya pura-pura merengek di depannya, sementara batang kemaluanku masih menancap pada lubang vagina Widya.

Iya deh maaf yaa..? Kamu menyesal..?” Widya menyahut sambil mengecup pipiku dengan perasaan sayang.

Aku cuma menggeleng, lalu disambungnya lagi, “Pram, Mbak serius lho, kayaknya Mbak ada perasaan sayang deh sama kamu. Kepolosan & kejujuran kamu itu yang membuat Mbak suka kamu. Tadinya Mbak cuma mau membalas perlakuan pacar Mbak itu, tapi kok rasanya malah memang Mbak sayang kamu. Lagian kejantanan kamu jauh di atas dia, Mbak sampai kepayahan menahan gempuran kamu. Kamu tau kan Mbak tadi orgasme sampai tiga kali..?”

Aku mengangguk, “Iya Mbak, saya tahu, Mbak tadi keluarin lendir tiga kali, pertama pakai mulutku, yang kedua & ketiga pakai si ‘Adek’..!”

Aku mengibaratkan batang rudalku dengan sebutan ‘Adek’. Mbak Widya tersenyum mendengar perkataanku tadi, “Hemm.., boleh juga tuh, nama kesayangan kontol kamu ‘Adek’ aja ya..? Iya nih, si

Adek’ bikin Mbak dehidrasi, kekurangan cairan tubuh..!”

Terasa batang rudalku berangsur lemas, & tak lama kemudian tercabut dengan sendirinya dari segala kehangatan & kebasahan pada liang surga milik Mbak Widya ini. Kulihat cairan maniku tumpah kembali keluar bercampur dengan lendir milik Mbak Widya. Sekonyong-konyong Mbak Widya menempelkan telapak tangan kanannya di mulut kemaluannya sendiri.

Aku terbengong menyaksikan ulahnya, “Mau ngapain nih orang..?” batinku.
Seperti mengetahui akan kebingunganku, Widya cuma tersenyum, lalu dia berkata, “Pram, mani seorang perjaka konon rasanya amat lezat, makanya Mbak ingin mencicipi mani kamu. Toh tadi kamu juga udah ngerasain cairan lendirku kan..? Apa salahnya kalau Mbak juga ingin menikmati & mencicipi sperma kamu..?”

Setelah dirasa cukup, Widya menarik tangannya yang tadi menutupi selangkangannya, terlihat di telapak tangannya penuh dengan cairan spermaku. Tanpa ragu-ragu cairan sperma di telapak tangannya dibawa ke depan mulutnya & langsung direguk perlahan, sambil dikecap terlebih dahulu dengan matanya sedikit terpejam, seolah Widya sedang menikmati sebuah minuman terlezat yang pernah dirasakannya.

Diseruput sedikit demi sedikit sampai akhirnya cairan sperma itu habis. Seperti tak puas, telapak tangannya dijilat seolah tak rela ada sisa spermaku yang tertinggal di telapak tangannya.
Aku tertegun & meringis dengan semua ulah Widya, “Nggak jijik toh Mbak..? Apa sih rasanya, kayaknya kok sampai segitunya..?”

Widya langsung menyahut ucapanku, “Lho kamu sendiri tadi apa nggak jijik menghisap habis lendir Mbak..? Hayo..? Air mani kamu bener-bener lezat, gurih nggak seperti air mani pacar Mbak, bau..! Kalau lagi berkencan dengan dia terus sperma dia keluar, Mbak sampai muntah. Gimana ya..? Sperma kamu bener-bener putih & bersih, Mbak suka banget dengan sperma kamu, bikin Mbak ketagihan deh kayaknya.”

Kemudian kami membersihkan diri & kulihat jam telah menunjukkan pukul 05:00 dini hari. Sambil berpelukan, kami pun terlelap bersama.

Setiap kali ada kesempatan kami melakukan hubungan seperti suami istri , sampai akhirnya widya kembali ke pacarnya lagi, setahun selanjutnya saya mendengar kalau dia sudah di persuntuing oleh ke kasihnya , tapi kalau di ingat ingat kembali saya sering senyum senyum mendapati pengalaman sex pertamaku dengan cewek.

Post Terkait